
Sheilla memundurkan tubuhnya saat tubuh Digo semakin mendekati dirinya. Hingga tanpa ia sadari jika tubuhnya kini telah menempel di tembok kamar tersebut. Sedangkan Digo kini sudah berdiri beberapa senti didepannya yang membuat jantungnya semakin berdebar. Sheilla menelan salivanya dengan kasar saat tatapan tajam Digo menghunus tepat dimanik matanya. Ia yang tak kuat melihat tatapan mematikan itu, ia memilih untuk mendudukkan kepalanya.
"Tuan, saya benar-benar minta maaf atas apa yang telah saya lakukan," ucap Sheilla dengan takut-takut. Namun ucapannya itu justru tak di gubris oleh Digo. Dan laki-laki itu justru mengambil tangan kirinya dan mengangkat tangan tersebut.
"Siapa?" tanya Digo dengan suara rendah yang semakin membuat Sheilla ketakutan.
"Siapa Sheilla?!" geram Digo.
Sheilla yang tak tau maksudnya ucapan Digo tadi ia memberanikan diri untuk menatap wajah laki-laki itu kembali.
"Maaf maksud tuan?"
"Siapa yang melakukan ini Sheilla?!" tanya Digo yang membuat Sheilla memejamkan matanya sesaat.
"Siapa orang yang berani melukai kamu? Siapa Sheilla? Katakan!" gertak Digo.
"Tuan---"
"Katakan sekarang Sheilla siapa orang yang telah berani melukai pergelangan tangan kamu?!" Sheilla mengalihkan pandangannya kearah pergelangan tangannya yang terperban. Lalu kemudian ia mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Digo dari lengannya namun sayang genggaman tangan laki-laki itu justru semakin mengerat dan membuat dirinya merintih kesakitan.
"Tuan sakit," rintih Sheilla.
"Katakan siapa yang melukai kamu, Sheilla!"
__ADS_1
"Tidak ada orang yang melukai saya tuan," ucap Sheilla.
"Jangan mencoba untuk bohong dengan saya, Sheilla," ujar Digo tak percaya dengan ucapan Sheilla.
"Saya tidak bohong kepada anda tuan. Tidak ada orang yang melukai saya. Tapi saya sendiri yang melukai pergelangan tangan ini," ucap Sheilla dengan jujur. Bahkan air matanya kembali menetes. Entah mengapa Digo yang ia rasa tengah memberikan perhatian kepadanya justru membuat luka di hatinya semakin lebar.
Sedangkan Digo yang mendengar ucapan dari Sheilla tadi membuat dirinya terkejut. Namun ia bisa menyembunyikan keterkejutannya tadi. Sehingga cengkraman di lengan Sheilla tadi kini berubah menjadi genggaman lembut.
Dan tanpa mengucapakan sepatah kata lagi, Digo bergegas membawa Sheilla untuk keluar dari kamar bik Nah. Namun saat Digo mulai melangkah, justru Sheilla tetap berdiri di tempat, dan hal tersebut membuat Digo yang tangannya masih menggenggam erat tangan Sheilla menghentikan langkahnya.
"Tuan---" belum sempat Sheilla melanjutkan ucapannya, Digo sudah memotongnya terlebih dahulu.
"Kembali ke kamar," ujar Digo. Seakan-akan ia tau pikiran Sheilla yang akan bertanya ia akan membawa perempuan itu kemana.
"Kamar?" beo Sheilla. Kamar maksud Digo kamar siapa? Kamar Sheilla? Yang benar saja, Sheilla dirumah ini tidak memiliki kamar karena kamar yang ia tinggali waktu itu sudah ada penghuni yang baru. Masa iya dia akan satu kamar dengan orang lain. Dia sih mau-mau saja tapi bagaimana dengan perempuan itu? Sheilla rasa dia tak akan mau berbagi kamar dengan seorang maid seperti Sheilla ini.
Belum sempat Sheilla tersadar dari keterkejutannya tadi, Digo justru melakukan hal yang sangat meresahkan untuk kesehatan jantung Sheilla. Ya, Digo menggendong Sheilla ala bridal style seperti yang laki-laki itu lakukan tadi kepada perempuan itu. Haishhhhh, mengingat perempuan itu membuat raut wajah Sheilla kembali kusut.
Digo yang melihat perubahan wajah Sheilla pun ia mengerutkan keningnya. Ada apa dengan perempuan itu? Tadi dia sedih penuh dengan kekecewaan, lalu ketakutan, kemudian sekarang berubah menjadi raut wajah kusut penuh dengan kekesalan. Bahkan mata perempuan itu tak menatap dirinya dan justru menatap kearah lain. Dan jangan lupakan dengan tangan perempuan itu yang sama sekali tak melingkar di lehernya seperti yang dilakukan perempuan lain yang pernah ia bopong. Dan perlu diingat perempuan yang pernah ia bopong hanya ibunya, Kiya dan perempuan yang terpaksa ia gendong tadi dan sekarang Sheilla.
Dan hal tersebut justru membuat Digo tak suka. Lalu tubuh Sheilla yang tadi sudah berada di gendongannya kembali ia turunkan. Kemudian ia memutar paksa tubuh Sheilla yang tadinya berdiri tegap membelakanginya menjadi menghadap sempurna kearahnya lalu dengan cepat ia meraih kedua tangan Sheilla dan setelahnya melingkarkan kedua tangan itu di lehernya.
Sheilla yang melihat hal tersebut ia tersentak kaget dan saat dirinya ingin melepaskan tangannya dari leher Digo, laki-laki tersebut langsung menatapnya dengan tajam sembari bersuara, "Jika kamu berani melepas tangan kamu dari leher saya sebelum kita sampai di kamar, saya pastikan tangan kamu ini besok akan terlepas dari tubuhmu." Ancaman itu berhasil membuat Sheilla mengurungkan niatnya tadi.
__ADS_1
Digo yang melihat tak ada pergerakan lagi dari gadis dihadapannya itu membuat dirinya tersenyum sangat tipis saking tipisnya tak bisa di lihat oleh siapapun. Dan dengan cepat ia bukannya menggendong Sheilla ala bridal style seperti sebelumnya, ia justru menggendong Sheilla seperti koala. Dan apa yang dilakukan oleh Digo itu tak luput dari penglihatan bik Nah yang sekarang tengah tersenyum sebelum dirinya beranjak dari depan pintu kamarnya saat Digo mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar tersebut.
Digo terus melangkahkan kakinya menuju lift di lantai tersebut sedangkan Sheilla, gadis itu memilih menyembunyikan wajahnya di lengannya. Ia tak bisa melihat tatapan orang-orang di rumah ini jika tau dirinya di gendong oleh sang tuan rumah. Namun Sheilla tak tau saja jika semua orang yang ada di rumah tersebut sudah bik Nah atasi untuk tak keluar kamar mereka masing-masing terlebih dahulu dengan memberikan alasan jika di luar kamar mereka tengah ada ular besar yang baru ditangani oleh beberapa bodyguard Digo. Sedangkan para bodyguard laki-laki itu, mereka hanya cuek saja toh bukan urusan mereka. Sangat berbeda jauh jika di bandingkan dengan para maid yang biasanya akan terang-terangan membicarakan berita hot yang ia lihat.
Digo kini melangkahkan kakinya memasuki kamar pribadinya setelah lift tadi terbuka. Lalu setelah ia sampai dan menutup kembali pintu kamar tersebut, ia mendudukkan tubuhnya Sheilla diatas ranjang.
"Tuan---" lagi-lagi saat Sheilla ingin berbicara ucapannya kembali di potong oleh Digo.
"Hukuman kamu belum selesai, masih 5 hari lagi," ujar Digo yang membuat Sheilla membelalakkan matanya.
"Hah? Kok bisa? Kan perjanjian hanya satu Minggu saja dan ini sudah lewat satu Minggu tuan, yang berarti hukuman saya sudah selesai," ucap Sheilla.
"Bukankah saat saya keluar dari rumah ini kamu justru tidur di kamar lain Sheilla? Dan siapa yang memerintahkan kamu untuk tidur di kamar itu lagi?" tanya Digo yang masih berdiri di hadapan Sheilla.
Sheilla yang tengah menundukkan kepalanya, ia menggeleng.
"Tidak ada yang menyuruhmu? jadi kamu berinisiatif untuk pindah kamar sendiri? Wahhhhh sepertinya kamu menginginkan hukuman lebih dari saya Sheilla," ujar Digo yang membuat Sheilla kini menengadahkan kepalanya, menatap wajah laki-laki itu.
"Ti---tidak, maksud saya. Saya tidak bermaksud untuk pindah kamar ke kamar nona itu tuan. Saya mengaku salah karena sudah lancang masuk kedalam kamar pacar tuan. Maafkan saya tuan. Jangan hukum saya. Saya mohon," ucap Sheilla dengan menangkupkan kedua telapak tangannya, meminta ampun kepada Digo.
Sedangkan Digo, ia mengerutkan keningnya saat mendengar kata pacar yang keluar dari mulut Sheilla. Apa maksud dari ucapan perempuan dihadapannya ini? batin Digo tak paham.
...****************...
__ADS_1
Ehemmm sepetinya bau-bau kalau Digo hmmmmm simpulkan sendiri deh wkwkwkwk ๐
Yang mau double up angkat tangan dan klik jempolnya di tombol LIKE. Karena jika di eps ini Like sudah mencapai 50 like sebelum jam 12 siang aku bakal doubel up. Jadi yukkkk banyakin LIKE, VOTE, KOMEN dan HADIAHNYA ya. Biar kalian puas bacanya dan aku pun merasa di hargai karena kalian meninggalkan jejak untukku๐ Love you sekebon untuk kalian. See you next eps bye ๐