
Tepat di pagi harinya setelah semua permasalahan Sheilla dan nenek selesai, seperti yang dikatakan oleh Digo tadi malam jika dirinya dan Sheilla di hari ini juga akan pergi untuk fitting baju juga pergi ke rumah pohon kenangan mereka waktu kecil dulu.
"Are you ready, sayang?" tanya Digo kala keduanya telah masuk kedalam mobil milik laki-laki itu.
"Ready dong. Jadi let's go, jalan sekarang," ucap Sheilla penuh dengan semangat. Dimana hal tersebut membuat Digo kini terkekeh sembari mengelus kepala Sheilla sebelum dirinya menjalankan mobilnya. Dan tujuan pertama mereka yaitu ke butik yang sudah di beritahu oleh Franda, dimana butik yang akan mereka kunjungi itu merupakan butik yang akan menangani masalah baju pengantin keduanya.
Dan hanya menempuh waktu setengah jam, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Digo telah berhenti di parkiran depan butik tersebut.
Setelah mesin mobilnya mati, Digo bergegas keluar dari dalam mobilnya itu lalu dengan cepat ia menuju ke pintu sebelah Sheilla untuk membukakan pintu itu untuk kekasihnya.
"Terimakasih," ucap Sheilla kala dirinya telah turun dari dalam mobil milik Digo. Dimana ucapannya itu dibalas dengan senyuman oleh laki-laki tersebut.
Keduanya kini berjalan beriringan masuk kedalam butik yang ternyata saat mereka berdua sudah masuk, sang pemilik butik tersebut sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Tuan Digo dan Nona Sheilla ya?" tanya pemilik butik tersebut kala dirinya sudah berhadapan dengan sepasang calon pengantin itu.
Dimana ucapannya itu di jawab dengan anggukkan kepala oleh keduanya.
"Baiklah kalau begitu kita langsung menuju ke lantai dua saja. Pakaian pengantin kalian berdua sudah saya siapkan di atas. Dan kalau disini terlalu ramai. Jadi silahkan ikuti saya," ujar pemilik butik tersebut tak lupa dengan senyum ramahnya. Dan tanpa menunggu persetujuan dari Digo dan Sheilla yang kini saling pandang satu sama lain, pemilik butik tersebut sudah lebih dulu pergi dari hadapan dua orang itu.
"Sudahlah ikuti saja dia," ucap Digo. Dan dengan saling bergandengan tangan keduanya akhirnya mengikuti kemana arah perginya pemilik butik tersebut sampai mereka menginjakkan kakinya dilantai dua butik tersebut.
Dimana mata Sheilla dibuat melotot karena ia tak menyangka jika di lantai dua juga masih banyak gaun, dress dan banyak lagi pakaian-pakaian masa kini. Ia kira semua pakaian hanya di taruh di lantai satu saja tapi ternyata masih ada di lantai dua. Dimana justru di lanta itu sangat sepi tak ada pengunjung yang datang untuk melihat pakaian-pakaian itu. Dan dari situ ia yakin pasti pakaian-pakaian yang sengaja di pisahkan itu adalah pakaian yang merupakan pesanan orang lain.
__ADS_1
Atensi Sheilla teralihkan kala pemilik butik itu memanggil dirinya dan Digo.
"Nona Sheilla dan tuan Digo, kesini!" ucapnya yang membuat kedua orang yang merasa dirinya dipanggil pun menatap kearahnya dan dengan helaan nafas keduanya berjalan mendekati pemilik butik.
"Coba lihat dan kalian pilih sendiri, pakaian mana yang akan kalian pakai di acara pernikahan kalian. Karena semua pakaian ini secara khusus saya desain sendiri untuk kalian berdua. Bahkan pengerjaan pakaian-pakaian ini sudah berlangsung selama 3 tahun ini. Dan itu semua atas izin dan perintah dari Nyonya Franda juga Nyonya Ciara," ucap pemilik bukti itu yang berhasil membuat Sheilla maupun Digo tampak terkejut mendengarnya.
Selama 3 tahun pengerjaan pakaian-pakaian yang tengah berada di hadapan mereka berdua yang berarti memang pernikahan ini sudah kedua belah pihak rencanakan. Karena 3 tahun yang lalu, Digo dan Sheilla belum bertemu satu sama lain.
Dan entah kenapa dua keluarga itu sangat yakin jika keduanya ingin menuju ke jenjang pernikahan? Itulah pertanyaan yang berada di otak Digo maupun Sheilla sekarang. Tapi keduanya juga merasa lega, setidaknya angan-angan dari dua keluarga itu terkabulkan juga. Jika dulu Digo benar-benar membunuh Sheilla, maka semua pakaian itu akan sia-sia di buatnya.
"Jadi ayo, pilih saja dari 5 pasang pakaian pengantin ini kalian mau pakaian yang mana. Tapi kalau mau lima-limanya juga boleh," sambung pemilik butik itu tanpa meninggalkan senyumannya.
Dimana ucapannya tersebut langsung di balas dengan gelengan kepala oleh Sheilla.
"Tidak-tidak. Kita tidak akan memakai semua pakaian ini. Kita hanya akan memakai 2 diantara 5 pasang pakaian pengantin ini," ujar Sheilla sembari mendekati gaun berwarna putih itu.
"Aku ingin gaun yang ini dan---" Sheilla menggantung ucapannya sembari matanya menatap kearah deretan baju pengantin tersebut. Hingga tangannya kini terulur untuk mengambil gaun berwarna hitam.
"Dan aku mau yang ini," sambung Sheilla yang membuat Digo tersenyum kala kekasihnya itu mengambil gaun berwarna hitam.
Namun berbeda dari Digo yang tersenyum, pemilik butik itu justru tampak terkejut atas pilihan Sheilla.
"Tapi Nona, gaun ini bukan gaun yang saya buat khusus untuk nona. Saya salah menempatkan gaun ini disini. Ya ampun," ucap pemilik butik tersebut yang tampak menyesal karena telah salah menaruh gaun milik Sheilla itu.
__ADS_1
"Nah yang benar itu gaun berwarna pink itu," sambungnya kala dirinya menemukan gaun yang sebenarnya untuk Sheilla yang terpasang di pojok ruangan tersebut.
Dimana hal tersebut membuat salah satu alis Sheilla memincing.
"Saya tidak suka warna pink," ujar Sheilla dengan santainya.
"Saya juga tidak mau memakai tuxedo berwarna pink," timpal Digo dengan bersedekap dada. Enak saja dirinya yang lakik harus memakai pakaian berwarna feminim itu. Mau di taruh dimana image garangnya nanti?
"Ehhhh kalau begitu pilih yang lain saja masih sisa 3 model dan warna yang berbeda." Sheilla menggelengkan kepalanya dengan bersedekap dada dan menatap lurus kearah pemilik butik yang berada di depannya itu.
"Saya tidak minat dengan 3 gaun itu karena pilihan saya sudah jatuh ke gaun hitam tersebut. Jadi aku memilih gaun itu," ujar Sheilla.
"Tapi ini bukan---"
"Jika itu memang bukan gaun untuk saya, jadi untuk siapa kamu membuatnya?"
"Hmmm untuk pelanggan yang menginginkan," ujar pemilik butik yang tampak takut dengan aura yang tengah Sheilla juga Digo pancarkan kali ini.
"Apakah saya bukan pelangganmu yang boleh memilih gaun itu?" ucap Sheilla yang membuat pemilik butik itu terdiam.
"Jika kamu menganggap saya pelanggan di butikmu maka berikan gaun hitam yang belum ada pemiliknya itu untuk saya. Jika tidak, terpaksa saya dan calon suami saya tidak akan memakai jasamu dalam pakaian pengantin kita berdua. Dan kerugian tentang gaun ini akan kamu tanggung sendiri akibatnya," ujar Sheilla dengan mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai yang semakin membuat suasana mencekam saja.
"Tapi jika kamu mau memberikan gaun hitam itu untuk calon istri saya maka saya pastikan kamu tidak mengalami kerugian tapi justru akan mendapatkan keuntungan besar. Jadi bagaimana?" imbuh Digo yang semakin membuat pemilik butik itu tak berkutik hingga akhirnya pemilik butik itu menyerah sembari berkata.
__ADS_1
"Baiklah. Saya akan memberikan gaun ini untuk kalian berdua," ucap pemilik butik itu dengan tubuh bergetar hebat karena merasakan aura mematikan dari dua orang di sekitarnya itu.
Dimana ucapan dari pemilik butik itu membuat Sheilla dan Digo langsung melemparkan senyuman satu sama lain.