
Setibanya Digo dan Sheilla di rumah sang nenek, keduanya langsung di sambut oleh wanita tua tersebut yang sudah menunggu kepulangan dua cucunya tersebut.
"Ya Allah Sheilla, Digo. Kalian kemana saja? Kenapa baru pulang di jam segini?" tanya nenek Sheilla sembari berjalan mendekati sepasang kekasih yang kini juga tengah melangkahkan kakinya mendekati dirinya.
Dimana saat nenek Sheilla sudah berhadapan langsung dengan kedua cucunya itu, ia menatap mereka berdua dari atas sampai bawah, memastikan tidak ada luka sedikitpun yang didapat dari Digo maupun Sheilla.
"Kalian pulang jam segini tidak ada suatu masalah kan tadi dijalan?" tanya nenek Sheilla terlihat begitu khawatir.
Digo dan Sheilla tampak tersenyum sebelum Digo kini mengulurkan tangannya untuk mengelus lengan wanita tua tersebut.
"Nenek tenang saja. Kita berdua baik-baik saja kok. Nenek tidak perlu khawatir. Dan kenapa kita baru pulang di sore hari seperti ini karena ada sesuatu yang perlu kita berdua luruskan tadi," balas Digo.
"Syukurlah. Kalau begitu kalian masuk dan segera bersihkan tubuh kalian. Kalau sudah mandi, kita makan malam bersama ya. Nenek tunggu di ruang keluarga," ucap nenek Sheilla dengan helaan nafas lega.
"Baiklah nek. Kita akan membersihkan tubuh kita terlebih dahulu," ujar Sheilla.
"Ya sudah kalau gitu masuk gih." Digo maupun Sheilla menganggukkan kepalanya lalu setelahnya mereka berdua berjalan secara beriringan masuk kedalam rumah tersebut. Dimana masuknya mereka tak luput dari pandangan nenek Sheilla.
"Apa aku keterlaluan karena sudah menyembunyikan sebuah fakta kepada mereka berdua terutama Sheilla? Tapi aku belum siap jika harus mengungkapkan fakta ini ke mereka. Aku takut mereka akan kecewa kepadaku dan akan meninggalkan diriku sendirian di dunia ini. Aku tidak punya siapa-siapa lagi disini jika mereka pergi. Ya Allah apa yang harus aku lakukan karena tidak mungkin aku terus menyembunyikan sebuah kebenaran itu dari mereka berdua. Aku tidak mau semakin lama aku menyembunyikannya akan membuat rasa benci mereka saat tau akan hal tersebut lebih besar. Jadi apa yang harus aku lakukan?" gumam nenek Sheilla dengan menengadahkan kepalanya keatas, menatap langit yang berwarna jingga itu.
Pikiran dan hatinya tegah kacau serta dilema karena memikirkan fakta jika Sheilla bukanlah cucu kandungnya. Padahal tanpa ia ketahui jika Digo maupun Sheilla telah tau fakta itu.
Nenek Sheilla tampak menghela nafas berat sebelum ia memilih untuk segara masuk kedalam rumahnya dengan memikirkan secara matang keputusan apa yang akan ia ambil nantinya.
__ADS_1
Sedangkan Digo dan Sheilla yang sudah berada di dalam kamar mereka, Sheilla langsung mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang di kamar tersebut dengan menggigit kuku jari tangannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan hmmm?" tanya Digo yang sedari tadi memperhatikan kekasihnya itu.
Sheilla menatap kearah Digo yang tengah duduk di sampingnya.
"Coba aku tebak, kamu tengah memikirkan tentang nenek bukan?" tanya Digo kembali dan tebakannya itu tepat sasaran karena Sheilla kini menganggukkan kepalanya.
"Kenapa memikirkan tentang nenek? Coba sini cerita," ujar Digo yang membuat Sheilla tampak menghela nafas sesaat sebelum dirinya mulai angkat suara.
"Aku takut nenek akan sedih saat aku nanti berbicara kalau aku sudah tau siapa orangtua kandungku. Dalam satu sisi aku sangat senang dengan fakta yang baru aku ingat itu tapi disisi lain aku juga memikirkan bagaimana dengan nenek nanti. Apalagi kita mau menikah sebentar lagi yang otomatis aku akan selalu ikut denganmu kemana pun kamu pergi termasuk untuk menetap di Paris nantinya yang mana jika kita membawa nenek ke negara itu, aku yakin baru sampai bandara nenek akan minta pulang kembali karena nenek sangat takut jika harus naik pesawat. Tapi aku juga tidak mau meninggalkan nenek, Dear. Walaupun nenek memang bukan nenek kandungku tapi nenek adalah keluargaku yang selalu ada untukku, merawat serta membesarkanku selama ini. Bahkan saat kedua orangtua angkatku meninggal, nenek lah yang mencari nafkah untuk biaya sekolahku dan Shinta juga untuk biaya kehidupan kita sehari-hari," ucap Sheilla menceritakan keluh kesahnya itu.
Digo yang menjadi pendengar setia untuk kekasihnya itu pun tangannya kini bergerak untuk memeluk tubuh Sheilla dengan memberikan elusan lembut di kepala kekasihnya itu.
"Dan kita lebih baik percayakan nenek ke Mama sama Aunty Franda. Tapi walaupun ada mereka berdua, aku akan menambah seseorang untuk merawat nenek juga menjaga beliau di rumah ini. Gimana apa kamu setuju sayang?" sambung Digo yang membuat Sheilla tampak menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu setuju dan akan percaya dengan Mama juga Aunty Franda. Sekarang jangan khawatir lagi, oke. Dan lebih baik kamu mandi duluan sana. Aku akan mandi setelahmu," ucap Digo sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Sheilla.
Dimana saat pelukan itu terlepas, Sheilla menatap wajah Digo yang tampak tengah tersenyum kearahnya sebelum dirinya kini berdiri dari posisi duduknya lalu mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.
Dan saat Sheilla sudah masuk ke kamar mandi, Digo meraih ponselnya lalu ia mulai menghubungi Henry yang tampaknya masih berada di negara Belanda.
📞 : "Halo, kenapa, Al? Apa butuh bantuan lagi?" tanya Henry dari sebrang.
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya ingin bertanya. Apa penyelidikan kalian tentang pengusaha Belanda itu ada kemajuan?" tanya Digo.
📞 : "Tidak ada sama sekali. Kita belum mendapatkan bukti apa-apa ataupun pergerakan yang mencurigakan dari pengusaha itu. Dan aku yakin memang bukan dia dalang dari kaburnya Yoga waktu itu," ujar Henry yang tampak frustasi dengan masalah yang harus ia pecahkan kali ini.
"Memang bukan dia dalangnya."
📞 : "Lho ehhhh, kamu sudah tau siapa dalang dari bebasnya Yoga itu?"
"Ya."
📞 : "Siapa?" tanya Henry penasaran.
"Uncel Bian."
📞 : "HAH! APA!"
Teriakan nyaring dari Henry itu membuat Digo langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Sekali lagi kamu teriak, akan aku suruh salah satu anak buahku yang ada di sana untuk menjahit mulutmu itu," ujar Digo.
📞 : "Maaf maaf, aku tadi kelepasan. Tapi darimana kamu tau jika Uncle Bian lah yang menjadi dalang dari bebasnya Yoga?" tanya Henry.
"Aku yang mencari tau sendiri. Tapi kamu tenang saja masalah itu sudah aku selesaikan. Dan sudah tidak ada lagi permasalahan diantara kita, semuanya sudah sangat jelas. Dan lebih baik, kamu serta anak buahku segera kembali ke Paris secepatnya sebelum pengusaha itu menyadari keberadaan kalian. Dan karena hanya itu saja yang mau aku sampaikan ke kamu. Aku tutup teleponnya dan segeralah kembali ke mansion," ucap Digo dan tanpa menunggu balasan dari Henry, ia langsung menutup sambungan telepon diantara keduanya itu.
__ADS_1
Dimana hal tersebut membuat Henry yang ingin membuka suaranya, bibirnya kembali terkatup dengan helaan nafasnya. Padahal ia sangat ingin bertanya tentang Uncle Bian yang ternyata adalah dalang dari pembebasan Yoga itu kepada Digo. Tapi belum juga ia mengajukan satu pertanyaan, Digo sudah memutuskan sambungan telepon itu. Namun walaupun begitu, Henry harus tetap bertanya saat dirinya nanti bertemu secara langsung dengan Digo agar dirinya tidak penasaran lagi dan otaknya yang pintar ini tidak bertanya-tanya kembali.