The Dark Love

The Dark Love
201. Maaf


__ADS_3

Setelah mengucapakan perkataannya tadi, Henry kembali menjauhkan wajahnya dari hadapan perut Monik namun tangannya masih mengelus perut tersebut sebelum ia berucap, "Pernikahan kita akan di adakan beberapa hari lagi. Semua berkas pernikahan kita sudah aku urus termasuk mengenai wali nikah kamu nanti."


Ucapan dari Henry menyadarkan Monik dari pikiran-pikiran didalam otaknya tadi. Tapi tetap saja ia di buat terkejut untuk yang kesekian kalinya dengan ucapan Henry itu. Apalagi saat dirinya mendengar kata panggilan Henry yang sudah diganti yang biasanya menggunakan panggilan formal kini berubah menjadi aku-kamu.


"Ma---maaf tuan. Bisa di ulangi lagi ucapan tuan yang tadi? Karena saya rasa pendengaran saya tengah tidak berfungsi dengan baik untuk saat ini," ucap Monik guna untuk memastikan jika apa yang ia dengar barusan tidak salah.


Mata Henry yang sedari tadi fokus menatap tangannya yang naik turun mengusap perut Monik, ia mengalihkan pandangannya itu tepat di manik mata perempuan yang juga tengah menatapnya.


"Aku akan bertanggungjawab dengan apa yang telah aku lakukan dulu. Aku akan bertanggungjawab atas kamu dan anak kita yang ada di dalam sini. Aku akan menikahi kamu beberapa hari lagi. Agama kita sama jadi tidak sulit bagi kita untuk bersatu walaupun sedikit ada kendala dan kesusahan dalam pengajuan pernikahan karena kita beda negara dan tinggal di negara yang beda pula dengan kewarganegaraan kita masing-masing tapi semuanya sudah bisa aku atasi. Jadi aku harap setelah ini kamu tidak lagi berniat untuk menyingkirkan anak kita. Apalagi berpikir yang tidak-tidak mengenai aku. Aku tidak marah akan berita ini. Jika kamu tanya, aku terkejut dengan berita ini? maka akan aku jawab ya, aku sangat-sangat terkejut dan tidak percaya. Tapi aku masih waras untuk menyuruh kamu menggugurkan anak kandungku sendiri apalagi membunuh kamu. Tidak, aku tidak akan melakukan hal gila itu. Justru aku kecewa sama kamu atas niatan kamu yang ingin melenyapkan anak kita yang tidak tau apa-apa ini bahkan tidak berdosa sama sekali," ucap Henry sangat-sangat jujur dari dalam lubuk hatinya.


Dimana hal itu membuat Monik terdiam. Ia merasa menyesal sekarang karena sudah berniat melakukan kejahatan ke anaknya sendiri.


"Maaf." Satu kata yang bisa Monik ucapkan saat ini kepada Henry dan kepada janinnya yang masih didalam rahimnya itu dengan menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata Henry yang terpancar jelas kekecewaan disana.

__ADS_1


"Sudah tidak apa. Asal kamu tidak mengulanginya lagi." Henry kini berdiri dari posisi duduknya saat nada dering ponselnya berbunyi.


"Aku angkat telepon dulu sebentar," ucap Henry lalu pergi menjauh dari Monik yang menatapnya. Ada satu pertanyaan yang akan Monik tanyakan nanti agar otaknya itu tak lagi berpikir yang tidak-tidak dengan niat baik Henry kali ini.


Henry tampak serius berbicara dengan seseorang di balik telepon tersebut sebelum akhirnya sambungan telepon itu terputus lalu ia segera menghampiri Monik kembali.


"Aku pergi sebentar ke kantor, ada sesuatu yang perlu aku selesaikan disana. Nanti setelah urusanku selesai, aku akan kesini lagi. Jika membutuhkan sesuatu atau mau nitip sesuatu segera hubungi aku." Henry meraih jasnya yang tadi ia letakkan di sandaran kursi di samping brankar Monik. Dan setelah ia selesai memakainya, tanpa Monik duga, Henry membungkukkan tubuhnya dan memberikan kecupan sekilas di puncak kepala perempuan itu yang membuat tubuh Monik menegang seketika dengan jantung yang terpacu kencang.


"Aku berangkat dulu," ucap Henry dengan mengacak rambut Monik. Lalu setelahnya barulah dirinya berjalan untuk keluar dari dalam kamar inap Monik. Namun saat dirinya ingin memutar kenop pintu, suara Monik menghentikan niatannya tadi.


Henry menolehkan kepalanya kearah Monik dengan salah satu alis yang terangkat, seolah-olah alis itu mewakili dirinya bertanya "kenapa?" kepada Monik.


Monik tampak menggigit bibir bawahnya, ia ragu untuk menanyakan pertanyaan yang sudah ia siapkan di otaknya sedari tadi.

__ADS_1


Henry yang melihat Monik diam pun ia menghela nafas kemudian ia berkata, "Jika tidak ada apa-apa. Aku pergi dulu."


Saat Henry ingin kembali membuka pintu, Monik akhirnya bertanya, "Kenapa tuan bisa yakin jika janin yang sekarang tengah saya kandung ini adalah darah daging tuan?"


Henry kembali menolehkan kepalanya dengan senyuman di bibirnya.


"Jika kamu tanya seperti itu, maka aku juga akan bertanya. Memangnya kamu melakukan hubungan badan dengan laki-laki mana saja sampai aku harus meragukan jika janin yang ada di dalam rahimmu itu bukan darah daging saya?"


Ucapan dari Henry itu membuat Monik langsung mengatupkan bibirnya. Sedangkan Henry, ia semakin tersenyum saja sebelum ia berucap lagi, "Aku percaya jika kamu bukan perempuan yang dengan senang hati menyerahkan tubuh kamu ke laki-laki mana saja yang menurut kamu bisa memuaskan napsu kamu. Aku yakin kamu orang baik, Monik yang tidak sembarangan orang bisa menyentuh kamu. Dan seperti pertanyaanmu tadi, kenapa aku bisa yakin jika janin itu adalah darah dagingku karena aku orang pertama yang sudah merebut mahkotamu. Hidup di negeri yang membebaskan hubungan badan, bukan berarti semua orang yang ada di negara itu melakukan hal tersebut. Aku tau kamu lahir dan besar di negara dengan kebebasan yang aku sebutkan tadi. Tapi kamu beda dengan orang-orang itu, kamu bisa menjaga harga diri kamu. Aku tau tidak mudah buat kamu untuk menjaga mahkota itu, tapi kamu berhasil Monik. Dan karena hal itu aku sangat-sangat menghormatimu. Dari situ kamu sudah bisa menyimpulkan kenapa aku bisa sangat percaya jika janin didalam rahimmu itu adalah darah dagingku karena kamu hanya melakukannya denganku."


Setelah mengucapakan perkataan yang cukup panjang, Henry kini benar-benar keluar dari dalam ruang inap Monik. Meninggal perempuan itu yang kini mendudukkan kepalanya dengan air mata yang sudah menetes. Ia benar-benar semakin merasa bersalah saat ini karena sudah berpikir macam-macam tentang Henry padahal laki-laki itu justru berpikir positif tentangnya. Ya Tuhan, jika saja waktu bisa di ulang, mungkin ia tak akan pernah berpikir untuk mengugurkan kandungannya itu tapi ia akan langsung membicarakan tentang masalah tersebut kepada Henry yang ia yakini laki-laki itu akan menyikapi masalah tersebut seperti yang laki-laki itu lakukan tadi.


Tangan Monik kini bergerak mengelus perutnya yang masih rata tersebut dengan mata yang semakin memanas.

__ADS_1


"Maafin Mama, nak kerena sudah berniat menyingkirkan kamu dari hidup Mama dan Papa kamu. Maafin Mama yang sudah hampir menyakitimu. Maafin Mama, maaf," gumam Monik dengan sesenggukan. Kata maaf terus terucap dari bibirnya. Ia tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang memiliki pikiran sempit seperti sebelumnya.


__ADS_2