The Dark Love

The Dark Love
37. Kalang Kabut


__ADS_3

Digo berlari kecil kearah kamar pribadinya. Ia membuka pintu kamar itu dengan cukup kasar. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan di kamar tersebut.


"Sheilla!" panggil Digo namun tak ada jawaban dari seseorang yang ia panggil tadi. Digo tak tinggal diam, ia melangkahkan kakinya menelusuri setiap ruangan didalam kamar tersebut mulai dari kamar mandi, walk in closed dan balkon. Tapi sayangnya setelah ia mengitari setiap sudut ruangan tersebut, ia tak menemukan keberadaan Sheilla.


"Kemana dia bukankah aku suruh dia kembali ke kamar?" gumam Digo dengan perasaan yang tiba-tiba khawatir. Rasa penyesalan karena ia tadi menggunakan nada tinggi dengan perempuan itu menjalar di dadanya.


"Sheilla!" panggilnya lagi sembari keluar dari dalam kamarnya dan bergegas menuju ke lantai satu rumah tersebut.


Sedangkan Sheilla, perempuan yang tengah Digo cari kini tengah merenung di sebuah gazebo tepat disamping kolam renang. Air mata yang terus menetes di pipinya dengan cepat ia hapus. Ia sangat benci dirinya sendiri karena telah menaruh harapan lebih kepada seseorang yang belum tentu menaruh perasaan sama seperti dirinya.


"Kenapa kamu harus jatuh kedalam pesona dia, Sheilla. Bukannya kamu selalu membangun benteng diantara kamu dan dia agar kamu tidak terjerumus kedalam pesonanya? Tapi kemana benteng pertahananmu itu sekarang? Kemana Sheilla!" geram Sheilla tertahan. Ia sangat benci perasaannya saat ini.


"Ya Tuhan sakit. Sangat sakit sekali," gumamnya sembari memukul-mukul dadanya sendiri.


Disisi lain, Digo yang telah kelelahan mengitari lantai satu di rumahnya tapi tak jua menemukan keberadaan Sheilla, ia mengacak rambutnya frustasi.


"Apa dia kabur dari rumah ini?" batin Digo namun setelah ia mengucapkan hal tersebut ia langsung menggelengkan kepala.


"Tidak. Tidak mungkin dia bisa melewati penjaga di rumah ini," gumamnya.


"Apa jangan-jangan dia sudah tau jika Yoga ada disini?" Digo tampak terdiam.


"Arkhhhh sial," erangnya. Lalu setelahnya ia bergegas menuju ruang bawah tanah. Ia berpikir jika Sheilla sekarang tengah pergi ke sana untuk menemui mantan bosnya itu. Jika sampai itu terjadi jangan harap Sheilla bisa bebas dari hukumannya.


Dan saat Digo berdiri di depan pintu ruangan yang isinya terdapat Yoga didalam, ia langsung membuka pintu itu dengan kasar, membuat seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu langsung mengarahkan pandangannya kearah Digo berada.

__ADS_1


Digo tak memperdulikan tatapan penuh tanya dari para anak buahnya karena ia tengah disibukkan untuk melihat keseluruhan ruangan yang ia injak saat ini. Namun sayangnya ia tak menemukan juga keberadaan Sheilla disana. Ia hanya melihat beberapa anak buahnya dan juga Yoga saja. Digo berdecak sebelum dirinya kembali menutup, lebih tepatnya membanting pintu ruangan tersebut hingga membuat seluruh anak buahnya saling pandang satu sama lain.


"Bos kenapa?" tanya salah satu anak buah Digo kepada temannya dan pertanyaannya itu hanya di jawab gedikkan bahu saja.


Kembali ke Digo yang kini berlari kecil menuju ke lantai satu di rumahnya. Dan tujuannya sekarang menuju ke para anak buahnya yang tengah berdiri menjaga pintu utama.


Saat dua anak buahnya itu melihat kedatangan Digo, mereka langsung membungkukkan tubuhnya.


"Se---" Belum sempat kedua laki-laki itu memberikan sapaan kepada Digo, Digo sudah lebih dulu memutusnya.


"Bantu saya cari Sheilla hingga ketemu!" perintah Digo tak terbantahkan dan tanpa menunggu persetujuan dari dua laki-laki tersebut, Digo kembali melangkahkan kakinya dengan memijit pangkal hidungnya.


Dan tujuan terakhirnya kali ini hanya ada di rumahnya bagian belakang dimana terdapat kolam renang disana.


"Tuan mencari Sheilla?" tanya wanita paruh baya itu yang tak lain adalah bik Nah.


"Bik Nah tau dia sekarang ada dimana?" bukannya menjawab Digo justru kembali bertanya. Bik Nah menganggukkan kepalanya tanpa melunturkan senyumannya.


"Katakan dimana dia Bik?!"


"Sheilla sekarang berada di kamar bibik. Dia---" ucapan bik Nah terhentinya saat Digo beranjak dari tempat tersebut dengan langkah tergesa-gesa.


"Kenapa dia sangat buru-buru sekali? Apa dia berniat jahat dengan Sheilla? Astaga aku tidak akan membiarkan anak nakal itu melukai perempuan lagi," ujar bik Nah penuh dengan kekhawatiran.


Bik Nah berlari kecil mengikuti langkah Digo menuju kamarnya.

__ADS_1


Sedangkan Digo yang sudah berada di depan pintu kamar tersebut, tanpa ia mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung membukanya. Dan ojek yang pertama kali ia lihat adalah tubuh Sheilla yang tengah bergetar diatas ranjang.


Digo mengusap wajahnya ketika mendengar isakan kecil yang keluar dari bibir Sheilla. Entah kenapa ia sangat tak suka jika Sheilla harus mengeluarkan air matanya apalagi jika air mata itu keluar karena dirinya. Ia benar-benar merasa bersalah akan hal tersebut.


Digo perlahan berjalan mendekati Sheilla. Dan setelah sampai ia mendudukkan tubuhnya di belakang punggung Sheilla.


Tangan Digo kini terulur mengelus kepala Sheilla yang membuat perempuan itu yang tadinya memejamkan matanya walaupun air mata terus mengalir hingga membasahi bantal bik Nah kini terbuka.


"Kenapa?" suara bariton dari seorang laki-laki yang cukup familiar di telinga Sheilla membuat perempuan itu dengan cepat mendudukkan tubuhnya dan sedikit menjauh dari Digo. Dan hal tersebut membuat laki-laki itu mengerutkan keningnya.


"Kenapa menghindar? Sini!" Saat Digo ingin menggapai lengan Sheilla, perempuan itu dengan cepat menghindari sentuhan dari laki-laki tersebut.


Digo menghela nafas panjang melihat tingkah Sheilla seperti saat ini. Ia kira setelah beberapa hari perempuan itu ia tinggal, dia justru akan mendapatkan sebuah pelukan saat dirinya tiba di rumah namun ternyata justru sebuah tangisan kekecewaan yang terpancar jelas di mata gadis tersebut. Entah kecewa karena apa Digo tak tau. Mungkin karena bentakan yang ia lakukan tadi, pikir Digo. Tidak tau saja dia jika bukan itu alasan Sheilla memancarkan kekecewaan dimatanya melainkan ada alasan lain yang ternyata tak di sadari oleh Digo.


"Oke baiklah. Saya akui saya salah karena tadi sudah membentak kamu. Saya tidak bermaksud membentak kamu Sheilla. Saya tadi hanya kaget saja melihat kamu di kamar itu. Maafkan saya oke," ujar Digo dengan suara lembut persis seperti nada suara yang ia gunakan untuk berbicara dengan perempuan tadi.


Sheilla diam, ia tak menjawab mau memaafkan Digo atau tidak. Karena terus terang saja bukan kata maaf yang ingin ia dengar saat ini melainkan kata lain tentang penjelasan siapa perempuan itu, mungkin. Tapi jika ia bertanya dengan Digo, ia tak memiliki hak apapun kepada laki-laki itu. Ia sadar di rumah itu ia hanya seorang maid yang tak pantas mendapatkan cinta dari tuannya sendiri.


"Sheilla," panggil Digo dengan meraih tangan kanan Sheilla. Namun hanya beberapa detik saja tangannya menyentuh tangan lembut Sheilla, perempuan itu melepaskan genggaman tangannya tadi.


"Maaf tuan. Saya disini yang bersalah karena tidak ikut menyambut tuan tadi. Tuan membentak saya tadi juga wajar karena menurut aturan disini kita tidak boleh memasuki kamar orang lain tanpa seizin pemilik kamar. Dan saya tadi melanggar hal tersebut karena telah memasuki kamar yang bukan untuk saya. Sekali lagi saya minta maaf atas kelancangan saya tadi tuan," ucap Sheilla sembari beranjak dari ranjang empuk itu lalu ia membungkukkan tubuhnya kearah Digo sebagai tanda permintaan maaf yang tulus darinya.


Namun saat ia menegakkan kembali tubuhnya, ia justru melihat kobaran amarah dari Digo terlihat dari matanya yang menajam, urat di lehernya mulai menegang dan jangan lupakan kedua tangannya yang terkepal erat disamping tubuhnya. Bohong, jika Sheilla tidak takut dengan Digo dalam mode marah seperti ini. Ia takut sekali, apalagi ia melihat Digo kini berdiri dari posisi duduknya dan mulai melangkah mendekati dirinya yang berhasil membuat jantung Sheilla berdegup kencang.


Begitu juga dengan bik Nah yang sedari tadi mengintip mereka dari celah pintu tersebut. Ia sangat was-was akan apa yang di lakukan oleh Digo selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2