
Digo kini telah keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan yang hanya memakai handuk untuk menutupi aset berharganya itu sedangkan di bagian atas tubuhnya ia biarkan terbuka begitu saja. Toh Sheilla juga sudah melihat dada bidangnya dan perut kotak-kotaknya itu. Tapi ngomong-ngomong tentang Sheilla, dimana perempuan itu sekarang berada. Kenapa saat Digo keluar dari kamar mandi, ia tak melihat keberadaan perempuan itu di dalam kamar mereka? Dan hal tersebut membuat Digo berdecak sebal. Padahal niatnya tadi akan mengerjai Sheilla kembali tapi sayang, belum juga dia melakukan idenya itu, perempuan yang sudah ia hak patenkan menjadi miliknya alias kekasihnya itu tidak ada di ruangan yang sama dengannya saat ini.
"Sepertinya kunci yang aku berikan tadi pagi akan aku ambil kembali. Biar dia tidak akan bisa kemana-mana tanpa seizinku," ucap Digo sembari memilih baju gantinya di dalam walk in closed. Dan setelah menemukan baju santai dan celana jeans selutut, ia dengan cepat memakai pakaian itu lalu setelahnya ia bergegas keluar dari dalam kamarnya.
Tapi baru saja ia melangkahkan kakinya keluar, suara kaki seseorang yang tengah berlari kearahnya terdengar dan belum sempat dirinya menolehkan kepalanya untuk melihat siapa pemilik suara kaki itu, sepasang tangan sudah melingkar di pinggangnya dengan menjadikan punggungnya sebagai sandaran seseorang di belakangnya.
Digo tersenyum, ia kira jika orang yang tengah memeluknya itu adalah Sheilla. Tapi saat ia menundukkan kepalanya, melihat tangan orang tersebut dan mendengar isakan dari seseorang di belakangnya itu, seketika senyum yang terbit dari bibirnya hilang digantikan dengan wajah datar dan dinginnya. Dan karena ia tak ingin menjadikan tubuhnya sebagai sandaran seseorang yang tidak pantas untuknya, dengan kasar Digo menyentak tangan yang melingkar di pinggangnya itu hingga terlepas. Lalu setelahnya ia memutar tubuhnya menghadap kearah orang tersebut dengan dorongan kuat hingga membuat orang itu yang tak lain adalah Vina terjatuh keatas lantai.
"Digo!" teriak Vina terkejut atas perlakuan Digo kepada dirinya.
Sedangkan Digo, ia menatap tajam kearah Vina sebelum dirinya angkat suara, "Jaga batasan anda!"
Dan setelah mengucapkan hal tersebut Digo melanjutkan langkahnya tadi yang sempat tertunda. Meninggalkan Vina yang tengah menjerit memanggil namanya.
"Tidak seharusnya kamu memperlakukanku seperti ini Digo! Aku tengah bersedih karena baru saja kehilangan Petra! Seharusnya kamu mencoba menenangkanku dengan memberikan sedikit perhatianmu kepadaku. Bukan malah mendorongku seperti tadi! Aku disini tidak memiliki siapapun selain kamu, Digo! Aku tidak mengenal siapapun disini selain kamu! Jadi coba mengertilah! Jika aku sekarang tengah membutuhkan seseorang yang akan menjadi tempat menumpahkan semua keluh kesahku! Dan hanya kamu lah yang pantas menjadi tempat bersandar untukku! Digo!" teriak Vina dengan air mata buayanya itu sembari berusaha untuk berdiri dari posisi terjatuh tadi. Ia tak bohong jika dorongan dari Digo tadi membuat pantatnya terasa sangat sakit karena membentur lantai cukup keras. Namun ia tak boleh lemah, hingga setelah dirinya berhasil bangkit, Vina langsung berlari menuju Digo. Tapi sayangnya, laki-laki itu lebih dulu masuk kedalam lift dan pintu lift itu sudah lebih dulu tertutup. Dan hal tersebut membuat Vina berdecak. Dan karena ia tak bisa menunggu lama, perempuan itu memilih untuk menuruni puluhan anak tangga di mansion tersebut untuk menyusul Digo.
Sedangkan Digo yang sudah lebih dulu sampai di lantai utama mansion tersebut, ia kembali melangkahkan kakinya hingga ia bertemu dengan Monik yang kebetulan berpapasan dengannya.
__ADS_1
"Monik," panggil Digo yang membuat Monik menghentikan langkahnya lalu menolehkan kepalanya kearah Digo.
"Ya tuan ada apa?" tanya Monik sembari mendekati Digo.
"Kamu tau dimana Sheilla?" tanya Digo saat Monik sudah berdiri di depannya.
"Ohhh Sheilla. Dia ada di dapur tuan. Tadi saya lihat dia baru membuat sup jagung," jawab Monik.
"Baik. Terimakasih, kamu boleh lanjut bekerja," ujar Digo yang diangguki oleh Monik. Lalu setelah mengetahui keberadaan Sheilla dimana, Digo bergegas menuju kearah dapur. Dan benar saja saat dirinya sampai di ambang pintu ruangan tersebut, ia biasa melihat Sheilla yang tengah memasak dan bik Nah yang sepertinya hanya menemani Sheilla saja dengan sesekali mereka terlihat mengontrol.
Digo yang penasaran dengan topik pembicaraan dari dua orang itu pun ia memelankan langkah kakinya supaya mereka tak sadar akan keberadaan dirinya disekitar mereka dan ia segara berbunyi di tembok pembatas antara ruang makan dan ruang dapur. Tapi sayangnya tanpa Digo ketahui, ternyata bik Nah diam-diam sudah mengetahui keberadaannya dan apa yang dilakukan oleh Digo itu membuat wanita paruh baya itu mati-matian menahan tawanya.
"She," panggil bik Nah yang membuat Sheilla kini menolehkan kepalanya.
"Iya bik? Kenapa?" tanya Sheilla.
"Bibik mau ngomong penting sama kamu," ucap bik Nah sembari melirik kearah Digo yang tampak tengah ketar-ketir takut jika apa yang di bicarakan bik Nah dengan dirinya waktu itu terjadi juga.
__ADS_1
"Ngomong apa bik?" tanya Sheilla penasaran.
"Jadi begini. Kamu tau kan kalau kita ini dari negara yang sama yaitu Indonesia?" Sheilla menganggukkan kepalanya.
"Kamu juga tau kan kalau bibik punya anak dua satu perempuan dan satu laki-laki?" Lagi-lagi Sheilla menganggukkan kepalanya.
"Nahhh, yang perempuan kan sudah menikah dan yang laki-laki belum. Bagaimana kalau kamu bibik kenalkan sama anak bibik yang laki-laki itu. Siapa tau---" belum sempat bik Nah menyelesaikan ucapannya, suara bariton Digo memutusnya.
"Tidak. Saya tidak memberikan izin kepada Sheilla untuk berkenalan sama putra bibik!" ucap Digo yang sudah muncul dari tempat persembunyiannya tadi. Dan hal tersebut membuat Sheilla tampak terkejut. Sedangkan bik Nah, ia mengulum senyumnya. Sebelum dirinya berdehem untuk menormalkan ekspresi wajahnya saat ini.
"Lah memangnya kenapa?" tanya bik Nah.
Digo melangkahkan kakinya mendekati dua perempuan itu lalu saat dirinya berada di dekat Sheilla, tangannya langsung memeluk pinggang Sheilla dengan posesif dan hal tersebut membuat bik Nah yang melihat mengerutkan keningnya.
"Pokoknya sampai kapanpun dia tidak akan pernah saya izinkan untuk berkenalan dengan laki-laki manapun termasuk putra dari bibik sendiri," ujar Digo.
"Ishhhh kenapa kamu main melarang Sheilla untuk berkenalan dengan laki-laki manapun? Memangnya kamu siapanya Sheilla? Kamu dan Sheilla hanya sebatas atasan dan maid saja, bukan? Jadi apa hak kamu melarang Sheilla untuk berkenalan dengan laki-laki manapun? Dan ayolah tuan, umur Sheilla juga sudah 28 tahun. Tidak mungkinkan dia akan terus menjomblo seperti saat ini. Iya kan She?" Sheilla mengerjabkan matanya lalu dengan cepat ia menganggukkan kepalanya. Dan hal tersebut membuat Digo memelototkan matanya kearah Sheilla.
__ADS_1
...****************...
Terimakasih untuk 60 likenya sebelum jam 12 siang ini. Kalian emang paling the best deh. Sayang kalian banyak-banyak pokoknya 🤗 Oh ya eps ini kalau bisa 65 like sebelum jam 6 sore ya. Jangan lupa kasih VOTE, HADIAH, KOMEN dan SHARE cerita ini ke teman-teman kalian ya. See you next eps bye 👋