The Dark Love

The Dark Love
212. Kondisi Henry


__ADS_3

Sheilla yang telah mendekati Monik, ia membantu perempuan yang masih menangis itu untuk berdiri dari posisi duduknya tadi. Lalu setelah Monik benar-benar berdiri, ia membawa tubuh Monik ke dalam pelukannya. Dimana hal tersebut langsung di balas oleh Monik sembari perempuan itu berkata, "Henry, She. Henry hiks."


Sheilla memberikan usapan lembut di punggung Monik, mencoba untuk menenangkan perempuan tersebut.


"Kamu tenang saja ya. Yakin lah Henry tidak akan kenapa-napa."


"Tidak She. Dia sedang tidak baik-baik saja. Dia pingsan dengan darah yang mengalir di keningnya. Hiks dan aku disini yang salah. Aku yang salah atas semua kejadian ini. Jika saja aku tidak tidur tadi dan terus mengawasi dia, pasti dia tidak akan masuk kedalam kamar mandi ini dan kejadian ini pasti tidak akan terjadi. Hiks, Henry maafkan aku hiks," ucap Monik dengan sedikit berteriak. Dari dalam kamar mandi yang pintunya terbuka lebar, Monik bisa melihat kondisi Henry yang setia menutup matanya namun darah yang tadi mengalir di keningnya sudah di bersihkan oleh Digo dan laki-laki itu sekarang tengah berusaha untuk menghentikan keluarnya darah Henry. Dimana kondisi Henry saat ini benar-benar membuat hati Monik terluka dan dia terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Jangan menyalakan dirimu sendiri Monik. Semua kejadian ini itu sudah menjadi sebagian takdir Henry. Walaupun kamu tadi tidak tidur dan terus mengawasi Henry, belum tentu juga dia akan terhindar dari kejadian seperti saat ini jika memang sudah menjadi takdirnya. Jadi sudah hentikan jangan terus merasa bersalah seperti ini dan lebih baik kamu sekarang doakan Henry agar tidak terjadi masalah yang serius akibat benturan di kepalanya itu. Daripada kamu terus menangis seperti ini yang tidak ada manfaatnya sama sekali," tutur Sheilla sebelum dia kini melepaskan pelukan Monik di tubuhnya. Ia menangkup kedua pipi Monik, jari jempolnya kini bergerak untuk menghapus air mata perempuan tersebut.


"Dah jangan nangis lagi dan kita keluar dari sini, dekati Henry dan kita akan berdoa yang terbaik untuk dia," ajak Sheilla. Dimana ajakannya itu diangguki oleh Monik.

__ADS_1


Sheilla yang melihat anggukkan kepala itu pun ia tersenyum lalu dengan berjalan beriringan kedua perempuan tersebut keluar dari kamar mandi yang masih terdapat bekas darah Henry di lantainya. Mereka terus melangkahkan kakinya hingga keduanya telah sampai di samping Henry, dan bertepatan dengan itu, pintu kamar tersebut terbuka yang langsung memperlihatkan Diana disana.


Semua mata langsung tertuju kearah Diana yang hanya menghela nafas kala melihat Henry terbaring di atas ranjang sebelum ia melangkahkan kakinya sampai berada di dekat Henry yang otomatis membuat Monik menggeser posisinya berdiri tadi.


"Kenapa dia? Bukannya dia tadi bilang kalau hanya akan terjadi diare saja? Tapi kenapa sekarang malah tiduran seperti ini?" tanya Diana heran yang tentunya pertanyaan tadi ia tujukan kepada Digo.


Tanpa menjawab dengan suara, tangan Digo yang sedari tadi membawa kain dan menutupi kening Henry yang terluka kini ia buka dimana hal tersebut sempat membuat Diana terkejut melihatnya.


"Aku tidak tau pastinya kenapa semua ini bisa terjadi karena kita semua yang ada di sini saat menemukan Henry, dia sudah dalam keadaan seperti ini. Mungkin dia tadi sempat terjatuh dan keningnya membentur wastafel atau kloset karena kita menemukan dia didalam kamar mandi," jawab Digo yang diangguki mengerti oleh Diana yang tengah memulai mengobati luka di kening Henry.


Dimana percakapan dari dua orang tadi membuat Monik menundukkan kepalanya dengan air mata yang menetes kembali.

__ADS_1


Sheilla yang melihat hal itu pun ia kini mengelus lengan Monik.


"Kita keluar dulu yuk. Biar dokter Diana bisa fokus mengobati Henry," ajak Sheilla dengan suara lirihnya takut mengganggu aktivitas Diana.


Monik tampak menatap sekilas kearah Sheilla sebelum dirinya menganggukkan kepalanya. Anggukan kepala yang diberikan oleh Monik itu, membuat Sheilla langsung memapah tubuh Monik untuk keluar dari dalam kamar yang sekarang hanya tinggal tiga orang saja di dalam sana. Dan sebelum Sheilla menutup pintu kamar tersebut, Monik menatap nanar kearah Henry sebelum matanya tertutup kala pintu kamar tersebut juga sudah di tutup rapat oleh Sheilla. Namun beberapa saat setelahnya matanya kembali terbuka kala ia mendengar suara Sheilla.


"Kita tunggu saja di ruang keluarga. Kasihan dedek bayimu kalau kamu memaksa harus terus berdiri di depan kamar ini terus," ucap Sheilla dan tanpa menunggu jawaban dari Monik terlebih dahulu. Sheilla kembali menuntun Monik menuju ke arah ruang keluarga untuk menunggu hasil pemeriksaan Diana tadi.


...****************...


Hay Hay Hay semuanya. Maaf telat update karena kemarin sampai tadi pagi sibuk banget di real life. Maaf ya. Oh ya kalau kalian lihat tulisannya ada yang typo atau salah tandai ya karena aku tidak sempat baca ulang. Terimakasih Love you ❤️

__ADS_1


__ADS_2