The Dark Love

The Dark Love
237. Kemarahan Henry


__ADS_3

Henry, Monik, Digo serta Sheilla yang sudah masuk kedalam mansion, bertepatan dengan datangnya dua dokter khusus di mansion itu.


Dua dokter itu menghentikan langkah kaki mereka kala melihat keempat orang tersebut yang juga tengah menghentikan langkah mereka.


Dua dokter tersebut saling pandang kala melihat Digo dalam keadaan baik-baik saja tapi yang tengah terluka adalah Monik, istri Henry tercinta. Dan itu benar-benar membuat keduanya bingung pasalnya menurut informasi yang mereka dapatkan dari bik Nah, Digo pingsan setelah meminum sebuah racun. Tapi setelah mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri, mereka yakin jika bik Nah tadi hanya mengada-ada atau malah ingin mengerjai mereka berdua. Tapi bisa dibilang mereka sedang tidak di kerjai sih, karena di sana ada orang yang tengah terluka juga.


Henry yang melihat keterdiaman dari kedua dokter itu pun ia berdecak sebelum dirinya kini angkat suara, "Apa kalian masih mau berdiam diri di situ? Apa kalian tidak melihat jika ada orang yang tengah terluka dan membutuhkan pertolongan kalian? Kalau kalian masih mau seperti orang bodoh, lebih baik kalian keluar dari sini. Biar dokter lain saja yang datang."


Kedua dokter tadi sempat terkejut dengan ucapan dari Henry. Ucapan dengan nada tinggi bahkan tatapan matanya sangat-sangat menakutkan. Ini pertama kalinya mereka melihat sisi lain dari Henry setelah keduanya mengenal laki-laki tersebut beberapa tahun yang lalu. Sangat tidak bisa di percaya Henry yang biasanya slengean dengan mereka menjadi laki-laki tegas seperti ini. Namun sayangnya apa yang tengah mereka alami tadi adalah sebuah kenyataan.


Setelah mengatakan ucapannya tadi, Henry memilih untuk bergegas menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas. Dimana di kamar itu saat ini menjadi tempat persembunyian bik Nah atas perintah Digo.


Sedangkan Digo dan Sheilla, keduanya menghela nafas. Kemudian suara Digo terdengar, "Kalian berdua jangan dengerin apa yang dikatakan oleh Henry tadi. Dia hanya terbawa emosi karena istrinya tengah terluka. Dan lebih baik kalian segara ikut dengan dia keatas. Obati luka Monik dan kalian jangan takut, saya jamin Henry tidak akan macam-macam sama kalian karena saya dan Sheilla akan ikut keatas."


Ucapan dengan pembawa yang tenang membuat kedua dokter tadi mengalihkan pandangan mereka yang awalnya menatap kearah kepergian Henry yang sudah menghilang dibalik pintu lift menjadi ke arah Digo dan Sheilla sebelum kedua dokter itu menganggukkan kepalanya, mensetujui apa yang di perintahkan oleh Digo.

__ADS_1


Dimana anggukan dari kedua Dokter tersebut membuat Digo mempersilahkan keduanya untuk berjalan terlebih dahulu dan barulah Sheilla juga Digo berjalan di belakang dokter Diana dan dokter Shofie.


Sedangkan disisi lain, Henry yang telah sampai di depan pintu kamarnya dengan cepat ia menendang pintu kamar itu cukup keras, mencoba untuk mendobrak pintu tersebut. Aksi dari Henry membuat Monik memutar bola matanya malas. Dan karena ia sudah tidak tahan lagi dengan apa yang tengah Henry lakukan, ia akhirnya angkat suara.


"Hentikan Henry. Jangan seperti ini. Dan lebih baik kamu turunkan aku terlebih dahulu karena yang luka itu lenganku bukan kakiku jadi tidak masalah kalau aku harus jalan kaki atau hanya sekedar berdiri saja. Jadi lebih baik turunkan aku terlebih dahulu dan buka pintu kamar dengan cara yang benar," ucap Monik.


Dimana saat ucapan dari Monik ingin ditimpali oleh Henry, pintu kamar tersebut sudah lebih dulu dibuka oleh bik Nah dari dalam yang membuat sepasang pasutri baru itu langsung mengalihkan pandangan mereka kearah bik Nah.


Raut wajah terkejut pun tak bisa keduanya sembunyikan lagi.


"Bik Nah aku suruh buat mengamankan diri dia di dalam sana. Tidak mungkin kan saat kondisi dilantai bawah tadi masih mencekam dan sewaktu-waktu akan terjadi penembakan lagi, aku malah nyuruh bik Nah untuk pergi dari lantai ini dan menyuruh bik Nah pergi ke kamarnya, bersembunyi disana?" Ucapan dari Digo tadi membuat bibir bik Nah yang ingin menjawab pertanyaan dari Henry, terkatup kembali. Sedangkan Henry dan Monik yang masih berada di gendongan laki-laki itu menolehkan kepala mereka kearah sumber suara berada.


Dimana disana ada empat orang yang tengah berjalan menuju kearah mereka.


Dan setelah mereka sampai dihadapan ke-tiga orang yang masih berdiri di depan pintu, Digo semakin mengikis jarak antara dirinya dan Henry yang sudah memutar tubuhnya. Saat Digo sudah benar-benar dekat dengan Henry, ia menjitak kepala sahabat sekaligus tangan kanannya itu. Ia sangat benci sifat Henry yang selalu marah dengan orang yang tak memiliki salah kepadanya.

__ADS_1


Henry yang mendapat jitakkan maut dari Digo, ia meringis merasakan sakit di kepalanya. Namun ia tak bisa mengusap kepalanya itu karena ia masih dalam posisi menggendong Monik yang sempat terkejut dengan aksi Digo tadi. Namun setelahnya ia menghela nafas panjang.


Sedangkan Digo yang melihat Henry ingin protes kepadanya pun ia dengan cepat menghentikan protesannya yang belum keluar dari bibir Henry sepatah katapun.


"Jangan banyak omong. Segara bawa Monik masuk kedalam jika kamu tidak mau hal yang tidak kamu inginkan terjadi. Dan aku peringatkan ke kamu untuk mengendalikan emosimu itu. Jangan bikin orang yang berniat baik dengan kamu menjadi ketakutan akan ulahmu sendiri," ujar Digo yang tentunya sangat dipahami oleh Henry. Bahkan Henry saat ini mengalihkan pandangannya kearah dokter Diana dan dokter Shofie yang tengah membuang wajahnya agar tak menatap wajah Henry yang masih dalam mode garang.


Henry tampak mendengus. Namun tak urung ia berkata, "Maaf dan segara beri pertolongan ke istri saya."


Setelah mengatakannya, Henry berjalan masuk kedalam kamarnya.


"Masuk lah," ucap Digo yang tentunya ia tujukan kepada dua dokter tadi.


Kedua dokter itu dengan serempak menganggukkan kepalanya. Dan keduanya segera masuk kedalam kamar Henry, sebelum si pemilik kamar nanti semakin marah kepada mereka berdua. Dan kepergian keduanya lagi-lagi diikuti oleh Digo juga Sheilla.


Diana maupun Shofie tengah sibuk memeriksa kondisi Monik sebelum keduanya dengan serempak berkata, "Nyonya Monik harus di operasi!"

__ADS_1


__ADS_2