The Dark Love

The Dark Love
229. Mengikuti Permainan Bomi


__ADS_3

Sedangkan di belakang ketiga orang itu, Digo menatap tajam kearah Rivan yang masih berdiri didepannya dengan salah satu tangannya yang kini bergerak merogoh saku celananya. Digo tak angkat suara sama sekali sampai tangan Rivan terulur dengan sebuah botol ditangannya. Dimana hal tersebut membuat Digo mengerutkan keningnya.


Rivan yang paham kenapa bosnya itu justru melihat saja tanpa mau menerima botol itu, Rivan kini angkat suara.


"Saya tidak tau botol ini itu apa, yang jelas saya tadi sempat melihat Bomi memasukkan isi didalam botol ini kedalam dua minuman yang masih di nampan ini dan dua yang sudah tuan dan nyonya pegang. Jadi lebih baik tuan memeriksanya botol apa yang tengah ada di genggaman saya ini. Karena kalau saya memeriksanya terlebih dahulu, takutnya Bomi akan curiga dan berakhir dia kabur sebelum kita tau akal bulus apa yang tengah dia ingin lakukan ke tuan dan nyonya," ucap Rivan.


Digo kini menatap kearah botol itu lalu ke arah wajah Rivan yang tampaknya laki-laki itu tengah gelisah pasalnya terlihat dari matanya, sedari tadi tak bisa diam. Mata yang sedikit sipit itu terus menatap ke sekeliling, seakan-akan memastikan jika Bomi benar-benar tidak melihat aksinya itu. Dia bukan takut ketahuan, tapi dia lebih takut jika Bomi akan melarikan diri atau nekat melakukan hal berbahaya contohnya seperti menembak secara membabi-buta sebelum dirinya dan yang lainnya yang berada di pihak bosnya karena ia tak tau apakah masih ada penghianat yang ikut Bomi atau tidak sudah siap dengan serangan mendadak itu. Yang tentunya serangan itu bisa membuat banyak orang rugi termasuk para tamu undangan yang tidak tahu duduk masalahnya itu apa.


Tangan Digo kini bergerak untuk mengambil botol tersebut dari tangan Rivan dan tanpa ia periksa lebih dahulu, ia langsung memasukkan botol itu di salah satu saku tuxedo yang tengah ia kenakan.


Rivan yang merasakan tangan Digo sudah mengambil botol tersebut pun ia segera menatap kembali bosnya itu yang masih memperlihatkan wajah datarnya namun masih ada raut wajah khawatir dan waspada.


"Tuan, hanya itu saja informasi yang akan saya sampaikan. Selebihnya akan saya sampaikan lewat pesan saja. Saya permisi terlebih dahulu tuan. Dan saya harap jangan ada yang meminum minuman ini," ujar Rivan yang diangguki oleh Digo.


Rivan tampak membungkukkan tubuhnya dihadapan Digo sebelum dirinya memutar tubuhnya lalu mendekati Sheilla yang disana baru ia sadari jika ada Henry dan Monik.


Tatapan Rivan sempat bersitatap dengan Monik yang menyapanya dengan senyuman di bibirnya. Dimana hal tersebut membuat hati Rivan semakin teriris saja. Tapi Rivan tetap saja membalas senyuman tersebut sebelum dirinya menundukkan kepalanya lalu mendekati Monik serta Henry yang ternyata bos keduanya itu tengah menatap tajam dirinya.

__ADS_1


"Maaf mengganggu waktu tuan dan nyonya. Ini minuman saya berikan ke tuan dan nyonya. Saya harap tuan dan nyonya tidak meminum minuman ini," ucap Rivan yang membuat Henry kini mengerutkan keningnya. Ada apa sebenarnya? Bukannya minuman ini Rivan sendiri yang mengantar bahkan memberikannya kepada mereka berdua? Tapi kenapa laki-laki itu juga yang melarang mereka untuk meminum minuman tersebut? Kalau memang Rivan tidak memperbolehkan mereka berdua minum, lebih baik dia tidak memberikannya kepada mereka atau kalau tidak mereka tidak perlu mengambilnya pun juga tidak masalah bukan? Haishhh Rivan ini sangat aneh sekali, batin sepasang pengantin baru itu. Ia memang sudah di beritahu oleh Sheilla jika Rivan tadi sempat berbicara empat mata kepada Digo untuk membahas masalah si penghianat itu. Tapikan keduanya tidak tau jika didalam minuman itu terdapat sesuatu yang membahayakan nyawa mereka. Jadi tidak heran jika keduanya tengah bertanya-tanya sekarang.


Sheilla yang melihat keterbingungan dari dua manusia di sampingnya, ia menyenggol lengan Monik yang kebetulan berada di tengah-tengah dirinya dan Henry. Dan setelah Monik menatapnya Sheilla memberikan kode kepada Monik untuk mengambil minuman tersebut.


Saat Monik ingin berucap kepada Sheilla lebih tepatnya untuk protes karena Rivan saja melarang dirinya untuk minum minuman itu jadi tidak ada masalah kalau dirinya tidak mengambil. Tapi niatnya tadi ia urungkan kala suara Digo lebih dulu masuk kedalam indra pendengarannya keempat orang tersebut.


"Sudah ambil saja," ucap Digo.


Henry dan Monik dengan serempak menolehkan kepalanya kearah Digo yang berdiri disamping Sheilla.


"Tapi---" Digo menganggukkan kepalanya kala Henry ingin protes. Dimana anggukan kepala itu seolah-olah berkata jika Digo menuntut mereka berdua segera mengambil minuman tersebut.


Tampak kepergian dari Rivan tadi langsung membuat Henry kini angkat suara.


"Al, kamu apaan sih? Rivan saja melarang kita minum minuman ini tapi kenapa kamu malah menyuruh kita untuk mengambil minuman ini? Apa kamu tidak sadar ada hal aneh dari ucapan Rivan tadi, yang seolah-olah di ucapannya itu mengandung sebuah kode jika minuman ini ada sesuatu didalamnya?" Digo memutar bola matanya malas.


"Aku hanya mengatakan untuk mengambil minuman itu bukan berarti aku menyuruh kalian untuk meminumnya. Tapi kalau kalian berdua ingin mati, silahkan diminum," ucap Digo kelewat santai.

__ADS_1


Henry maupun Monik membelalakkan matanya. Ya kali mereka ingin bunuh diri disaat hari bahagia mereka?


"Gila kamu. Gak sudi aku minum minuman ini. Tapi tunggu dulu, kamu tau minuman ini ada sesuatunya? Maksudnya bukan hanya menebak-nebak seperti yang aku tadi lakukan, karena mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Rivan. Tapi kamu benar-benar tau dan ada buktinya?" tanya Henry penasaran.


Digo menganggukkan kepalanya.


"Hmmm, aku tau minuman ini ada sesuatu didalamnya dan aku tau karena Rivan memberitahuku dengan bukti yang dia punya. Dan tanpa aku katakan siapa dalang di balik ini semua, kalian pasti sudah menebaknya."


"Orang yang mencampurkan minuman ini dengan sesuatu, Bomi bukan?" tanya Monik yang diangguki oleh Digo.


"Ya, orang itu adalah Bomi dan tanpa kita tau dia tengah sembunyi dimana saat ini, yang jelas dia sekarang tengah mengawasi kita berempat. Jadi untuk membahagiakan dia terlebih dahulu, kita mengikuti permainan dia," ujar Digo.


Sheilla yang mendengar perkataan dari Digo pun jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari sebelumnya dengan prasangka buruk yang tiba-tiba hinggap di hatinya. Jangan sampai Digo berbuat nekat.


Sedangkan Monik dan Henry, mereka saling pandang satu sama lain sebelum Henry kini angkat suara kembali, "Maksud kamu mengikuti permainan dia?"


"Kalian mau tau?" tanya Digo dengan senyum miringnya. Dimana senyuman itu justru membuat ketiganya bergidik ngeri namun tak urung mereka menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau begitu mendekatlah," ucap Digo yang langsung di jalankan oleh ketiga orang tersebut yang saat ini merapatkan barisan mereka, hanya merapatkan barisan saja bukan sampai membuat lingkaran kecil. Sedangkan Digo, ia justru merubah posisi berdiri yang tadi berada disamping sang istri kini berdiri didepan ketiga orang tersebut dengan membelakangi mereka sebelum dirinya mengatakan maksud dari perkataannya tadi.


__ADS_2