The Dark Love

The Dark Love
66. Drama


__ADS_3

Proses upacara penghormatan dan proses pemakaman telah selesai dilakukan. Semua orang yang ikut ke makam mengantarkan Petra ke tempat peristirahatan yang terakhir pun sedikit demi sedikit sudah banyak yang meninggalkan area makam tersebut dan kini hanya tersisa beberapa anak buah Digo yang memang di tugaskan untuk menjaga kelancaran proses tersebut, Vina, bik Nah, Sheilla dan Monik saja yang masih berada di makam tersebut.


"Hiks Petra kenapa kamu tega ninggalin aku sendiri disini? Aku kesepian disini Petra. Aku tidak kenal siapapun disini, semua orang disini jahat Perta kecuali seseorang yang telah menyelamatkanku dari kejadian itu. Orang itu adalah Digo. Dia satu-satunya orang yang baik kepadaku di negara ini. Dia satu-satunya orang yang aku punya disini menggantikanmu yang tega meninggalkanku begitu saja," ucap Vina dramatis sembari memeluk batu nisan yang tertulis nama Petra di sana.


Semua orang kecuali Sheilla dan bik Nah berdecak saat mendengar ucapan dari Vina tadi.


"Jika mau di perlakukan baik maka anda juga harus bersikap baik dengan semua orang yang ada di sekeliling anda saat ini, bukan malah bersikap seperti setan yang tengah cosplay menjadi manusia," timpal Monik tak suka dan hal tersebut membuat Vina melirik sinis kearahnya.


"Tuh kan kamu dengar sendiri, Petra. Mereka semua yang ada disini menjelek-jelekkanku. Menuduhku orang jahat padahal mereka duluan yang jahat kepada ku. Dan katamu dulu jika ada orang jahat kepadaku, aku harus membalasnya dan sekarang aku membalas kejahatan mereka, mereka justru menuduhku yang tidak-tidak, Hiks. Petra mereka jahat hiks," adu Vina kepada gundukkan tanah yang tak bisa mendengar sedikitpun tentang setiap ucapan yang terlontar dari bibir Vina tadi.


Monik yang melihat acara drama yang tengah dimainkan oleh Vina pun ia memutar bola matanya malas.


"Orang mati tidak butuh curhatan anda, tapi dia butuh doa anda. Dan perlu anda tau sampai mulut anda itu nanti berbusa karena terlalu banyak bicara, sampai kapanpun teman anda yang sudah kembali ke tanah tak akan bisa mendengarkan semuanya dan tidak akan pernah bisa membantu anda apapun di dunia ini," balas Monik.


Bik Nah yang mendengar balasan dari ucapan Monik tadi pun ia menghela nafas sebelum wanita paruh baya itu angkat suara.


"Monik sudah. Jangan di perpanjang lagi. Dan untuk anda, nona Vina mari kita kembali ke mansion karena tampaknya sebentar lagi akan turun hujan," ujar bik Nah menengahi pertengkaran secara tidak langsung antara Vina dan Monik tadi.

__ADS_1


Vina tampak menengadahkan kepalanya, menatap langit yang terlihat mendung itu. Lalu setelahnya Vina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan dari bik Nah tadi.


"Petra, aku pulang dulu. Nanti jika aku punya waktu aku akan kesini lagi," ucap Vina sembari mengelus batu nisan milik temannya itu sebelum dirinya berdiri dan lebih dulu melangkahkan kakinya menuju mobil yang mereka tumpangi tadi, meninggalkan para anak buah Digo, bik Nah, Sheilla dan Monik.


"Dasar perempuan tidak tau diri. Tau begini kita tinggalin saja dia disini," gerutu Monik yang kelewat geram dengan tingkah Vina itu.


Sheilla yang mendengar gerutuan dari Monik pun ia terkekeh lalu tangannya bergerak untuk menggandeng tangan Monik.


"Sudahlah, jangan marah-marah terus tidak baik marah di tempat pemakaman seperti ini," ucap Sheilla yang membuat Monik kini menghela nafas panjang kemudian ia menganggukkan kepalanya, setuju jika dia tidak akan marah-marah lagi ditempat peristirahatan terakhir untuk sebagian masyarakat di negara yang tengah ia tempati saat ini.


Lalu kemudian mereka semua kini bergegas menyusul Vina yang sudah lebih dulu sampai di parkiran mobil tadi.


Monik yang melihat hal tersebut pun dengan gemas ia meninju-ninju udara di depannya, ia menganggap jika udara itu adalah Vina.


"Sumpah demi apapun aku ingin membunuh perempuan ular itu sekarang juga," gumam Monik sembari merogo saku celananya untuk mengambil pisau lipat kesayangannya itu. Tapi sebelum dirinya melangkahkan kakinya menyusul Vina, Sheilla dengan sigap mencegahnya.


"Heyyy sabar lah. Jangan berbuat di luar batas, Monik. Kontrol emosimu itu," ucap Sheilla sembari mencoba merebut pisau lipat dari tangan Monik tadi. Dan setelah ia mendapatkannya, ia langsung menyimpan pisau lipat itu kedalam tas kecil, oleh-oleh yang di berikan oleh Digo waktu itu.

__ADS_1


"Sudah ya. Jangan marah lagi. Kita abaikan saja dia mulai sekarang. Kita anggap dia tidak ada dan jika dia berbicara tentang apapun anggap saja jika yang berbicara itu adalah setan yang seharusnya tak kita hiraukan," ucap Sheilla mencoba menenangkan Monik.


Monik tampak menghela nafas berkali-kali sebelum dirinya kini menganggukkan kepalanya.


"Nah daripada kita mikirin perempuan itu. Lebih baik kita makan siang saja yukk. Ini juga sudah jadwalnya kita untuk makan siang dan istirahat," ujar Sheilla sembari menarik lembut tangan Monik dan membawa tubuh perempuan itu masuk kedalam mansion yang tampak sudah sepi tak berpenghuni itu dan hanya ada dua orang penjaga di depan pintu utama mansion itu.


Dan saat Sheilla dan Monik telah tiba di ruang makan khusus para pekerja di mansion tersebut, mereka semua langsung menyambut kedatangan dua gadis cantik itu.


"Sheilla, duduk disampingku sini," ucap salah satu anak buah Digo yang bernama Teo itu sembari menepuk salah satu kursi yang memang masih kosong itu. Teo ini merupakan salah satu penggemar berat Sheilla yang juga berniat untuk mendekati Sheilla seperti teman-temannya yang lain yang kini tengah menatapnya dengan tatapan permusuhan karena kebetulan disamping kanan-kiri mereka tak ada kursi kosong untuk Sheilla tempati saat makan nanti. Semuanya sudah penuh dan kebetulan yang kosong hanyalah kursi disamping kanan Teo dan disamping kiri Marx yang juga tengah menyukai Sheilla.


Sedangkan seorang laki-laki lain yang berbeda dari para anak buah Digo yang lain, kini tatapannya terus tertuju kearah Monik sebelum dirinya kini angkat suara.


"Dan kamu, Monik duduk di tempatku ini saja. Aku sudah selesai makan soalnya," ucap orang yang menatap Monik sedari tadi dan sebut saja dia, Isak. Laki-laki yang menaruh hati kepada Monik sejak mereka pertama kali di pertemukan di mansion ini juga. Tapi sayangnya Isak tidak pernah berani menyatakan isi hatinya kepada perempuan berdarah Amerika itu. Hingga akhirnya dia mencintai Monik dalam diam.


Sedangkan Sheilla dan Monik tampak saling tatap satu sama lain lalu setelahnya keduanya berjalan menuju ke kursi makan. Dimana Monik menuju ke kursi makan yang tadi di duduki oleh Isak sedangkan Sheilla duduk disamping Teo dan Marx.


Dan seperti biasa ditengah-tengah mereka menyantap makan siang, terselip obrolan yang membuat suasana di ruang makan tersebut begitu ramai. Bahkan setelah mereka menyantap makanan, sesekali mereka saling bercanda gurau hingga menciptakan tawa di ruangan itu, menambah kesan keharmonisan dalam mansion tersebut.

__ADS_1


...****************...


Terimakasih 60 likenya di jam 12 lebih ini. Yukkkk semangat lagi agar eps ini juga tembus 60 like. Dan jangan lupa tinggalin KOMEN, VOTE, dan HADIAH ya. Jangan lupa juga share cerita ini ke temen, keluarga atau siapapun ajak mereka juga untuk baca cerita ini. See you next eps bye 👋


__ADS_2