
Dorrr!
Pyarrr!
Peluru yang seharusnya menancap tepat di jantung Sheilla, justru peluru itu melesat jauh hingga menembus pintu kaca balkon di kamar Digo. Ya, sesaat sebelum Sheilla benar-benar menarik pelatuknya, Digo dengan sigap mencekal lengan Sheilla dan dengan cepat mengarahkan tangan perempuan itu yang tampak bergetar kearah balkon. Dan berakhirlah kini peluru itu memecahkan pintu kaca yang seharusnya anti peluru itu namun berhubung peluru juga pistol yang di miliki Digo hasil rancangan sendiri alhasil kaca anti peluru itu tak bisa menahan bagaimana dahsyat tembakan tadi.
Tubuh Sheilla menegang, bukan karena suara pecahan pintu kaca balkon itu, melainkan ia terkejut saat Digo mengarahkan tangannya tadi juga memeluk tubuhnya dengan sangat erat.
"Tu---tuan," ucap Sheilla dengan suara gagapnya. Ia masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Harusnya Digo membiarkan peluru itu menancap di jantungnya karena itu yang dia mau, tapi lihatlah laki-laki itu justru memeluk dirinya dengan tubuh bergetar, sirat akan ketakutan.
"Apa yang kamu lakukan Sheilla?" tanya Digo tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Sheilla.
"Sa---saya."
"APA YANG KAMU LAKUKAN!" teriakan menggelegar dari laki-laki di hadapannya itu membuat Sheilla memegang kuat sisi bajunya dengan kepala yang ia tundukkan setelah pelukan Digo terlepas.
"Apa kamu gila hah? Kenapa kamu tidak bisa berpikir jernih? Sampai kamu dengan suka rela membunuh diri kamu sendiri hanya untuk meminta maaf kepada saya? Apa kamu segila itu Sheilla!" Sheilla mengigit bibir bawahnya dan hanya kata maaf yang keluar dari bibirnya karena ia tak tau harus mengucapakan kata apa lagi kepada laki-laki aneh di depannya itu.
"Maafkan saya, tuan. Maaf," ucap Sheilla lirih tanpa henti dan hal tersebut membuat Digo menjambak rambutnya frustasi sebelum ia kembali memeluk tubuh Sheilla.
"Saya memaafkanmu tapi jangan pernah mengulangi hal itu lagi. Tanganmu ini boleh membunuh orang lain, tapi jangan digunakan untuk melukai diri kamu sendiri. Kamu mengerti Sheilla?" Sheilla menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Good girl," ujar Digo sembari melepaskan pelukannya lalu mengacak rambut Sheilla. Dan perlakuan dari Digo tadi membuat Sheilla menahan nafas sesaat. Sebelum ia menghela nafas lega setelah Digo berjalan menuju sofa yang sebelumnya ia duduki.
"Tapi masih ada hukuman dari perlakuan kamu tadi siang." Baru saja dirinya menghela nafas karena sudah selamat dari maut untuk kedua kalinya, kini ia sudah di buat dag dig dug lagi dengan perkataan Digo.
"Hu---hukuman?" Digo menganggukkan kepalanya.
"Apa?" tanya Sheilla berharap jika hukumannya kali ini masih manusiawi. Tidak memerintahkan dirinya untuk membersihkan seluruh lantai di rumah itu seperti yang ia lakukan seharian tadi dan juga tidak dengan menaruhkan nyawanya seperti tadi.
"Duduk dulu disini. Saya capek jika harus menengadahkan kepala saya hanya untuk melihat kamu yang berdiri di situ terus," ujar Digo sembari menepuk sofa yang berada di sampingnya. Dan tanpa bantahan Sheilla beranjak dari tempatnya saat ini menuju kearah tempat yang di tunjuk Digo tadi.
"Ambil sekalian makanan itu." Sheilla yang hampir mendudukkan tubuhnya, ia urungkan dan beranjak untuk mengambil makanan milik Digo.
"Suapi saya," ujarnya.
"Hah?" kaget Sheilla.
"Telinga kamu saya rasa baik-baik saja Sheilla. Jadi apa yang saya katakan tadi tidak perlu saya ulangi lagi. Dan apa kamu tidak lihat jika saya tengah sibuk saat ini? Semua laporan ini harus saya selesaikan malam ini juga. Jadi saya tidak sempat untuk menyuapkan makanan itu ke mulut saya. Karena itu sangat membuang-buang waktu saya. Makanya saya meminta kamu untuk menyuapi saya. Tapi jika tidak mau, ya sudah. Bawa makanan itu pergi saja," ujar Digo panjang lebar yang membuat Sheilla menghela nafas panjang namun tak urung tangannya bergerak untuk menyendok makanan lalu menyodorkan di depan bibir Digo.
Sedangkan Digo yang melihat sodoran makanan di hadapannya, diam-diam ia tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak bisa Sheilla lihat.
"Buka mulut tuan. Saya tidak bisa menahan tangan saya jika terlalu lama menunggu makanan masuk kedalam mulut tuan," ucap Sheilla saat Digo masih saja tak menerima suapannya.
__ADS_1
"Nanti dulu. Saya perlu tau siapa yang memasak makanan ini?" tanya Digo dengan menatap kearah Sheilla.
Sheilla mendengus lalu menarik tangannya yang sedari tadi mengambang di udara.
"Saya tidak tau pastinya siapa tuan yang saya tau yang memasak makanan ini adalah koki di rumah ini," jawab Sheilla.
"Bawa kembali makanan itu. Karena saya akan makan masakan kamu untuk malam ini," ujar Digo yang lagi-lagi membuat Sheilla melongo.
"Kenapa harus saya, tuan? Masakan saya tidak seenak masakan koki di rumah ini. Jadi makan ini saja ya," ucap Sheilla. Jujur saja ia sebenarnya tak keberatan dengan permintaan laki-laki di sampingnya itu tapi tubuhnya masih belum pulih sempurna, apalagi tadi ia memaksakan untuk melanjutkan tugasnya hingga seluruh lantai di rumah itu bersih karena ulahnya, setelah kejadian kemurkaan Digo tadi siang. Bahkan ia sampai melupakan untuk membersihkan tubuhnya sore tadi dan berakhir sampai sekarang ia belum mandi.
"Yang mau makan saya, jadi yang perlu menilai masakan kamu adalah saya bukan kamu sendiri. Jadi sekarang cepat masakkan saya makanan, saya lapar!" perintah Digo tanpa mau di bantah lagi.
Sedangkan Sheilla yang sebenarnya sudah sebal setengah mati dengan Digo, ia harus mencoba untuk lebih sabar lagi.
"Baiklah kalau begitu saya akan menjalankan perintah tuan. Tuan mau makan masakan apa?" tanya Sheilla yang sudah berdiri dan menaruh piring yang masih utuh dengan makanan yang ia bawa tadi ke atas nampan lalu kemudian ia mengangkat nampan tersebut.
"Apa saja. Terserah kamu," ujar Digo dengan mata yang fokus menatap layar laptop di depannya.
"Baiklah tuan. Saya permisi dulu. Dan saya harap tuan bisa menunggu beberapa saat." Digo menganggukkan kepalanya yang membuat Sheilla membungkukkan tubuhnya sesaat sebelum dirinya bergegas keluar dari kamar Digo, meninggalkan laki-laki itu yang terus menatapnya hingga dirinya benar-benar hilang dari pandangan matanya.
Dan tanpa siapapun ketahui jika lagi-lagi Digo kini menampilkan senyum tipisnya dengan tubuh yang ia sandarkan di sandaran sofa di belakangnya dengan membayangkan reaksi Sheilla setelah dirinya nanti memberitahu perempuan itu mengenai hukuman yang akan Sheilla dapatkan darinya. Pasti dia akan terkejut bukan main, mungkin juga perempuan itu akan marah-marah kepadanya dan berniat membunuhnya lagi. Atau kalau tidak malah sebaliknya, perempuan itu justru senang dengan hukuman yang ia berikan dan menerimanya dengan lapang dada. Ahhhh Digo benar-benar tak sabar melihat ekspresi Sheilla nanti.
__ADS_1