
Di dalam kamar Digo, Sheilla mengerjabkan matanya. Dan bertepatan dengan itu Digo juga baru bangun dari tidurnya.
Senyum Digo terbit saat dirinya menolehkan kepalanya kearah Sheilla yang tengah terbengong di pagi hari seperti ini.
"Selamat pagi, Honey," ucap Digo dengan memberikan kecupan di pipi Sheilla.
Sheilla yang mendapat sapaan dan kecupan itu pun ia hanya diam saja. Tak membalasnya sama sekali. Dan hal tersebut membuat Digo kini mengerutkan keningnya.
"Honey, kamu kenapa hmmmm? Kenapa diam dan melamun seperti ini? Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan dan khawatirkan? Jika ada, coba sini cerita sama aku," ucap Digo dengan memiringkan posisi tidurannya itu agar ia bisa melihat wajah Sheilla sepenuhnya.
"Katakan," ujar Digo lagi sembari membelai pipi Sheilla yang kini akhirnya memiringkan kepalanya menatap wajah Digo dengan air mata yang tiba-tiba menetes begitu saja.
"Maaf," ucap Sheilla yang membuat Digo kini mengerutkan keningnya dengan tangan yang bergerak untuk menghapus air mata Sheilla itu.
"Minta maaf untuk apa?"
"Maaf karena aku tadi malam pasti sudah menyusahkan kamu. Aku minta maaf. Hiks a---aku tidak tau aku ini sebenarnya kenapa hiks. Ini sudah dua kalinya aku merasakan rasa sakit kepala yang sangat hebat. Aku tidak mau merasakannya lagi, Dear. Itu sangat-sangat menyakitkan, hiks," ucap Sheilla dengan sesegukan.
"Tenanglah Honey, aku janji jika tadi malam merupakan yang terakhir rasa sakit itu kamu rasakan. Jadi kamu tenang saja oke," ujar Digo sembari memeluk tubuh Sheilla memberikan ketenangan untuk kekasihnya itu.
"Tapi jika boleh aku tau kenapa kamu bisa sakit seperti ini hmmmm? Perasaan tadi malam sebelum aku masuk kedalam kamar mandi kamu baik-baik saja," tanya Digo yang benar-benar penasaran apa penyebab Sheilla kesakitan itu sekaligus untuk membuktikan jika tebakan Diana mengenai amnesia itu benar-benar terjadi pada kekasihnya itu.
"Aku juga tidak tau kenapa. Tiba-tiba rasa sakit itu datang begitu saja," ujar Sheilla dengan mengusap air matanya sendiri.
__ADS_1
"Begitu ya. Hmmmm tapi Honey apakah sebelumnya kamu memiliki trauma dengan sesuatu?" tanya Digo yang membuat Sheilla terdiam.
"Aku rasa aku tidak memiliki trauma," ujar Sheilla yang sudah berhenti menangis.
"Benarkah? Kamu tidak memiliki trauma apapun? Atau fobia akan sesuatu?" Sheilla menggelengkan kepalanya untuk menjawab semua pertanyaan yang dilayangkan oleh Digo tadi.
"Jika begitu, hasil pemeriksaan Diana waktu kamu pingsan di depan pintu itu salah besar," ujar Digo yang kini membuat Sheilla mengerutkan keningnya.
"Memangnya dokter Diana mengatakan apa saat itu?" tanya Sheilla yang sebenarnya penasaran ada apa dengan dirinya itu.
"Dia bilang kalau kamu memiliki trauma," jawab Digo.
"Tapi aku juga penasaran kenapa saat itu kamu tiba-tiba pingsan. Tidak mungkin kan kalau kamu pingsan hanya karena aku membentak kamu waktu itu?" Sheilla menggelengkan kepalanya. Karena memang bukan karena itu ia pingsan melainkan...
"Kalau begitu kamu memiliki trauma atau fobia darah," ujar Digo yang langsung di balas dengan gelengan kepala oleh Sheilla.
"Tidak. Aku tidak fobia dengan darah, Dear. Kalau aku memiliki fobia darah tidak mungkin aku dulu membunuh beberapa orang dengan tanganku sendiri," tutur Sheilla.
"Benar juga apa yang kamu katakan itu. Kalau kamu punya fobia itu tidak mungkin kamu membunuh orang. Kalau begitu apa penyakit kamu sebenarnya?" Sheilla menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu Dear. Kalau aku tahu, aku pasti sudah menyetok obat-obatan tentang penyakitku itu. Ahhhh dan aku mau cerita sama kamu tentang penyebab rasa sakitku tadi malam. Sebelum kamu pergi ke kamar mandi, aku lihat luka di lengan kamu dan setelah lihat luka itu aku langsung sakit kepala hebat dengan seklibat bayangan yang sangat mengerikan." Digo tampak terdiam, sepetinya tentang tebakan Diana tadi malam benar jika Sheilla mengalami yang namanya amnesia.
"Honey, kamu mau kan tau penyakitmu itu dan kamu juga mau kan kalau rasa sakit itu benar-benar hilang?" Sheilla menganggukkan kepalanya. Siapa juga yang mau mempertahankan rasa sakit yang benar-benar sangat menyiksa itu? Jika ada, berarti orang itu gila.
__ADS_1
"Kalau kamu mau kita besok coba periksa ke rumah sakit ya. Mungkin saat di rumah sakit nanti kamu disuruh untuk melakukan terapi. Tapi tenang saja selama terapi itu aku akan selalu berada di samping kamu. Menemani kamu sampai sembuh. Gimana, kamu mau kan?" tanya Digo memastikan.
"Terapi itu sakit tidak?" tanya Sheilla takut-takut.
"Hmmmm entahlah aku pun juga tidak tau. Tapi mau itu sakit atau tidak, kamu harus tetap semangat untuk sembuh dan yang terpenting aku akan tetap ada di sampingmu," ujar Digo.
"Jadi gimana kamu mau kan?" Sheilla tampak berpikir sejenak sebelum dirinya kini menganggukkan kepala setuju dengan apa yang disarankan oleh Digo itu. Dan hal tersebut membuat Digo kini menghela nafas lega.
"Kalau begitu, kamu sekarang pergi mandi sana. Aku mau telepon Diana dulu untuk mencarikan dokter khusus untuk membantu kamu sembuh dari sakit kamu itu," ucap Digo yang diangguki patuh oleh Sheilla.
Dan sebelum Sheilla beranjak dari atas ranjang tersebut, perempuan itu menyempatkan dirinya untuk mencium pipi Digo.
"Aku tadi belum menjawab sapaan kamu. Selamat pagi juga Dear," ucap Sheilla membalas sapaan Digo tadi sebelum akhirnya ia bergegas turun dari ranjang tersebut dan segera berlari menuju ke arah kamar mandi.
Dan hal tersebut membuat Digo tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Lalu setelahnya ia kini bangkit dari posisi rebahannya itu kemudian ia meraih ponselnya untuk menghubungi Diana.
📞 : "Halo. Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan Sheilla?" tanya Diana dari sebrang saat sambungan telepon tersebut terhubung.
"Tidak, Sheilla baik-baik saja sekarang. Saya menghubungi kamu untuk memberitahu jika Sheilla setuju untuk melakukan terapi itu. Dan mulai besok kita akan ke rumah sakit. Jadi carikan dokter profesional untuk menangani dan membantu terapi Sheilla. Dia mau bayaran setinggi apapun saya menyetujuinya jika dia benar-benar sanggup untuk menyembuhkan Sheilla," ujar Digo.
📞 : "Baiklah saya akan mencarikan dokter profesional untuk menangani Sheilla," ucap Diana mensetujui apa yang diperintahkan Digo tadi.
"Baiklah kalau begitu. Saya tunggu berita baiknya. Dan segera hubungi saya jika kamu sudah mendapatkan dokter itu," ujar Digo sebelum sambungan telepon tersebut Digo putus setelah mendengar kata iya dari Diana tadi.
__ADS_1