
Bian kini tampak menghela nafas sebelum ia angkat suara untuk membalas ucapan Digo tadi.
"Baiklah. Jika kamu mau Beautiful Aster atau Los Asteriscaz, Uncle akan berikan dan serahkan ke kamu. Tapi Uncle minta Los Asteriscaz jangan kamu salah gunakan untuk menindas orang-orang lemah yang tidak memiliki masalah apapun ke kita. Apalagi kamu menggunakan nama Los Asteriscaz untuk melakukan transaksi jual beli barang haram atau ilegal karena jika sampai Uncle tau kamu menyalah gunakan Los Asteriscaz untuk hal-hal yang tak berguna seperti yang Uncle katakan tadi, Uncle tidak akan segan-segan untuk mengambil alih Los Asteriscaz dari tangan kalian berdua," pinta Bian.
Sebenarnya ia juga berniat untuk membubarkan komplotan yang ia buat itu dengan persetujuan istrinya juga kedua orangtua Digo karena tujuan mereka sudah tercapai. Tapi jika Digo dan Sheilla menginginkannya maka mereka tak akan segan-segan untuk memberikannya kepada mereka berdua dengan syarat seperti yang di katakan Bian tadi jika Los Asteriscaz itu tidak boleh disalah gunakan oleh Digo maupun Sheilla.
"Baiklah. Aku menyepakati perintahan dari Uncle tadi. Tapi aku minta penyerahan Los Asteriscaz dilakukan hari ini juga," ujar Digo.
"Baiklah, Uncle akan menuruti ucapanmu itu. Kalau begitu lebih baik kita sekarang pergi ke markas Los Asteriscaz," kata Bian sembari berdiri dari duduknya diikuti oleh Papa Devano juga Digo.
Dan saat mereka bertiga sudah melangkahkan kakinya dan ingin keluar dari kamar inap tersebut, suara Sheilla menghentikan langkah mereka.
"Tunggu dulu!" teriak Sheilla yang membuat para laki-laki yang sudah berada di ambang pintu menolehkan kepalanya kearah Sheilla.
Dan sebelum salah satu dari mereka bertiga bertanya, Sheilla sudah angkat suara kembali.
"Sheilla akan ikut dengan kalian karena Los Asteriscaz bukan hanya Al saja yang berkuasa nantinya tapi Sheilla juga akan ikut terlibat. Jadi karena hal itu Sheilla juga harus ikut dalam penyerahan Los Asteriscaz ke tangan Al. Dan anggap saja Sheilla yang akan menjadi saksinya nanti," pinta Sheilla dengan tangan yang kini mencabut jarum infus yang tadi menancap di tangannya itu.
Dimana aksinya tersebut membuat semua orang langsung memelototkan matanya tak terkecuali Digo yang kini langsung berlari kearah Sheilla yang sudah ingin turun dari brankar.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Digo sembari mencegah Sheilla yang hampir menapakkan kaki di lantai kamar tersebut.
"Ck, aku kan tadi sudah bilang kalau aku mau ikut kalian," jawab Sheilla.
"Tidak. Aku tidak mengizinkan kamu untuk ikut. Ingat kondisimu belum pulih sepenuhnya sayang. Jadi lebih baik kamu tetap disini ya," ucap Digo dengan suara lembutnya.
__ADS_1
Dan saat Sheilla ingin angkat suara kembali, bibirnya di buat terkatup kembali saat Digo mendahului ucapannya itu.
"Jangan membantah. Ini untuk kebaikanmu. Jika kamu membantah, aku tinggal kamu ke Paris sekarang juga." Sheilla yang mendengar ancaman dari Digo itu ia kini mencebikkan bibirnya. Bisa saja kekasihnya itu kalau disuruh ancam-mengancam seperti ini yang membuat lawannya hanya bisa pasrah saja.
Digo yang melihat Sheilla terdiam pun, ia kini menghela nafas sebelum dirinya memilih untuk membenarkan posisi Sheilla yang tadinya terduduk di pinggir brankar tersebut menjadi di posisi duduk di tengah brankar seperti posisi sebelumnya.
Digo menarik selimut hingga menutupi kaki Sheilla sebelum dirinya memberikan kecupan di kening kekasihnya tersebut, tak perduli jika kedua orangtuanya dan kedua orangtua Sheilla melihatnya.
"Aku pergi dulu. Tetap disini. Jangan kemana-mana jika tidak mau ucapanku tadi menjadi kenyataan. Kamu mengerti sayang?"
"Ck, iya-iya. Aku mengerti," jawab Sheilla dengan wajah masamnya.
"Kalau mengerti coba senyum dulu," pinta Digo yang membuat Sheilla memutar bola matanya malas sebelum ia menuruti permintaan dari Digo tadi.
Dimana saat dirinya memperlihatkan senyumannya, Digo juga ikut tersenyum dengan tangan yang kini bergerak untuk mengacak rambut Sheilla dengan gemas sembari berkata, "Good girl."
"Kita berangkat sekarang," ujar Bian kala Digo sudah bergabung dengan mereka berdua.
Dimana ucapan dari Bian tadi diangguki oleh kedua laki-laki itu. Tapi sebelum Bian melangkah, ia menolehkan kepalanya kearah Yoga yang masih berada di dalam kamar inap Sheilla tersebut.
"Yoga, kamu juga ikut dengan kita," ajak Bian.
"Baik tuan bos," balas Yoga. Dan setelahnya keempat laki-laki tersebut kini benar-benar pergi dari kamar inap Sheilla itu.
Kepergian dari keempat laki-laki tersebut membuat Sheilla semakin mengerucutkan bibirnya. Dan hal tersebut tak luput dari pandangan Franda, Mama Ciara dan Kiya.
__ADS_1
Sebelum Kiya kini angkat suara.
"Aunty," panggil Kiya yang di balas deheman oleh wanita paruh baya tersebut.
"Apa kak Yura hmmmm maksud Kiya, Kak Sheilla ingatannya sudah pulih sepenuhnya?" tanya Kiya penasaran. Maklum saja saat pertama kali Sheilla tersadar dari pingsannya tadi, ia tidak berada di sekitar kamar inap Sheilla jadi ia tak tau jika ingatan Sheilla sudah benar-benar pulih.
"Kemungkinan sudah ingat semua tapi ada kemungkinan juga kalau dia hanya ingat sebagian saja. Tapi walaupun sebagian Aunty tetap bersyukur karena setidaknya Sheilla tau jika Aunty ini ibu kandungnya dan dia tidak takut lagi dengan orang-orang disekitarnya seperti dahulu," balas Franda dengan senyuman di bibirnya.
"Hmmmm benar juga. Yang penting Kak Sheilla ingatan dengan kita semua," ucap Kiya sembari beranjak dari sofa yang ia tempati saat ini dan berjalan menuju kearah Sheilla yang sedari tadi menatap lurus kearah pintu.
"Kakak ipar!" panggil Kiya yang berhasil membuat Sheilla mengalihkan pandangannya.
"Ishhhh Kiya berisik ih. Apa hah? Mau apa kamu?" ucap Sheilla dengan galaknya.
"Ihhhh Kak ipar galak banget sih."
"Suka-suka Kakak dong. Lagian buat apa Kakak baik-baikin kamu yang ternyata juga ikut menyembunyikan identitas Kakak yang asli," ujar Sheilla dengan bersedekap dada.
"Kata siapa Kiya ikut terlibat dalam menyembunyikan identitas Kakak, orang Kiya saja baru tau jika Kak Sheilla ini adalah Kak Yura 4 hari yang lalu tepat di hari yang sama saat Kak Sheilla dan bang Adam pergi ke negara ini." Kiya menarik kursi yang berada di samping brankar Sheilla tersebut sebelum dirinya melanjutkan ucapannya itu.
"Nah dihari itu, aku sempat mendengar obrolan Papa di telepon yang sepertinya orang yang tengah menghubungi Papa itu salah satu anggota dari Los Asteriscaz. Dimana saat itu tengah membicarakan kekhawatiran jika kalian tau akan kebenaran yang sengaja mereka sembunyikan itu. Nah karena Kiya menguping pembicaraan mereka berdua juga sempat mengeledah isi ponsel Papa hehehe Kiya jadi tau siapa Kak Sheilla itu sebenarnya. Jadi Kak Sheilla jangan menganggap jika Kiya juga ikut terlibat dong karena itu tidak benar. Kiya juga dibohongi oleh mereka selama ini. Menyebalkan," sambung Kiya dengan memberikan lirikan tajam ke arah dua wanita paruh baya yang masih duduk di tempat mereka masing-masing.
"Benarkah?" tanya Sheilla untuk memastikan. Dan pertanyaannya itu diangguki Kiya dengan mantap.
"Hmmm kalau begitu oke lah aku akan mencoba percaya dengan ucapanmu tadi," ujar Sheilla.
__ADS_1
"Ya harus percaya dong kan apa yang Kiya katakan tadi adalah sebuah kebenaran bukan sebuah kebohongan," balas Kiya.
"Baiklah-baiklah. Terserah kamu," ujar Sheilla yang enggan untuk menimpali ucapan dari Kiya tadi karena ia tak mau urusannya menjadi panjang jika ia masih meladeninya.