
Setelah makan bersama tadi, Sheilla dan Digo memutuskan untuk pulang ke rumah nenek Sheilla dengan alasan mereka tidak bisa meninggalkan nenek terlalu lama dirumah sendirian karena yang pasti wanita tua itu akan berpikir yang tidak-tidak kepada mereka nantinya.
Dan seperti yang dikatakan oleh Digo, hanya menempuh waktu 10 menit saja mobil yang Digo kendarai saat ini telah sampai di rumah nenek Sheilla.
Dimana terparkirnya mobil itu membuat Digo dan Sheilla bergegas untuk keluar dari mobil tersebut dan dengan langkah kaki yang beriringan, keduanya mulai masuk kedalam rumah yang tampak sepi itu karena sekarang pukul 12 siang yang berarti waktunya untuk istirahat bagi para pekerja di rumah tersebut.
"Nenek dimana ya?" tanya Sheilla kala ia tak melihat sang nenek di ruang tamu rumah tersebut.
"Ini sudah pukul 12 siang sayang. Nenek pasti sekarang tengah istirahat. Dan untuk memastikannya lebih baik kamu ke kamar nenek dulu sana. Tapi aku ke kamar dulu tidak apa-apa kan. Tiba-tiba kepalaku pusing soalnya," ujar Digo tak bohong sama sekali. Ia benar-benar sangat pusing kala ia harus berpikir keras tentang masalahnya yang belum juga mendapatkan titik terang sedikitpun.
"Lho ehhhh kamu sakit?" tanya Sheilla dengan meletakkan punggung tangannya ke kening sang kekasih itu yang terasa suhu tubuh Digo tidak normal alias panas.
"Ya ampun Dear, kening kamu panas sekali. Ya sudah kalau gitu kamu ke kamar dulu. Nanti kalau aku sudah memeriksa nenek di kamarnya. Aku akan menyusulmu," ujar Sheilla yang diangguki oleh Digo sebelum laki-laki tersebut mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Sheilla.
"Aku ke kamar dulu," ucap Digo setelah ia mengecup Sheilla. Dan ucapan dari Digo itu dibalas dengan anggukan kepala oleh Sheilla.
Dan setelahnya barulah Digo kini melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya dengan sesekali memijit pangkal hidungnya itu.
Dimana semua gerakan tangannya tadi tak lepas dari pandangan Sheilla yang melihat kepergiannya sampai pintu kamar mereka berdua di tutup oleh Digo.
__ADS_1
"Kasihan sekali kesayanganku itu. Dia pasti sangat-sangat capek karena tidak bisa istirahat secara maksimal dan hal itu menyebabkan dia sakit seperti ini. Huh maafkan aku sayang yang hanya bisa menyusahkanmu. Karena harusnya kamu sampai disini langsung istirahat, kamu justru membantuku memecahkan masalah nenek. Ya Tuhan, entah kebaikan apa yang aku lakukan dulu, sampai engkau mengirimkanku seorang kekasih yang mau mengorbankan apa saja bahkan kesehatannya sendiri untukku. Aku benar-benar sangat bersyukur dan jika boleh aku meminta satu hal kepada engkau, Tuhan. Jangan biarkan kita berpisah, satukan kita sampai maut memisahkan. Aamiin," gumam Sheilla dengan menengadahkan kepalanya sebelum ia menegakkan kembali kepalanya itu setelah kata aamiin keluar dari bibirnya.
Dan setelahnya barulah ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamar sang nenek.
Saat Sheilla tengah sibuk untuk memeriksa neneknya, Digo yang sudah berada didalam kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang di kamarnya tersebut dengan helaan nafas sembari memejamkan matanya.
Ia butuh ketenangan sekarang. Agar dirinya tak terus menerus menebak-nebak dan memikirkan tentang apa yang baru saja ia temukan di rumah Bian itu. Tapi sayangnya niatannya itu tak sejalan dengan pikirannya yang tida-tiba saja ia mengingat akan sesuatu yang berhubungan dengan tatto milik Bian tadi.
Hingga hal tersebut membuat Digo kini sampai mendudukkan tubuhnya kembali.
"Tunggu sebentar. Sepertinya aku tau gambar yang sama dengan gambar yang ada di tatto Uncle Bian itu. Dan gambar itu sama dengan gambar yang aku temukan di salah satu senjata orang yang membebaskan Yoga waktu itu. Tapi aku harus memastikannya sekarang juga. Takutnya tebakanku ini salah," ucap Digo dengan tangan yang kini bergerak untuk mengambil ponselnya. Dan dengan cepat ia mencari nomor Henry untuk ia hubungi.
📞 : "Halo, ada apa?" tanya Henry dari seberang.
"Kamu punya foto lambang yang pernah kita dapatkan di pistol saat Yoga kabur waktu itu?" tanya Digo.
📞 : "Tidak. Aku tidak mempunyai foto lambang itu. Memangnya kenapa?" tanya Henry penasaran.
"Saya membutuhkan foto lambang itu secepatnya."
__ADS_1
📞 : "Memangnya untuk apa kamu menginginkan foto lambang itu?" Tanya Henry kembali yang tak bisa menahan rasa keponya itu.
"Jangan banyak tanya Henry. Jika kamu membawa pistol itu bersamamu disana lebih baik segera foto dan kirim ke saya sekarang juga. Karena yang terakhir kali membawa senjata itu adalah kamu," ujar Digo.
📞 : "Tapi aku sekarang tidak membawa senjata itu. Senjata itu aku taruh di mansion."
Digo tampak menghela nafas panjang. Kepalanya yang tadinya sudah pusing semakin pusing saja sekarang.
"Suruh Monik untuk mencari pistol tersebut dan memfotokannya untukku. Dan saat dia sudah memfotonya, suruh dia kirim foto itu ke kamu dan baru kamu nanti kirim foto itu ke saya."
📞 : "Lahhhh kenapa kamu ribet sekali. Kamu punya kontaknya Monik di ponselmu. Harusnya kamu memerintahkan secara langsung ke dia bukan lewat aku," ucap Henry tak habis pikir dengan sahabatnya itu. Padahal dia meminta langsung ke Monik akan lebih mudah dan gampang tidak harus ribet lewat ini lewat itu yang akan memakan waktu berharganya itu.
"Saya tidak akan membuat Sheilla salah paham kepada saya saat saya menghubungi Monik nanti. Dan untuk kesejahteraan hubungan saya dengan Sheilla. Lebih baik kamu segera melakukan apa yang saya perintahkan tadi. Saya tunggu!" ucap Digo. Dan tanpa menunggu persetujuan lagi dari sahabatnya itu, Digo lebih dulu memutus sambungan telepon tersebut.
Dan hal itu membuat Henry yang berada di negeri kincir angin itu berdecak sebal.
"Ya kali Sheilla akan salah paham sama Monik. Kalau pun salah paham apa dia tidak membaca isi pesan atau gambar yang di kirimkan oleh Monik di ponsel dia? Jika Sheilla memeriksa ponselnya nanti yang otomatis sudah sangat jelas jika tidak ada apa-apa antara mereka berdua. Tapi kenapa tuh orang pikirannya sudah sangat jauh saja. Toh aku lihat-lihat Sheilla bukan tipe orang yang pencemburu kecuali dia sudah mendapatkan bukti yang nyata tentang perempuan yang memiliki bibir pelakor dan Al yang tertarik dengan perempuan lain. Kalau dia mendapatkan bukti yang abal-abal saja, dia masih akan tetap percaya sama Al. Dan yang lebih posesif aku lihat-lihat malah Al sendiri sampai semua anak buahnya harus menundukkan kepala saat melihat Sheilla. Huh dasar bucin," gerutu Henry kesal sendiri.
Namun tak urung tangannya kini bergerak untuk mencari nomor ponsel milik Monik untuk ia hubungi saat ini juga untuk memenuhi perintah dari bosnya sekaligus sahabatnya itu.
__ADS_1