
Keempat orang yang berada didalam kamar tersebut tampak saling pandang satu sama lain saat tak mendengar suara lagi dari sebrang sana. Mereka juga tengah khawatir, takut jika laki-laki yang tengah bercakap dengan mereka tadi curiga dengan mereka.
"Gimana ini?" tanya Sheilla dengan suara lirihnya bahkan ponsel yang berada ditangannya tadi ia jauhkan dari mereka berempat, agar orang di sebrang tak mendengar ucapan mereka.
"Kamu bicara saja lagi coba. Siapa tau dia tengah ngalamun disana," ujar Henry yang diangguki oleh Sheilla. Dimana setelahnya Sheilla mendekatkan ponsel tadi kembali ke tengah-tengah mereka berempat sebelum Sheilla berucap, "Halo, apakah telepon ini masih tersambung?"
Ucapan dari Sheilla tadi berhasil membuat laki-laki di sebrang yang memang tengah melamun memikirkan apakah benar yang tengah berucap kepadanya ini adalah istri dari Bomi itu kini tersadar dari lamunannya tersebut.
📞 : "Ahhh ya. Telepon ini masih tersambung. Kamu benar istri Bomi?" tanya laki-laki tadi untuk mastikan jika memang benar perempuan tersebut istri dari anak buahnya.
"Iya benar. Saya istrinya Bomi. Tapi ini dengan siapa ya?"
📞 : "Kalau kamu memang benar istri Bomi, siapa nama kamu?" tanyanya karena ia sangat tau siapa nama istri dari anak buahnya tersebut karena Bomi sering bercerita kepadanya.
Sheilla terdiam dengan tatapan matanya yang melihat kearah ke-tiga orang yang berada di sekitarnya sembari berucap, "Aku harus mengatakan apa?"
Ketiga orang yang tak pernah mengulik informasi mengenai identitas Bomi pun ketiganya menggelengkan kepalanya, tak tau nama istri Bomi.
"Kalian tidak ada yang tau?" Lagi dan lagi ketiganya menggelengkan kepalanya. Dimana hal tersebut membuat Sheilla menepuk keningnya sendiri.
"Kalian ini benar-benar ya. Arkhhhh dasar otak udang kalian semua," ujar Sheilla yang sudah sebal dengan ketiga orang itu yang terlihat seperti orang bodoh.
__ADS_1
"Ahhh sudahlah aku akan menjawab nama yang terlintas didalam otakku saja. Tapi jika nama ini salah maka siap-siaplah kalian untuk berperang dengan dia," ucap Sheilla yang sudah pasrah saja jika mereka akan ketahuan. Lalu setelahnya ia memilih untuk kembali fokus dengan telepon tersebut yang sedari tadi sudah mengeluarkan suara halo yang tentunya suara itu dari laki-laki tersebut.
Sedangkan ketiga orang itu hanya bisa menghela nafas panjang. Digo dan Henry tampak menyesal karena sudah sembarangan memasukkan orang lain di dalam mansion tanpa mengulik identitas mereka secara mendalam.
"Halo, halo. Apa tuan masih disana?" tanya Sheilla lagi berlagak jika sambungan telepon mereka terkadang terputus oleh sinyal.
📞 : "Saya sedari tadi disini. Kamu saja yang menghilang," ujar laki-laki itu yang tampaknya juga sudah kesal sendiri.
"Saya tidak menghilang tuan. Saya sedari tadi juga ada disini. Bahkan saya juga sudah menjawab pertanyaan dari tuan tadi. Lagian saya tadi juga sudah bilang kalau disini susah sekali mencari sinyal," ucap Sheilla mencoba meyakinkan.
📞 : "Baiklah-baiklah terserah kamu. Jadi siapa nama kamu?" tanya laki-laki itu lagi.
Sedangkan ketiga orang lainnya, tubuh mereka tampak menegang sempurna. Takut-takut jika mereka akan ketahuan.
📞 : "Sarah?" ulang laki-laki di sebrang sana.
"Ya. Itu nama saya. Memangnya kenapa ada yang salah?"
📞 : "Tidak, tidak ada yang salah dengan nama Sarah. Hanya saja Bomi selalu menceritakan tentang kamu."
"Menceritakan tentang saya?"
__ADS_1
📞 : "Ya. Ahhh sudahlah itu tidak penting yang terpenting sekarang saya mau berbicara dengan Bomi sekarang," tutur laki-laki tersebut.
"Bomi ya. Dia sudah pergi bekerja lagi setelah tadi kembali kerumah dengan tergesa-gesa. Dia tadi juga meninggalkan rumah dengan membawa satu botol berukuran kecil berwarna putih entah apa isi didalam botol itu saya juga tidak tau. Dan gara-gara botol itu, dia sampai melupakan ponselnya," ujar Sheilla.
Dimana ucapan dari Sheilla tadi membuat laki-laki tersebut tampak tersenyum miring diseberang sana.
"Berarti dia memang sudah beraksi sekarang. Jadi aku tinggal menunggu kabar kemenangan dia mungkin beberapa saat lagi," batin laki-laki tersebut yang sudah tak sabar mendengarkan kabar kematian dari orang yang ia benci.
Dan jika kalian bertanya kenapa laki-laki itu tidak curiga sama sekali dengan nama palsu yang keluar dari bibir Sheilla tadi, karena nama Sarah memang nama istri Bomi. Jadi laki-laki itu tidak perlu curiga lagi dengan seseorang yang tengah berbicara dengannya saat ini. Sungguh kebetulan yang tidak merugikan sama sekali untuk pihak Digo kali ini.
Laki-laki itu tampak berdehem sesaat sebelum dirinya kembali angkat suara.
📞 : "Oh jadi Bomi sekarang sudah tidak ada di rumah?" tanyanya untuk memastikan.
"Ya. Dan bukannya tuan ini adalah bosnya. Harusnya tuan tau dong kalau Bomi sekarang masuk kerja? Jadi kenapa bertanya lagi?"
📞 : "Saya bos kedua Bomi. Lagian Bomi tidak bekerja langsung dengan saya, jadi saya mana tau dia saat ini tengah bekerja," ucapnya.
"Oh begitu ya. Sebenarnya saya tidak paham dengan apa yang telah tuan katakan ini tapi tuan tenang saja nanti saya akan tanya langsung kepada Bomi agar lebih jelas lagi. Tapi tunggu dulu, tuan sedari tadi belum mengatakan nama tuan siapa. Jadi lebih baik tuan sekarang memberitahu nama tuan agar memudahkan saya untuk bertanya kepada Bomi nanti," ujar Sheilla yang membuat laki-laki diseberang sana mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum dirinya mengatakan namanya kepada Sheilla.
📞 : "Raider Zulfikar. Itu nama saya."
__ADS_1