
Sheilla dan Digo saling bergandengan tangan menuju ke lift untuk menuju ke kamar mereka berdua. Tapi di tengah langkah kakinya, salah satu anak buah Digo berlari mendekati tuannya.
Digo yang penasaran kenapa anak buahnya itu sampai harus berlari-larian pun ia kini angkat suara, "Kenapa kalian berdua lari-lari didalam mansion? Apa ada sesuatu yang tengah terjadi?"
"Benar tuan. Dan ini semua ada kaitannya dengan tawanan kita, Yoga," ucap anak buahnya itu dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Kenapa dengan dia?" tanya Digo.
"Dia kabur dari penjara bawah tanah kita tuan. Seluruh orang yang menjaga didepan penjara dia, semua mati terbunuh," jelas anak buahnya itu membuat Digo kini mengepalkan tangannya.
"Sialan," umpat Digo sebelum dirinya kini mengalihkan pandangannya kearah Sheilla yang juga sempat terkejut dengan penuturan dari anak buah Digo tadi.
"Sayang. Kamu ke kamar duluan. Jangan kemana-mana karena aku takut Yoga masih berkeliaran disekitar sini dan menargetkan kamu yang akan dia celakai," ucap Digo dengan mengelus rambut Sheilla dengan lembut. Sheilla yang mendapat perintah itu pun ia menganggukkan kepalanya tanpa protes apapun kepada sang kekasih.
Tapi sebelum Sheilla bergerak, Digo berteriak memanggil nama Monik.
"Monik!"
Monik yang merasa dirinya di panggil pun ia berlari menghampiri tuannya berada.
__ADS_1
"Ya tuan?" ucap Monik kala dirinya telah berdiri dihadapan Digo.
"Temani Sheilla di kamarnya. Jaga dia disaat saya pergi. Siapapun orang yang mencurigakan bagimu, lumpuhkan dia dengan cara apapun yang kamu bisa. Mengerti?" Monik menganggukkan kepalanya.
"Aku pergi dulu sayang," ucap Digo dengan memberikan kecupan manis di kening Sheilla sebelum dirinya kini berjalan meninggalkan dua perempuan itu yang melihat kepergiannya.
"Sebenarnya apa yang sendang terjadi?" tanya Monik yang belum mengetahui situasi dan kondisi yang tengah terjadi di mansion tersebut.
"Yoga, salah satu tawanan Digo berhasil kabur dari penjara bawah tanah. Dan laki-laki itu dulu adalah orang yang menyuruhku dan memaksaku untuk membunuh Digo. Dan karena aku sekarang mengkhianati dia dan justru berbalik berada di pihak Digo, mungkin selain Digo yang dia incar, aku pun juga menjadi incarannya sekarang untuk dia singkirkan," papar Sheilla yang membuat Monik tampak terkejut.
"Astaga. Kalau begitu ayo kita ke kamar kamu. Aku takut jika dia masih di sekitar sini. Dan tanpa kita sadari dia sekarang tengah mengincarmu," ujar Monik dengan matanya kini bergerak untuk melihat ke sekelilingnya, dimana para anak buah Digo dan Henry berlarian kesana kemarin untuk tetap memastikan semua orang-orang yang berada di mansion tersebut aman.
Tak hanya Monik saja yang matanya aktif melihat ke sekeliling mereka, pasalnya Sheilla pun juga melakukannya sebelum dirinya pergi dari tempatnya berdiri tadi diikuti oleh Monik di belakangnya.
"Aku yakin semua ini bukan ulah dari Yoga. Tapi ada penyusup yang masuk kesini dan membantu Yoga keluar dari sini," ucap Henry yang sempat berjongkok untuk melihat kondisi anak buah Digo yang sudah tidak bernyawa itu.
"Benar apa yang kamu katakan tadi. Ini memang bukan ulah dari Yoga melainkan ulah orang lain yang kemungkinan orang itu anak buah Yoga yang belum sempat kita bunuh waktu itu," kata Digo membenarkan tebakan dari Henry tersebut.
Pasalnya, luka tusukan di dada dan sayatan di leher para mayat itu sama. Jadi tidak mungkin Yoga saja atau hanya ada satu orang yang membunuh keenam anak buah Digo itu. Karena jika satu orang saja, luka pada mayat-mayat itu letaknya tidak akan sama.
__ADS_1
"Singkirkan mayat-mayat ini kubur mereka dengan layak!" perintah Digo kepada anak buahnya yang langsung diangguki oleh beberapa anak buahnya itu sebelum mereka segera menyingkirkan mayat-mayat tersebut.
Sedangkan Digo dan Henry juga beberapa anak buahnya yang tidak melaksanakan tugas yang di berikan oleh Digo tadi, berjalan untuk menyelidiki kaburnya Yoga tadi.
"Sejak kapan disini ada linggis?" tanya Henry dengan mengambil linggis yang ia temukan itu.
Dan pertanyaannya itu tak mendapat jawaban dari salah satu anak buahnya. Sedangkan Digo, ia kini justru menghela nafasnya.
"Linggis itu digunakan untuk membuka kunci ini karena kunci penjara ada di tanganku bukan tangan salah satu mayat tadi. Dan mungkin orang yang membantu Yoga kabur sudah menebak akan hal itu. Jadi mereka melakukan persiapan dengan membawa linggis itu," ujar Digo yang diangguki oleh Henry.
Tatapan mata semua orang yang ada disana teralihkan kala mereka mendengar suara seseorang yang tengah berlari mendekati mereka semua.
"Lapor tuan. Kita tidak menemukan tawanan kita di sekitar mansion ini. Tapi kita menemukan sebilah pisau yang kemungkinan milik salah satu penyusup itu yang tidak sengaja terjatuh di pintu belakang," ujar orang tersebut dengan menyerahkan pisau yang ia temukan tadi ke hadapan Digo yang langsung diambil oleh laki-laki tersebut.
Digo menelisik setiap sisi pisau tersebut hingga ia menemukan tulisan yang terukir di gagang pisau tersebut.
"AXT," celetuk Digo yang membuat Henry penasaran dan akhirnya ia kini mendekati sahabatnya itu kemudian membaca tulisan yang tadi sempat terucap oleh Digo.
"AXT, sepetinya aku pernah mendengar kata itu?" ucap Henry dengan memutar memory di otaknya.
__ADS_1
"Aku ingat. Kata ini adalah kata yang sama yang dulu kita temukan di senapan Sheilla. Hmmmm lebih tepatnya di senapan yang dulu Sheilla gunakan untuk menembakmu. Dan kata itu merupakan kata identitas dari pengusaha besar dari Belanda. Apa mungkin memang Yoga itu anak buah si pengusaha Belanda itu? Walaupun kamu mengira jika pengusaha itu tidak akan macam-macam denganmu karena kalian sudah melakukan perjanjian. Tapi tidak menutup kemungkinan jika dia akan mengkhianati kamu seperti saat ini," tutur Henry yang membuat Digo kini terdiam.
Di dalam satu sisi ia mensetujui ucapan dari Henry tadi. Tapi disisi lain, ia ragu jika pengusaha dari Belanda itulah yang berada di balik semua yang dilakukan oleh Yoga dan Sheilla dulu. Tapi jika memang bukan pengusaha itu yang melakukannya dan mengkhianati dirinya, terus siapa dalang di balik aksi Yoga itu? Dan sekuat apa dia sampai berani menggunakan senjata dari pengusaha dari Belanda tersebut. Atau dia melakukan hal ini dengan tujuan mengadu domba antara Digo dan pengusaha dari Belanda itu yang berarti si dalang tidak akan susah payah untuk menyingkirkan Digo ataupun si pengusaha dari Belanda tersebut dengan tangannya sendiri karena mereka berdua akan tersingkir saat peperangan diantara keduanya itu terjadi.