The Dark Love

The Dark Love
116. Tamu Tak Disangka


__ADS_3

Digo berjalan menuju ke ruang tamu dan saat dirinya sudah berada di ruangan tersebut, betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang sudah lama tak ia lihat kini tengah duduk sebelum akhirnya orang itu berdiri ketika melihatnya. Tak hanya itu saja, orang tersebut tersenyum kearahnya.


"Uncle Bian," panggil Digo masih di posisi berdirinya saat ini.


Sedangkan orang tersebut kini berjalan mendekatinya.


"Hay Al, apa kabar?" ucap Bian dengan mengulurkan tangannya kehadapan Digo.


Digo yang tadi masih dalam keterkejutannya itu ia mengerjabkan matanya sebelum ia membalas uluran tangan dari Bian.


"Al baik Uncle. Bagaimana dengan Uncle dan Aunty Franda? Baik-baik saja juga kan?" tanya Digo.


"Kita semua baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu. Duduk dulu Uncle." Bian menganggukkan kepalanya. Lalu setelahnya mereka berdua duduk di sofa ruangan tersebut.


"Maaf, Uncle kesini tidak mengabari kamu dulu," ujar Bian.


"Tidak apa-apa Uncle. Al justru senang Uncle bisa main kesini," ucap Digo yang membuat Bian tersenyum.


"Oh ya, Uncle kesini mau membicarakan tentang proyek baru yang akan Uncle tawarkan ke kamu. Kamu mau kan memegang proyek Uncle ini? Karena kamu satu-satunya orang yang bisa Uncle andalkan dan kamu juga sudah Uncle anggap anak sendiri," kata Bian yang diangguki oleh Digo. Ia tau sejak Yura tiada, Bian dan Franda menganggap dirinya sebagai anaknya sendiri pengganti Yura.


"Kalau begitu boleh Al lihat gambaran proyek baru Uncle dulu?" Bian menganggukkan kepalanya kemudian ia memberikan kode kepada tangan kanannya untuk memberikan berkas-berkas tentang proyek barunya itu kepada Digo yang langsung diterima oleh Digo.


Digo membaca berkas-berkas tersebut dengan teliti sebelum dirinya kini mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baiklah, Al terima untuk menjalankan proyek ini," ucap Digo.


"Syukurlah kalau kamu setuju. Proyek ini juga berada di negara ini, jadi akan memudahkan kamu untuk meninjaunya secara langsung. Dan mulai sekarang Uncle serahkan proyek itu ke kamu sepenuhnya," ujar Bian.

__ADS_1


"Uncle kesini hanya untuk menyerahkan proyek itu saja. Dan berhubung kamu mensetujuinya, Uncle pulang dulu ya." Digo berdiri dari duduknya saat Bian juga sudah berdiri.


"Tidak mau disini lebih lama lagi, Uncle?"


"Maunya sih begitu, tapi Uncle ada urusan lain. Kapan-kapan sebelum Uncle pulang ke Indonesia, Uncle kesini lagi. Jaga diri kamu baik-baik," ujar Bian dengan memeluk tubuh Digo yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri itu.


"Uncle juga jaga diri Uncle baik-baik dan jaga Aunty Franda," ucap Digo membalas pelukan dari laki-laki paruh baya itu.


Dan beberapa saat setelahnya pelukan dari keduanya terlepas.


"Ya sudah kalau begitu, Uncle pergi dulu." Bian menepuk bahu Digo dan saat dirinya ingin beranjak dari hadapan Digo, niatnya terhenti kala ia mendengar rintihan dari seseorang.


"Awsss," ringis orang tersebut yang membuat semua orang yang ada di ruang tamu menolehkan kepalanya kearah sumber suara.


Sedangkan orang yang merintih tadi, ia memperlihatkan cengiran kuda kepada orang-orang yang melihatnya sebelum dirinya kini berdiri dari posisi terjatuhnya tadi.


"Maaf, maaf saya tidak bermaksud mengganggu kalian. Silahkan di lanjutkan lagi," ujar orang tersebut yang tak lain adalah Sheilla. Dan setelah mengucapkan hal tersebut, ia melanjutkan langkahnya menuju ke dapur mansion tersebut dengan sesekali mengelus lututnya yang terasa nyeri. Tapi sebelum dirinya masuk kedalam ruang dapur ia menolehkan kepalanya kearah Digo untuk memberikan kode jika dirinya baik-baik saja dengan gerakan tangannya dan senyum di bibirnya.


Sedangkan Bian, ia ikut tersenyum melihat senyuman Sheilla dan melihat tingkah perempuan itu sebelum dirinya kini menolehkan kepalanya kearah Digo kembali.


"Siapa perempuan itu? Kenapa dia lucu sekali?" tanya Bian.


"Nama dia, Sheilla. Perempuan itu kekasih Al, Uncle," jawab Digo dengan jujur.


Dan ucapan dari Digo itu membuat Bian tampak terkejut.


"Dia kekasih kamu?" tanya Bian memastikan jika ia tak salah dengar.


"Hmmm dan hubungan kita sudah berjalan beberapa bulan belakangan ini. Dan Al minta doanya, supaya hubungan kita berdua baik-baik saja dan berlangsung ke jenjang yang lebih serius lagi," ucap Digo yang membuat Bian tersenyum.

__ADS_1


"Jika kamu memiliki niat baik maka Allah akan mempermudah niat baik kamu itu," ujar Bian.


"Tapi Uncle mau berpesan ke kamu, jangan pernah sakiti kekasihmu itu. Lindungi dia karena banyak orang yang mengincar kamu yang artinya mereka juga tengah mengincar kekasih kamu yang menjadi kelemahanmu selain keluargamu. Pastikan dia dalam keadaan selalu baik-baik saja," sambung Bian.


"Iya Uncle. Al akan selalu melindungi Sheilla walaupun nyawa Al yang menjadi taruhannya." Bian yang mendengar ucapan dari Digo itu ia tersenyum bangga dengan Digo.


"Good. Kalau begitu Uncle pulang dulu."


"Al antar ke depan," ujar Digo yang diangguki oleh Bian. Dan setelahnya tiga orang itu kini berjalan keluar dari mansion tersebut.


Digo mengantar Bian hingga laki-laki paruh baya itu masuk kedalam mobilnya. Dan setelah mobil Bian pergi dari area mansion miliknya, Digo kembali masuk kedalam. Tapi baru saja dirinya memutar tubuhnya, ia dikejutkan dengan kehadiran Sheilla disana.


"Siapa laki-laki paruh baya itu? Kayaknya wajahnya sangat familiar," tanya Sheilla tiba-tiba, tanpa mempedulikan Digo yang kini tengah mengelus dadanya akibat dari keterkejutannya tadi.


"Nama beliau tadi adalah Bian. Ayah mendiang dari Yura dan beliau sudah aku anggap sebagai ayah keduaku. Tapi tunggu, kamu tadi bilang kalau wajah Uncle Bian itu familiar? Apa kamu dengan Uncle Bian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Digo penasaran yang membuat Sheilla tampak berpikir sesaat sebelum dirinya menggelengkan kepalanya.


"Entahlah aku juga tidak ingat pernah bertemu dengan beliau atau tidak," jawab Sheilla yang membuat Digo menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah kalau kamu tidak ingat. Terus kenapa kamu tadi sampai bisa terjatuh seperti itu tadi hmmm?" tanya Digo yang penasaran kenapa sang kekasih bisa jatuh tadi.


"Hehehe masalah itu karena aku tadi tidak sengaja tersandung kakiku sendiri," jawab Sheilla dengan cengirannya.


"Astaga. Ada-ada saja kamu ini. Terus apa yang sakit?"


"Lutut saja sih tapi kalau sekarang sakit yang aku dapatkan dari terjatuh itu sudah tidak aku rasakan lagi alias sudah menghilang. Jadi kamu tenang saja oke. Karena aku sekarang baik-baik saja," ucap Sheilla.


"Kamu yakin kalau kamu baik-baik saja sekarang?" Dengan mantap Sheilla menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah kalau memang kamu baik-baik saja sekarang. Tapi kalau seumpama nanti kamu merasakan sakit lagi, katakan."

__ADS_1


"Iya, Dear. Aku akan mengatakan ke kamu jika aku sakit nanti. Ya sudah, ayo kita masuk karena kamu masih punya hutang untuk melanjutkan ceritamu tentang Yura," ucap Sheilla dengan menarik-narik lengan Digo persis seperti anak kecil.


Sedangkan Digo yang mendapat perlakuan seperti itu dari sang kekasih pun ia tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. Tapi tak urung kakinya kini melangkah mengikuti langkah Sheilla.


__ADS_2