
Kini semua anak buah Digo telah berkumpul di salah satu rumah yang mereka jadikan markas sementara. Tentang penemuan goa yang berada di hutan sisi Timur sudah sampai ke telinga semua anak buah Digo.
Digo yang berdiri didepan puluhan anak buahnya kini ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencoba untuk mencari penyusup yang kemungkinan menyamar sebagai anak buahnya. Henry pun juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Digo sebelum keduanya kini saling pandang satu sama lain dan setelahnya mereka berdua menganggukkan kepalanya, bertanda jika tak ada penyusup yang menyamar.
Lalu kemudian, Digo kembali menghadap kearah puluhan anak buahnya dan mulai angkat suara.
"Saya rasa sebagian dari kalian sudah tau tentang rencana kita selanjutnya." Suara Digo mulai terdengar, membuat semua perhatian dari puluhan laki-laki tertuju kearahnya.
"Setelah kemungkinan jika pergerakan kita kemarin sudah di ketahui oleh anak buah Yoga. Dan hari ini kita mendapat sebuah informasi penting mengenai jalan rahasia komplotan Yoga. Maka dari itu malam ini saya memerintahkan kalian untuk menyerang langsung ke markas Yoga! Untuk sebagian dari kalian akan saya perintahkan membantu teman kalian yang berada di tempat penemuan jalan rahasia milik lawan. Dan persiapkan diri kalian dan senjata kalian. Kita akan mulai menyerang saat jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Kalian mengerti!" teriak Digo menggema ke seluruh ruangan.
"Siap! mengerti!" jawab seluruh anak buahnya dengan serempak. Tak terdengar keraguan dari jawaban itu hanya ada ketegasan dan kesiapan yang membara.
"Jika sudah mengerti. Bubar sekarang dan mulai siapkan senjata kalian masing-masing!" Kini suara Henry yang mengambil alih. Dan setelah perintahnya itu ia layangkan. Seluruh anak buahnya langsung berpencar menyiapkan segala senjata yang akan mereka bawa menyerang nantinya.
Saat seluruh orang-orang disana disibukkan dengan berbagai persiapan. Digo, si pemimpin justru tengah berjalan menuju ke salah satu ruangan yang ia jadikan sebagai kamar. Perkara senjata, ia tak perlu menyiapkan lagi karena senjata yang selalu ia pegang sudah siap saat dirinya baru menginjakkan kaki di markas sementaranya itu.
__ADS_1
Digo memejamkan matanya sesaat sembari berdiri di depan jendela kamarnya. Tangannya kini sudah menggenggam sebuah benda yang selalu bersama dirinya, melingkar indah di lehernya. Dan benda itu merupakan sebuah kalung beserta liontin pemberian dari seseorang yang tak pernah bisa ia lupakan dari hidupnya. Seseorang yang dulunya membuat dirinya menghangat namun setelah kepergiannya justru menjadi bumerang tersendiri untuk Digo. Karena dengan kepergiannya, sifat dingin yang dulu sempat terkikis harus kembali dan menjadi lebih parah dari sebelumnya. Dan karena alasan ini juga menjadikan dirinya untuk balas dendam kepada siapapun yang mengusik hidupnya.
Dan jangan tanya tentang keluarga yang sudah membuat nyawa seseorang yang berharga di hidupnya menghilangkan, Digo sudah menyingkirkan semua orang-orang itu dengan tangannya sendiri. Seluruh keluarga yang sayangnya masih memiliki ikatan darah dengan bidadari cantiknya itu, sudah ia bunuh dan musnahkan tanpa ada keturunan yang tersisa. Dan hanya kepada keluarga itu lah ia bisa membunuh seorang wanita.
Mata Digo perlahan terbuka, lalu sesaat setelahnya kepalanya menunduk untuk menatap liontin yang berada di genggamannya saat ini.
Senyum lebar yang hampir tak pernah ia perlihatkan kepada orang lain kini terukir di bibirnya saat tangannya memasukkan sebuah kode untuk membuka liontin tersebut. Saat liontin berbentuk setengah hati itu terbuka dan menampilkan foto sepasang anak kecil dengan pose konyol, air mata Digo dengan lancangnya menetes begitu saja.
"Maaf. Maafkan Al, Yura. Maafkan Al yang tidak bisa menepati janji Al ke Yura. Maaf karena saat Al membuka liontin ini Al tidak tersenyum seperti yang Yura katakan dulu. Jika saat itu aku tau merupakan hari terakhir untuk kita bisa saling bertatap muka, aku tidak akan pernah mau mengalihkan pandanganku ke kamu. Yura, Al kangen. Al pengen dengar suara cerewetmu. Al pengen dengar suara semangat yang selalu kamu berikan ke Al. Al rindu kebersamaan kita, Yura. Al rindu Yura. Al kangen pengen ketemu Yura. Nanti saat Al sudah tidur, Yura temuin Al ya. Al pengen peluk Yura. Al pengen lihat senyum Yura lagi. Yura, I Miss You," gumam Digo dengan air mata yang semakin deras menetes membasahi pipinya. Tak lupa ia juga memberikan sebuah kecupan di foto tersebut.
Dan mulai saat itu juga, ia sangat benci dengan tanggal ulang tahunnya sendiri. Tanggal yang sama dengan tanggal kematian sahabatnya.
Digo dengan cepat mengudap air matanya saat suara ketukan terdengar. Dan dengan cepat ia menutup kembali liontin itu lalu setelahnya ia bergerak untuk membuka pintu kamarnya.
"Bagaimana sudah siap semua?" tanya Digo saat mendapati wajah Henry yang terpampang jelas di hadapannya.
__ADS_1
Henry yang tadi sempat terkejut melihat mata serta hidung Digo yang memerah, ia sekarang hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tau hal apa yang membuat bos sekaligus temannya itu bersedih. Dan ia juga sudah tak heran jika saat mereka akan melakukan penyerangan pada lawan, Digo selalu melakukan apa yang ia lakukan hari ini, mengenang sosok sahabat masa kecilnya. Entahlah Henry juga tidak tau alasan Digo melakukan hal itu, mungkin dia selalu teringat akan sosok Yura saat akan terjadi pertumpahan darah, mengingat gadis kecil itu dulu banyak yang mengincar nyawanya dan berakhir satu orang musuh berhasil merenggut nyawa gadis itu. Hingga tangan Henry kini menepuk satu bahu Digo dengan sedikit cengkraman untuk memberikan semangat kepada bosnya itu.
"Kita semua sudah siap. Tinggal nunggu perintah kamu untuk bergerak sekarang," ujar Henry sembari melepaskan tangannya tadi dari bahu Digo.
Digo menatap kearah jam yang terpajang di dinding kamarnya. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 12 lebih 45 menit, tandanya 15 menit lagi mereka harus memulai aksi mereka. Dan jangan ditanya kenapa Digo memilih jam 1 dini hari karena disaat jam tersebut musuh banyak yang sudah mulai kehilangan kesadarannya alias sudah mengantuk dan hal tersebut memudahkan mereka untuk melumpuhkan lawan.
"Baik. Kita akan mulai saja saat ini." Henry menganggukkan kepalanya sembari menggeser posisi berdiri, memberikan celah agar Digo bisa keluar dari dalam kamarnya. Dan seperti biasa, Henry akan mengikuti Digo di belakang.
Saat Digo telah sampai di tempat yang sama seperti sebelumnya, ia sudah melihat semua anak buahnya yang juga sudah berkumpul kembali di tempatnya masing-masing dengan satu senjata yang berada di tangan mereka. Tapi sebenarnya senjata mereka bukan hanya satu saja melainkan masing-masing anak buahnya memiliki 4 senjata utama lainnya yang mereka simpan di balik baju yang tengah mereka kenakan saat ini.
Digo yang melihat kesiapan tanpa keraguan dari anak buahnya itu diam-diam ia tersenyum sangat tipis. Bohong jika ia tak merasa bangga dengan mereka yang sudah membantunya menuntaskan segala permasalahan yang melibatkan dirinya.
"Kalian siap?!" tanya Digo.
"Kita selalu siap, bos!" balas puluhan anak buahnya tersebut dengan serempak.
__ADS_1
"Jika begitu. Tunggu apa lagi... Serang mereka sekarang juga. Bantai habis mereka semua dan tangkap Yoga hidup-hidup!" perintah Digo menggelegar memenuhi rumah tersebut bahkan matanya yang tadi sempat meneduh kini sudah kembali menajam dengan kilatan amarah yang terlihat jelas di sana.