The Dark Love

The Dark Love
134. Hukuman Untuk Kiya


__ADS_3

Mama Ciara dan Papa Devano terus menggedor pintu kamar Kiya, berusaha untuk membuka pintu tersebut.


"Anak nakal keluar!" teriak Mama Ciara dengan garangnya.


"Tidak mau," balas Kiya didalam kamarnya itu. Posisi gadis itu kini tengah berdiri dengan bersandar di pintu kamarnya.


"Tidak mau tidak mau! Kamu harus bertanggungjawab dengan apa yang kamu katakan sama Papa dan Mama kemarin. Dasar anak nakal, berani-beraninya kamu ya membohongi Papa sama Mama!" geram Papa Devano.


"Kata siapa Kiya membohongi Mama sama Papa. Orang yang Kiya katakan tadi malam benar kok. Kalau bang Al sama Kakak ipar udah punya baby. Karena tadi malam sebelum bang Al ngurung Kakak ipar di dalam kamar dia, dia sempat bicara sama Kiya kalau dia mau buat baby yang artinya baby itu sekarang sudah ada di dunia ini kan. Jadi dimana salahnya Kiya?!"


"Buat baby itu tidak segampang yang kamu pikirkan, bodoh. Mana ada orang buat baby, paginya sudah jadi. Kamu saat pelajaran biologi pasti tidur kan, jadi bodoh seperti ini," timpal Digo.


"Hehehe kok Abang tau. Lagian pelajaran biologi itu pelajaran memuakkan dan salah satu pelajaran yang Kiya tidak sukai jadi untuk apa Kiya memperhatikan pelajaran itu lebih baik Kiya tidur saja," balas Kiya yang membuat Digo melongo tak percaya.


"Astagfirullah Kiya! Pantesan nilai kamu gak bagus di pelajaran biologi saat di SMA dulu ternyata kamu tidur di saat pelajaran. Ya Tuhan, kenapa aku punya anak nakal seperti dia ini," ucap Mama Ciara yang sudah tepok jidat, menyerah dengan putrinya itu.


"Aku pun juga tidak menyangka punya anak seperti dia sayang. Dan sepertinya kita harus tukar tambah dengan anak orang lain kalau tidak ya dengan sapi, kambing atau kalau tidak ya kuda saja. Karena binatang-binatang itu lebih mudah diatur daripada Kiya," timpal Papa Devano yang membuat Kiya di dalam sana memelototkan matanya.


"Ya, aku setuju dengan perkataanmu tadi sayang. Lebih baik kita tukar Kiya dengan binatang-binatang itu saja. Dan lebih baik kita sekarang kembali ke Indonesia untuk melakukan transaksi itu," ucap Mama Ciara.


"Al, Sheilla, kita pamit pulang dulu ya. Mama berpesan ke kalian jangan biarkan anak nakal ini kabur dari sini sebelum kita menukarnya, nanti," sambung Mama Ciara dengan memberikan sebuah kode kepada dua orang itu yang untungnya langsung bisa dipahami oleh keduanya.

__ADS_1


"Siap Ma, aku juga sudah muak punya adik nakal, susah diatur mana bodoh lagi. Dan aku juga setuju dengan keputusan Mama sama Papa tadi. Hati-hati ya Ma, Pa. Kita disini akan mengawasi dia untuk tidak kabur dari sini."


"Ya sudah kalau begitu Mama sama Papa pergi dulu." Mama Ciara dan Papa Devano sengaja menghentakkan kakinya agar Kiya mendengarnya.


Sedangkan Kiya yang sedari tadi berada di dalam kamarnya dengan mengigit kukunya kala mendengar penuturan dari keluarganya pun ia melebarkan matanya kala mendengar langkah kaki kedua orangtuanya itu.


"Oh no, aku gak mau di tukar dengan para binatang itu. Aku harus menghentikan Mama sama Papa!" gumam Kiya sebelum dirinya akhirnya membuka pintu kamarnya itu. Dimana saat pintu itu terbuka ia sudah tak melihat kedua orangtuanya dan hanya melihat Digo dan Sheilla disana.


Kiya kini dengan cepat mendekati keduanya.


"Abang, Kakak ipar, Mama sama Papa dimana?" tanya Kiya panik.


Kiya mengerutkan keningnya namun tak urung ia memutar tubuhnya, dan saat dirinya sudah berhadapan langsung dengan kedua orangtuanya itu, ia langsung mendapat jeweran maut dari kedua orangtuanya.


"Awssss sakit!" teriak Kiya.


"Rasain. Ini hukuman untuk anak nakal yang sudah berani membohongi Mama sama Papa," ujar Mama Ciara.


"Huwaaaa ampun Ma, Pa. Gak lagi-lagi Kiya bohong sama Mama dan Papa. Kiya kemarin sengaja melakukan hal itu karena Abang gak mau ngalah sama Kiya. Kiya maunya tidur sama Kakak ipar tapi tidak diizinkan oleh Abang." Digo yang mendengar hal tersebut pun ia memutar bola matanya malas.


"Selama kamu disini Sheilla juga tidurnya sama kamu terus. Jadi dimana Abang gak ngizinin kamu?" kesal Digo.

__ADS_1


"Ya kan harusnya tadi malam Abang juga ngizinin Kakak ipar tidur sama Kiya. Lagian sebelum Kiya kesini, Abang juga tidur terus satu kamar sama Kakak ipar. Dan saat Kiya disini, gantian Kiya terus dong yang tidur sama Kakak ipar. Jangan maruk jadi orang tuh," balas Kiya dengan sesekali meringis, merasakan telinganya yang sakit itu.


Dan saat Digo ingin menimpali ucapan dari Kiya tadi, Papa Devano lebih cepat menghentikannya.


"Sudah! Jangan bertengkar. Urusan kalian berdua selesaikan nanti. Karena sekarang Kiya harus menyelesaikan urusannya sama Papa dan Mama. Dengar ini baik-baik ya Kiya, mulai hari ini Papa ataupun Mama tidak akan memberi kamu uang jajan lagi, semua kartu kredit, ATM dan lain sebagainya akan kita tarik. Liburan kamu yang awalnya disini selama satu bulan, akan berganti menjadi 2 Minggu saja, saat Papa dan Mama pulang nanti ke Indonesia kamu juga harus ikut pulang. Semua kendaraan yang kamu miliki akan Papa sita semua. Untuk urusan kuliahmu biar sopir yang antar," tutur Papa Devano sembari melepaskan jewerannya dari telinga Kiya begitu juga dengan Mama Ciara.


Kiya yang mendengar hukuman yang akan dia dapatkan itu ia melongo tak percaya.


"Lho kok semuanya disita sih Pa? Oke fine kalau semua kendaraan Kiya disita tapi jangan sama uang jajan Kiya juga dong. Ya masa saat Kiya lapar di kampus, Kiya hanya bisa lihatin teman-teman Kiya yang lain yang lagi menikmati makanannya. Tega banget ihhh," protes Kiya dengan kerucutan di bibirnya.


"Masalah makan, kamu bisa bawa bekal dari rumah."


"Ya elah bawa bekal kaya anak SD saja. Gak mau, Kiya gak mau bawa bekal," ucap Kiya, menolak mentah-mentah ucapan dari Mamanya tadi.


"Oke kalau kamu tidak mau membawa bekal dari rumah dan masih ingin kekeuh punya uang, kamu kerja sana tapi jangan di perusahaan Papa atau perusahaan milik Abang kamu. Kamu cari kerjaan di tempat lain karena kamu biar ngerasain bagaimana sulitnya orang yang tengah bekerja, sekaligus biar kamu mandiri karena tidak selamanya perusahaan Papa atau perusahaan Abang kamu akan jaya. Siapa tau di masa depan saat Papa, Mama dan Abang kamu sudah tidak ada dan perusahaan sudah mulai bangkrut, setidaknya kamu bisa bertahan hidup dengan mencari perkejaan lain," ucap Papa Devano dengan keputusannya yang sudah mutlak, tak bisa di ganggu gugat lagi.


Apalagi ucapan dari Papa Devano yang diangguki setuju oleh semua orang disana termasuk Sheilla membuat Kiya semakin mengerucutkan bibirnya.


"Gak adil, semua ini gak adil buat Kiya!" ujar Kiya dengan menghentakkan kakinya sebelum dirinya beranjak dari hadapan orang-orang itu menuju ke dalam kamarnya kembali. Dan kepergian Kiya itu membuat keempat orang tersebut menggelengkan kepalanya.


Sebenarnya, Digo dan Sheilla kasihan dengan Kiya bahkan Digo tadi sempat ingin protes kepada sang Papa yang menyuruh Kiya untuk bekerja. Namun setelah ia tau alasan Papanya berucap seperti itu, ia menjadi berpihak kepada sang Papa karena ia tidak mau melihat Kiya terus bergantung kepada mereka jika mereka terus memanjakan dia. Lagian ini juga baik untuk masa depan Kiya, jadi tidak apa-apa bukan jika Kiya harus menghasilkan uang sendiri di luar perusahaan milik keluarganya? Toh dia bukan anak di bawah umur yang memang tidak di perbolehkan untuk bekerja.

__ADS_1


__ADS_2