The Dark Love

The Dark Love
230. Aksi Nekat Digo


__ADS_3

Ketiga orang yang mendengar ide gila yang Digo tadi katakan, tak membuat mereka bisa menyembunyikan reaksi terkejutnya itu.


"Kamu gila? Tidak, aku yang berstatus sebagai istrimu, tidak akan pernah mengizinkan hal gila itu terjadi," tolak Sheilla mentah-mentah.


Digo yang sedari tadi membelakangi mereka bertiga kini ia memutar tubuhnya setelah mendengar ucapan Sheilla tadi.


"Aku akan baik-baik saja sayang. Jadi kamu tenanglah dan sebaiknya kamu melakukan apa yang aku perintahkan tadi. Kalaupun nanti aku tidak sengaja kelepasan menelan minuman ini dan berujung nyawaku tiada, setidaknya Henry tau apa yang akan dia lakukan. Dan aku jamin, semua aset kekayaanku akan menjadi milikmu," ucap Digo dengan santai. Tapi tidak dengan Sheilla yang sekarang tengah mendelik, tak setuju dengan ucapan dari suaminya. Sumpah demi apapun Sheilla mau menikah dengan Digo bukan karena harta laki-laki itu tapi karena rasa sayang, cinta dan rasa nyaman di hatinya. Masalah harta, orangtua kandungnya juga punya segalanya tidak mungkin ia akan kekurangan uang kalaupun tidak menikah dengan Digo. Ia tak peduli dengan harta-harta Digo itu. Karena dia hanya butuh suaminya, sosok yang selama ini menjaganya.


"Tapi aku tidak mau menjanda dan aku tidak butuh uangmu," ujar Sheilla penuh dengan penekanan.


Digo tampak menghela nafas panjang. Begini nih kalau mau bekerjasama dengan istrinya itu. Perempuan tersebut pasti akan menolak mentah-mentah idenya yang ia pikirkan sangat pas untuk ia lakoni. Sangat pas untuk Digo, tapi tidak dengan Sheilla. Siapa yang akan setuju coba jika Digo saat ini ingin memecahkan masalah, hmmm lebih tepatnya hanya untuk mencari bukti untuk menguatkan tuduhan mereka kepada Bomi dengan cara, dia akan meminum minuman yang Rivan tadi berikan kepada mereka berempat. Padahal laki-laki itu tau jika minuman tersebut telah dicampurkan sesuatu. Tapi entah apa yang ada di pikiran Digo saat ini, dia malah ingin menantang mautnya sendiri, benar-benar tak habis dipikir.

__ADS_1


"Ayolah sayang, kali ini saja bekerjasama lah denganku dengan baik," ucap Digo penuh permohonan.


Sheilla dengan cepat menggelengkan kepalanya. Jika dirinya setuju maka dirinya gila.


"Gak akan pernah!" tegas Sheilla cukup keras hingga beberapa orang yang berada di sekitarnya menatap kearah Sheilla.


Digo yang masih tak mendapat persetujuan dari sang istri, ia kembali menghela nafas kemudian tatapan matanya berpindah kearah Monik dan Henry yang sedari tadi mereka hanya diam saja.


"Digo!" sentak Sheilla dan dengan cepat ia merebut gelas yang sebagian isinya sudah Digo minum. Tanpa peduli dengan sekitarnya, Sheilla yang sudah mendapatkan gelas itu, ia langsung membanting gelas di kedua tangannya. Ya, dua gelas itu sudah hancur berkeping-keping di atas lantai. Aksi dari Sheilla tadi membuat semua orang langsung memusatkan perhatian mereka kearah keempat orang yang merupakan pemilik acara.


Digo yang melihat hal itu pun ia hanya bisa tersenyum kemudian ia mendekati Sheilla yang menatapnya dengan tajam kemudian ia memeluk tubuh istrinya itu. Sheilla yang sudah emosi sekaligus takut jika Digo akan meninggalkan dirinya, perempuan tersebut memberontak. Namun tenaganya kalah dengan tenaga Digo saat ini. Laki-laki itu terus mempererat pelukannya tersebut tanpa berkata sepatah kata pun karena saat ini dirinya tengah menikmati rasa pahit yang menjalar di lidahnya yang semakin lama malah semakin membuat lidahnya itu mati rasa. Walaupun begitu ia tak membiarkan Sheilla lepas dari pelukannya. Sampai perlahan tubuh Digo mulai lemas yang tentunya hal tersebut dirasakan juga oleh Sheilla kala Digo mulai menyadarkan kepalanya di bahunya bahkan pelukan erat dari Digo tadi perlahan mulai mengendur hingga akhirnya tubuh Digo ambruk. Bertepatan saat itu pula, air mata Sheilla menetes membasahi pipinya sembari berusaha menopong tubuh suaminya agar tak ambruk ke lantai, tentunya di bantu oleh Henry yang sigap menahan tubuh Sheilla yang juga ingin ambruk itu.

__ADS_1


Ambruknya Digo tadi membuat para pekerja di mansion langsung mendekat tak terkecuali dengan Rivan yang sangat terkejut dengan aksi Digo itu. Apa perkataannya tadi kurang jelas sampai Digo harus meminum-minuman itu padahal ia juga memberikan bukti agar bosnya itu percaya dengan perkataannya itu. Tapi lihatnya Digo malah meminum minuman yang ia larang tadi. Sumpah demi apapun, Rivan sekarang merasa bersalah. Kenapa dia tadi tidak membuang minuman itu saja dan mengganti dengan minuman baru? Kenapa kenapa dan kenapa? Rivan terus menyalahkan dirinya sendiri namun tak urung kakinya ia gerakkan untuk mendekati Henry dan beberapa anak buah laki-laki tersebut yang tengah membawa tubuh Digo menuju ke lantai atas.


Sedangkan Sheilla, ia menangis histeris di dalam pelukan Monik. Ia tak bisa lagi berkata-kata. Keputusan Digo sudah sangat bulat dan dia tidak bisa mencegahnya. Jika Sheilla ditanya menyesal, maka dia akan menjawab sangat menyesal. Dia tidak sigap menjauhkan gelas berisi minuman sialan itu dari tangan Digo. Jika saja dia tadi dengan cepat membuang minuman tersebut tanpa mengomel terlebih dahulu pasti semua ini tak akan terjadi.


Sheilla segara melepaskan pelukan Monik, ia tak bisa seperti ini terus, ia harus bergerak meminta bantuan ke siapa saja yang bisa menangani Digo. Dan anehnya kenapa Henry malah membawa tubuh Digo ke kamar bukan ke rumah sakit saja? Arkhhhh Sheilla bisa gila jika memikirkan jalan pikiran semua orang yang ada di dalam mansion ini.


"Ponsel! Mana ponsel!" teriak Sheilla meminta ponsel ke siapapun yang membawanya.


"She, tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa dengan tuan Digo," ucap Monik menenangkan dengan mengelus lengan Sheilla. Namun dengan cepat Sheilla menangkis tangan Monik dan menatap perempuan itu dengan tajam.


"Apa kamu bilang? Tenang? Mustahil! Siapa yang akan tenang saat melihat suaminya terkulai lemah seperti itu setelah dia meminum racun? Siapa yang akan tenang hah?! Kamu sekarang tidak berada diposisiku, jadi kamu tidak akan tau perasaan aku!" teriak Sheilla.

__ADS_1


"Dia akan mati, Monik, jika tidak segera di tangani oleh seorang dokter! Jadi kalian tunggu apa lagi! Panggil dokter sekarang!" sambung Sheilla yang ia tujukan kepada semua orang yang tengah mengelilinginya itu. Dimana ucapannya tersebut langsung membuat bik Nah yang tengah shock berat pun dengan cepat wanita paruh baya itu langsung menghubungi dua dokter pribadi di mansion ini.


__ADS_2