The Dark Love

The Dark Love
93. Gila


__ADS_3

"Jika memang benar Sheilla tengah kehilangan ingatannya, apa bisa ingatan itu dipulihkan secepatnya?" tanya Henry yang benar-benar penasaran.


"Sepertinya bisa, tapi harus melewati serangkaian terapi terlebih dahulu. Dan terapi yang biasa digunakan adalah terapi okupasi atau terapi kognitif jika Sheilla mau. Jika dia tidak mau, jangan dipaksa. Karena kalau dipaksa malah kasihan dianya. Bukannya dia nanti sembuh malah stress dan tertekan," jelas Diana.


"Dan satu lagi, mulai hari ini kasih dia suplemen dan vitamin jangan biarkan dia untuk minum alkohol dulu," sambung Diana yang ia tujukan untuk Digo.


"Baiklah akan saya belikan dia vitamin dan suplemen nanti. Dan untuk terapi itu biar nanti saya bicarakan kepada Sheilla," ujar Digo yang diangguki oleh Diana.


"Tapi selain yang kamu katakan tadi. Apa ada hal lain yang harus saya lakukan untuk kesembuhan dia?" tanya Digo.


"Untuk saat ini hanya itu saja. Sebenarnya ada satu cara lagi yang bisa membangkitkan ingatannya yang hilang. Dan cara itu adalah kamu mengajak dia ke tempat-tempat yang dulu pernah dia datangi sewaktu dia belum mengalami amnesia. Tapi saya rasa kamu tidak bisa melakukan satu cara itu karena kita disini tidak ada yang tau kapan dia mengalami hal itu dan tempat mana saja yang sudah dia datangi dulu," ujar Diana.


Dan ucapan dari Diana itu membuat Henry ataupun Digo terdiam. Benar juga apa yang dikatakan oleh Diana itu. Tapi Digo tidak boleh menyerah begitu saja. Ia harus berusaha untuk menyembuhkan sang kekasih.


"Saya akan cari tau kapan dia mengalami amnesia," ujar Digo memecahkan keheningan yang sempat tercipta di ruangan tersebut.


"Kalau memang kamu bisa mendapatkan informasi itu maka lakukan lah. Karena terus terang saja saya takut jika Sheilla terus-menerus seperti saat ini tanpa mencoba kita obati, sakit yang dia derita ini akan mempengaruhi fungsi kerja otaknya," ucap Diana yang hanya bisa dijawab anggukkan kepala oleh Digo.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu. Jika nanti Sheilla seperti sebelumnya, segara hubungi saya lagi," ujar Diana sembari berdiri dari duduknya lalu setelahnya ia bergegas berjalan keluar dari kamar tersebut.


"Aku keluar dulu. Cari suplemen dan vitamin buat Sheilla," kata Henry dan saat ia berdiri kemudian melangkahkan kakinya, ia sengaja menghentikan langkahnya tepat disamping Digo. Ia memberikan tepukan di bahu sahabatnya itu sembari berkata, "Yakinlah, Sheilla akan segera sembuh. Semua ingatannya akan segara pulih dalam waktu dekat ini. Jadi kamu tenang saja."


Henry kembali memberikan tepukan di bahu Digo setelah dirinya selesai mengucapakan perkataannya tadi. Lalu barulah dia keluar meninggalkan Digo yang kini tengah mengusap wajahnya dengan kasar diakhiri dengan ia menjambak rambutnya sendiri sebelum dirinya memilih untuk mendekati Sheilla dan ikut berbaring disamping kekasihnya itu.


Tangan Digo mengusap wajah cantik Sheilla dengan sesekali menyematkan kecupan di wajah Sheilla.


"Aku tidak tau hal apa yang sudah kamu lalui dulu sampai kamu harus mengalami yang namanya amnesia. Maafkan aku karena kita baru bertemu sekarang disaat kondisimu sudah seperti ini. Maafkan aku karena sudah telat menjagamu. Tapi kamu tenang saja aku akan berusaha mengembalikan ingatanmu itu secepatnya agar kamu tidak merasakan sakit lagi seperti tadi," ujar Digo tepat di samping telinga Sheilla sebelum dirinya memeluk tubuh kekasihnya itu dengan air mata yang tiba-tiba saja keluar saat memikirkan jika dirinya gagal menyembuhkan Sheilla. Ia tak mau melihat Sheilla semakin sakit nantinya. Dan jika bisa, Digo meminta sakit Sheilla berpindah ke dirinya. Biarkan dia yang merasakan sakit dan merasakan penderitaannya dan biar Sheilla terus tertawa lebar seperti tak ada beban di hidupnya.


...****************...


"Astaga apakah mereka semua akan tidur bersama di dalam kamar ini?" beonya dengan mata sayu bahkan tubuhnya yang tadi hanya ia senderkan ke tembok kini sudah melorot hingga dirinya kini sudah duduk di atas lantai dingin tersebut.


"Lama sekali. Aku sampai mengantuk seperti ini. Hoammm," ucap Vina diakhiri dengan menguap.


"Arkhhhh aku tidak kuat lagi. Aku mau tidur," ucapnya dengan mata yang kini tertutup namun beberapa saat setelahnya matanya kembali terbuka.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak boleh tidur dulu. Aku harus tetap membuka mataku ini. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini untuk memberikan perhatian kepada Digo yang tengah sakit. Dan anggap saja apa yang sedang aku lakukan ini sebagai bentuk perjuangan seorang calon istri Digo," ucap Vina.


"Maka dari itu, semangat Vina. Kamu harus tetap membuka matamu, jangan tidur sebelum pintu kamar ini terbuka," sambungnya dengan tangan yang bergerak untuk memukul-mukul pipinya sendiri.


Namun sayang 30 menit setelah ucapan Vina yang terakhir itu terlontar, perempuan itu sekarang tengah tertidur pulas dengan posisi terduduk dengan tembok sebagai sandarannya.


Hingga tak terasa kini tugas bulan untuk menyinari bumi kini tergantikan dengan matahari. Dan satu orang yang tertidur di samping pintu kamar lama Digo, masih enggan membuka matanya.


Henry yang kebetulan ingin mengambil barang milik Digo yang masih berada di kamar lama sahabatnya itupun, keningnya dibuat mengkerut saat melihat tubuh seseorang yang sudah terkapar dilantai itu.


Henry yang penasaran siapa orang tersebut pun ia menambah kecepatan langkahnya. Sampai saat dirinya sudah sampai di samping tubuh orang yang ia lihat tadi, Henry berjongkok dengan tangan yang bergerak untuk menyingkirkan tangan orang tersebut yang menutupi wajahnya sendiri. Dan saat tangan itu sudah berhasil Henry singkirka, ia mendengus kasar kala ia sudah melihat wajah orang tersebut yang tak lain adalah Vina.


"Sudah tidak heran lagi jika orang gila tidurnya di sembarang tempat," gumam Henry sembari bangkit dari posisi jongkoknya. Dan bukannya ia membangunkan Vina agar berpindah tempat, Henry justru membiarkannya saja dan memilih untuk masuk kedalam kamar Digo mencari barang yang ia butuhkan dan kembali ke aktivitasnya sehari-hari.


Sesaat setelah Henry masuk kedalam kamar tersebut, giliran Monik yang muncul dengan membawa kemoceng di tangannya. Dan reaksi yang diberikan oleh Monik saat ini tak jauh berbeda dengan reaksi Henry tadi. Ia mengerutkan keningnya sebelum dirinya berjalan mendekati tubuh Vina yang masih nyenyak tidur.


"Astaga perempuan gila ini bisa-bisanya tidur di sini," ucap Monik setelah ia melihat wajah Vina. Dan tidak seperti Henry tadi, Monik sekarang justru membangunkan Vina dengan menendang tulang kering Vina cukup keras. Dan hal tersebut membuat Vina terkejut dan langsung terbangun dari mimpi indahnya itu.

__ADS_1


"Jika mau tidur jangan disini. Di kamarmu sana karena lantai ini akan segara di bersihkan," ucap Monik sebelum dirinya berjalan meninggalkan Vina yang tengah mengelus-elus tulang keringnya itu.


__ADS_2