The Dark Love

The Dark Love
122. Keparnoan Digo


__ADS_3

"Sayang!" teriak Digo saat dirinya mencari keberadaan Sheilla yang saat dirinya mencari di kamar mereka, kekasihnya itu tak ada disana dan hal tersebut membuat Digo menjadi parno sendiri. Bahkan pikirannya sudah mengarah ke hal negatif.


"Sayang!" teriaknya lagi kala dirinya sudah berada di ruang makan tapi ia tak menemukan keberadaan Sheilla.


"Sayang!" teriak Digo lebih kencang lagi yang membuat Sheilla yang berada di taman belakang mansion dengan Monik, ia langsung berlari masuk kedalam mansion tersebut.


"Aku ada disini!" ucap Sheilla kala kakinya baru melangkah kedalam mansion tersebut.


Digo yang melihat kekasihnya pun ia berlari lalu memeluk tubuh Sheilla dengan sangat erat.


"Kamu kemana saja sih? Kenapa aku panggil dari tadi kamu tidak menyahut?" tanya Digo yang semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat Sheilla kesusahan bernafas.


"Dear, apakah kamu berniat membunuhku?" ujar Sheilla.


"Tidak. Omong kosong apa yang kamu katakan itu! Aku melukaimu saja tidak akan tega apalagi membunuhmu. Jangan katakan itu lagi. Aku tidak suka mendengarnya!" ujar Digo yang belum tau saja jika kelakuannya saat ini bisa membunuh Sheilla tanpa ia duga-duga.


"Kalau kamu tidak mau membunuhku maka lepaskan pelukanmu ini. Aku tidak bisa bernafas Dear," tutur Sheilla yang membuat Digo menundukkan kepalanya sebelum dirinya melepaskan pelukannya itu. Dan dengan seketika, Sheilla menghirup udara dengan rakusnya.


"Maafkan aku sayang. Aku tidak tau kalau kamu kehabisan oksigen tadi. Lagian siapa suruh kamu menghilang begitu saja. Aku cariin dari tadi sampai teriak-teriak kamu tidak menyahut sama sekali, jadinya kan bikin aku khawatir," ujar Digo dengan kerucutan di bibirnya.


Sheilla yang melihat Digo tengah mode manja pun ia tersenyum sebelum tangannya menangkup kedua pipi Digo lalu ia memberikan kecupan di bibir sang kekasih itu yang membuat bibir Digo kini berkedut sebelum akhirnya ia tak bisa menahan senyumannya itu.


"Maafkan aku yang tidak bilang terlebih dahulu jika aku mau mencari angin di taman belakang. Dan maafkan aku yang tidak mendengar teriakkanmu yang memanggilku tadi. Maafkan aku ya Dear," kata Sheilla dengan lembut yang langsung diangguki oleh Digo.

__ADS_1


"Jangan di ulangi lagi. Kemanapun kamu pergi walaupun masih berada di dalam mansion kamu harus tetap memberitahuku. Mengerti?"


"Iya Dear, aku mengerti," ujar Sheilla dengan senyum manisnya yang membuat Digo justru gemas hingga berakhir ia mengacak rambut Sheilla. Sebelum dirinya kembali bersuara.


"Sayang, ada hal yang ingin aku katakan ke kamu," ujar Digo dengan menarik tubuh Sheilla kedalam dekapannya.


"Apa?" tanya Sheilla dengan melangkahkan kakinya mengikuti langkah Digo.


"Untuk sementara waktu kamu jangan keluar dari mansion ini dulu ya." Sheilla mengerutkan keningnya. Walaupun dirinya memang sangat jarang keluar dari mansion kecuali dengan Digo, tapi ia penasaran tentang alasan Digo yang melarang dirinya untuk tidak keluar mansion.


"Memangnya kenapa?" tanya Sheilla.


"Situasi diluar sangat bahaya untuk keselamatanmu sayang. Jadi aku harap kamu mau mengerti terlebih dahulu ya dan mau menuruti ucapanku yang melarangmu untuk pergi. Dan untuk dokter yang selalu menangani kamu untuk terapi biar dokter itu saja yang kesini. Kamu setuju kan sayang?" Sheilla menganggukkan kepalanya. Toh dirinya juga lebih nyaman jika dirinya berada di dalam mansion milik kekasihnya itu.


Digo yang melihat anggukkan itu pun ia tersenyum dengan menyematkan satu kecupan di puncak kepala Sheilla. Ia pikir kepalanya nanti akan semakin pusing memikirkan cara untuk merayu Sheilla. Tapi ternyata tanpa dirayu, Sheilla justru langsung setuju begitu saja dengan larangan yang dia berikan tadi. Dan hal tersebut membuat Digo benar-benar sangat bersyukur memiliki kekasih pengertian dan penurut seperti Sheilla itu.


"Tunggu sebentar ya, aku angkat telepon dulu," ujar Digo sebelum dirinya melepaskan tangannya dari pinggang sang kekasih dan berjalan menjauhi Sheilla yang menatapnya dengan gedikkan di bahunya.


Sedangkan Digo yang sudah menjauh dari Sheilla pun ia segera mengangkat telepon dari Bian itu.


"Halo Uncle. Bagaimana dengan kondisi di kantor Uncle?" tanya Digo.


📞 : "Karyawan yang bernama Daren hari ini tidak masuk kerja tanpa alasan atau izin kepada siapapun. Semua rekan kerjanya yang berada di divisi yang sama dengan dia juga tidak ada yang mengetahui alasan dirinya tidak masuk kerja tadi. Uncle tadi juga sempat menyuruh salah satu anak buah Uncle untuk datang ke apartemen dia tapi anak buah Uncle tidak menemukan dia di apartemennya. Nomor ponselnya tidak bisa di hubungi sampai sekarang dan anak buah Uncle masih dalam proses pencarian orang itu," jelas Bian panjang lebar.

__ADS_1


"Berarti dia sekarang menghilang?"


📞 : "Ada kemungkinan seperti itu," jawab Bian yang membuat Digo kini memijit pangkal hidungnya.


"Uncle, Uncle sudah mencoba untuk memeriksa rekaman CCTV di kantor Uncle tidak? Siapa tau laki-laki itu menghilang di area kantor Uncle," ujar Digo.


📞 : "Uncle sudah memeriksa semua rekaman CCTV disana tapi di rekaman itu tak ada satupun yang menangkap pergerakan Daren di kantor. Dan kemungkinan hilangnya dia itu diantara pagi hari saat dirinya ingin berangkat ke kantor atau malah kemarin sore setelah dirinya pulang dari kantor," tutur Bian yang membuat Digo kini menghela nafasnya.


"Sepertinya memang begitu Uncle. Tapi di kantor Uncle semuanya baik-baik saja kan?"


📞 : "Syukurlah, di kantor Uncle baik-baik saja. Tidak ada kerusuhan apapun, semuanya berjalan seperti biasanya," ujar Bian.


"Syukurlah kalau memang seperti itu Uncle. Ya sudah Al tutup dulu teleponnya ya Uncle. Maaf tadi sempat merepotkan Uncle."


📞 : "Tidak ada kata merepotkan di kamus Uncle untuk kamu Al. Uncle yang justru merepotkanmu karena sempat mengkhawatirkan kantor Uncle dan salah satu karyawan Uncle. Uncle akan tetap mencari karyawan itu sampai dia ditemukan. Dan salam untuk kekasihmu," ujar Bian.


"Nanti Al sampaikan salam dari Uncle. Kalau begitu Al tutup dulu. Bye Uncle," tutur Digo. Lalu setelahnya ia memutus sambungan telepon tersebut kala ia mendengar kata balasan dari Bian tadi.


Dan setelah sambungan telepon itu benar-benar sudah tak terhubung, Digo berjalan mendekati Sheilla yang setia menunggunya di tempat dirinya meninggalkannya tadi.


"Sayang, kamu dapat salam dari Uncle Bian," ujar Digo kala dirinya telah berada di hadapan sang kekasih. Dan ucapannya itu membuat Sheilla tersenyum.


"Benarkah?" Digo menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau begitu tolong sampaikan ke Uncle Bian jika aku menerima salamnya dan aku membalasnya," ucap Sheilla dengan excited.


"Baiklah, nanti aku kirimkan balasan salammu tadi lewat pesan." Sheilla menganggukkan kepalanya tanpa melunturkan senyumannya itu. Entah kenapa hanya karena dirinya mendapat salam dari seseorang yang tidak ia kenal, ia se-excited saat ini. Dan ini baru pertama kalinya ia merasakan hal seperti itu.


__ADS_2