The Dark Love

The Dark Love
75. Keganasan Sheilla


__ADS_3

"Duduk!" perintah Digo kepada Sheilla saat perempuan itu akan melangkah kakinya pergi dari ruang makan.


Sheilla menghela nafas dan mau tak mau ia kini mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang lumayan jauh dari kursi yang Digo tempati saat ini.


Digo berdecak sebal. Dan daripada ia menyuruh Sheilla untuk berpindah tempat yang akan membuat mereka berdua akan beradu mulut, Digo lebih memilih mengalah dan jadilah dia yang berpindah tempat duduk hingga keduanya kini saling berdekatan.


"Kenapa?" tanya Digo mencoba menghilangkan niatnya sebelumnya untuk mendiami Sheilla. Karena ia tau dirinya sudah kalah sedari tadi dan apa yang dia lakukan itu justru membuat dirinya uring-uringan sendiri.


Sheilla terdiam, ia tak berniat untuk membuka bibirnya untuk menjawab pertanyaan tak jelas dari Digo itu. Bahkan tatapan matanya kini menatap lurus kedepan tanpa melirik sedikitpun kearah Digo.


Digo menghela nafas saat tak ada jawaban sama sekali dari kekasihnya itu.


"Honey, lihat saya." Tangan Digo bergerak menyentuh kedua pipi Sheilla dan membawa kepala kekasihnya itu untuk menghadap kearahnya.


Sedangkan Sheilla, ia langsung menepis tangan Digo hingga terlepas dari pipinya.


"Ishhhh apaan sih pegang-pegang," ucap Sheilla yang membuat kesabaran Digo diuji saat ini.


"Kamu kenapa sih? Saya salah apa sama kamu, sampai kamu bersikap seperti ini dengan saya?" tanya Digo yang sudah tak sabar untuk mendengar alasan Sheilla bersikap berbeda dengannya.


"Menurut anda, saya begini karena apa?" bukannya menjawab Sheilla malah bertanya balik.


"Ya mana saya tau Sheilla. Kalau saya tau, tidak mungkin saya tanya langsung sama kamu," ucap Digo.


"Kamu benar-benar tidak tau kesalahan yang sudah kamu buat dan membuat saya seperti ini?" Dengan ekspresi wajah polosnya Digo menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau begitu pikir dan ingat-ingat lagi kesalahan kamu," kata Sheilla sembari berdiri dari duduknya dan perempuan itu memilih untuk berjalan menuju ke dalam dapur. Meninggalkan Digo yang kini tengah menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Sebegini sulit kan memahami seorang perempuan?" gumamnya dan saat dirinya berniat untuk menyusul Sheilla, kekasihnya itu lebih dulu berteriak.


"Tetap duduk di situ! Jangan bergerak kemana-mana! Jika sampai saya lihat kamu bergerak, saya tidak akan segan-segan untuk memotong adik kamu!" ancam Sheilla sembari keluar dari dalam dapur dengan pisau dan timun yang kini tengah ia potong-potong dengan brutal hingga potongan timun itu jatuh berceceran di atas lantai.


Digo yang melihat kebrutalan dari sang kekasih dalam memotong timun itu, ia menelan salivanya dengan susah payah hingga ia memilih untuk duduk di kursinya lagi.


"Good boy," ucap Sheilla saat melihat Digo sudah terduduk kembali sebelum dirinya masuk kedalam dapur lagi.


Sedangkan Digo, ia melongo dengan apa yang tengah ia alami saat ini. Dia seorang mafia yang dulunya tak takut sama siapapun sekarang dia justru takut dengan Sheilla. Bahkan kekasihnya itu hanya mengancamnya saja tanpa bertindak seperti lawan-lawannya yang lain.


"Ini tidak bisa di percaya, jika saya sekarang takut dengan Sheilla. Oh God kenapa saya sekarang seperti ini? Apa saat saya menikah nanti saya akan masuk ke jajaran suami-suami takut Istri? Yang benar saja. Jika musuh saya tau tentang fakta baru ini, mereka pasti akan menertawakan saya," gumam Digo yang heran dengan dirinya sendiri. Bahkan tubuhnya saat ini terasa seperti di kutub Utara, sangat dingin dan tak bisa ia gerakkan alias membeku dengan sendirinya.


Ia terus berdiam diri di kursinya hingga suara langkah kaki membuat Digo dengan refleks menghela nafas karena ia yakin orang yang baru masuk kedalam ruang makan itu adalah Vina, siapa lagi kalau bukan dia.


"Saya tidak peduli," balas Digo sembari beranjak dari kursi yang tadi ia tempati. Dan niatnya kini untuk kembali ke dalam kamar saja karena napsu makannya sudah hilang sedari tadi.


Tapi saat dirinya melewati pintu yang menghubungkan antara dapur kotor dan ruang makan, bertepatan dengan itu pula Sheilla keluar dari dapur dengan tangan yang membawa dua piring untuk Digo dan Vina.


"Sudah saya bilang bukan, jangan bergerak kemana-mana! Kembali ke kursi makanmu sekarang juga!" perintah Sheilla dengan suara lirih namun penuh dengan penekanan.


"Ck, saya tidak mau," tolak Digo yang membuat Sheilla tersenyum miring.


"Ohh jadi kami tidak mau. Baiklah kamu tunggu disini sebentar saya akan mengambil pisau dulu kedalam," ujar Sheilla dengan suara santai namun terkesan menyeramkan bagi Digo. Dan dengan refleks tangan Digo menutupi aset berharganya itu dengan gelengan di kepalanya.

__ADS_1


"Jangan. Jangan ambil pisau. Saya akan kembali ke kursi makan saya sekarang juga," ucap Digo dan dengan cepat laki-laki itu berlari terbirit-birit menuju ke kursi yang berada di paling ujung meja makan tersebut.


Dan hal tersebut membuat Sheilla terkekeh kecil sebelum dirinya kini menyusul Digo.


Sedangkan Vina yang tadi tampak cemberut karena di tinggal oleh Digo begitu saja pun senyuman di bibirnya kembali terbit saat melihat Digo telah kembali ke ruang makan. Dan dengan gerakan cepat Vina mendudukkan tubuhnya disamping sebelah kanan Digo yang sudah duduk dengan wajah masamnya.


Tapi saat Vina berniat untuk kembali bergelayut manja di lengan Digo, suara Sheilla mengentikan niatnya itu.


"Ehhh ternyata sudah ada Nona Vina disini," ucap Sheilla.


Vina memutar bola matanya malas.


"Bagaimana? Apakah bakteri di tubuh nona Vina sudah tidak ada lagi? Tapi saya rasa bakteri itu sekarang sudah melekat di diri Nona."


"Hentikan omong kosongmu itu Sheilla!" geram Vina.


"Saya tidak omong kosong nona, saya mengatakan sesuai dengan fakta yang saya lihat. Kalau memang bakteri itu sudah menghilang di tubuh Nona, tidak mungkin Nona akan gatal seperti saat ini hingga tubuh Nona harus Nona tempel-tempelkan ke tubuh tuan Digo. Kalau mau meminta bantuan untuk menggaruk tubuh Nona yang gatal itu jangan minta tolong ke tuan Digo karena beliau tidak akan pernah mau membantu Nona. Tapi lebih baik Nona minta bantuan ke saya. Karena dengan senang hati akan saya bantu menggaruk tubuh Nona itu dengan..."


Ting! Sretttt!!!


Sheilla menancapkan pisau lipat milik Monik yang ternyata masih ia bawa itu ke sebuah kain yang digunakan untuk meredam suara dentingan di meja makan tersebut. Tak hanya sampai disitu saja, tapi ia juga menggerakkan pisau tersebut hingga membuat kain peredam suara itu terkoyak.


"Pisau ini," sambung Sheilla sembari mengangkat pisau itu tepat di depan wajah Vina yang otomatis membuat perempuan tersebut memundurkan wajahnya.


Sedangkan Digo yang melihat aksi kekasihnya itu jujur ia merasa ngeri tapi ada rasa bangga juga di hatinya hingga membuat dirinya kini tersenyum tipis.

__ADS_1


"Kekasih saya tuh bos, senggol dong!" batin Digo.


__ADS_2