The Dark Love

The Dark Love
47. Menagih Hukuman


__ADS_3

Sheilla dan Digo kini telah keluar dari dalam mall yang mereka kunjungi dengan beberapa paper bag yang berada di tangan Sheilla maupun tangan Digo.


"Tuan, ini kenapa banyak banget belanja bajunya?" Tanya Sheilla heran pasalnya saat dirinya tadi masuk ke dalam 5 toko baju yang berbeda, beberapa karyawan disana sudah menyiapkan masing-masing 10 paper bag yang entah untuk siapa, Sheilla juga tidak tau. Alhasil mereka berdua hanya masuk kedalam toko-toko itu untuk membayarnya saja. Dan lihatlah mobil Digo sekarang penuh dengan 50 paper bag yang sudah tergeletak di bagasi maupun di kursi belakang.


"Hmmmm. Nanti dirumah kamu pilih sendiri saja. Dan sisanya kamu berikan ke perempuan yang ada di kamar tamu di sebelah kamar kita," ujar Digo yang diangguki oleh Sheilla.


"Ohhhh ternyata baju ini bukan hanya untuk aku saja. Melainkan untuk perempuan itu. Pantas saja banyak sekali. Dan aku yakin harganya tidak ada yang murah. Aduhhh kalau kayak gini aku----" Batin Sheilla terputus saat Digo tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke tubuh Sheilla.


"Jangan bengong terus," ucap Digo sembari memasangkan seat belt untuk Sheilla.


"Ma---maaf tuan," ujar Sheilla dengan gugup. Bagaimana tidak gugup jika wajah Digo dan wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja.


Digo menganggukkan kepalanya sebelum dirinya kembali ke tempatnya dan mulai menjalankan mobil pribadinya.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah yang selama ini mereka tempati, tak ada perbincangan dari keduanya. Sheilla yang fokus dengan pikirannya sendiri sedangkan Digo, laki-laki itu fokus dengan jalanan.


Hingga tak terasa kini mobil yang mereka berdua tumpangi telah sampai di mansion miliki Digo.


"Sudah sampai. Apa kamu tidak mau keluar?" ucap Digo saat mendapati Sheilla yang lagi-lagi terbengong itu.


Sheilla mengerjabkan matanya lalu ia mengalihkan pandangannya kearah Digo.


"Ehhh sudah sampai." Digo memutar bola matanya malas.


"Kalau saya lihat kamu bengong lagi, saya tidak akan segan-segan memberikan kamu hukuman nanti malam," ujar Digo yang membuat Sheilla gelagapan sendiri dibuatnya.

__ADS_1


"Ehhhh jangan tuan. Baiklah maafkan saya. Dan saya janji tidak akan bengong lagi mulai sekarang," ucap Sheilla ketakutan.


"Saya tidak perlu janjimu, saya hanya perlu bukti dari ucapanmu. Dan sekarang turunlah. Panggil beberapa bodyguard buat bantu kamu membawa semua belanjaan ini," ujar Digo yang diangguki oleh Sheilla. Lalu setelah mengucapkan perkataan itu, Digo dan Sheilla keluar dari mobilnya. Dan saat Digo ingin beranjak dari tempatnya tadi. Ia menghentikan niatnya, badannya ia putar kembali ke hadapan Sheilla yang tengah sibuk menurunkan beberapa paper bag dari dalam mobil Digo.


"Sheilla!" panggil Digo.


Sheilla menolehkan kepalanya kearah sumber suara.


"Ya tuan?"


"Bawa semua itu ke kamar kita. Saya tunggu disana." Sheilla menganggukkan kepalanya. Dan setelah ia melihat Digo melanjutkan langkah kakinya, Sheilla kembali fokus dengan paper bag-paper bag yang sudah ada di hadapannya itu.


"Om bodyguard!" teriak Sheilla yang ia tujukan kepada beberapa anak buah Digo yang berjaga di depan pintu utama mansion tersebut.


Dan teriakan yang cukup nyaring itu membuat keempat laki-laki berbadan kekar menatap Sheilla.


"Iya Sheilla? Ada apa?" tanya salah satu dari mereka.


"Sheilla boleh minta tolong kan?" Keempat bodyguard tadi saling pandang sebelum mereka menganggukkan kepalanya.


"Minta tolong apa?"


"Hmmm, jadi begini Sheilla mau minta tolong sama om-om semua buat bantu Sheilla bawa barang-barang ini. Kata tuan tadi Sheilla disuruh minta bantuan ke om bodyguard. Jadi apa om bodyguard keberatan membantu Sheilla? Jika keberatan Sheilla bisa minta tolong ke yang lain kok. Karena kalau Sheilla sendiri yang bawa, kuat sih kuat tapi harus bolak-balik beberapa kali kesini," ujar Sheilla dengan tatapan mata penuh dengan permohonan.


"Tidak Sheilla. Kita tidak keberatan sama sekali kok. Dan kamu tidak perlu meminta bantuan ke yang lain. Karena kita akan membantu kamu. Tapi ini semua akan di bawa kemana?" tanya salah satu bodyguard yang lainnya sembari mulai mengambil beberapa paper bag yang akan ia bawa diikuti oleh ketiga bodyguard lainnya dan juga Sheilla.

__ADS_1


"Kata tuan tadi. Semua ini disuruh bawa ke kamarnya," ujar Sheilla yang diangguki oleh ke empat laki-laki tadi.


Dan beberapa saat setelahnya semua paper bag yang ada di dalam mobil tadi sudah berada di tangan 4 bodyguard dan tangan Sheilla. Lalu setelah memastikan jika tidak ada yang tertinggal, Sheilla melangkahkan kakinya terlebih dahulu di ikuti oleh 4 bodyguard tadi.


Seperti biasa, saat Sheilla telah sampai di depan pintu kamar Digo, ia menyempatkan dirinya untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Dan hanya butuh tiga ketukan saja, pintu kamar tersebut terbuka secara otomatis dari dalam.


"Terimakasih ya Om," ucap Sheilla saat 50 paper bag tadi sudah tergeletak di lantai kamar Digo.


"Sama-sama Sheilla. Kalau begitu kita kembali ke bawah dulu ya," pamit salah satu bodyguard itu yang diangguki oleh Sheilla dengan senyum manisnya.


"Sekali lagi terimakasih ya Om. Semangat bekerja," ujar Sheilla yang dibalas dengan senyum dari keempat bodyguard tadi sebelum mereka segera keluar dari dalam kamar tersebut. Mereka takut saat tak sengaja tatapan mereka bertubrukan dengan tatapan maut milik tuannya yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara mereka dan Sheilla.


"Bisakah kamu jangan memperlihatkan senyumanmu di depan laki-laki lain?" suara bariton milik Digo membuat Sheilla menolehkan kepala kearah sofa dimana Digo berada dengan laptop di pangkuan laki-laki itu.


"Ehhhh menangnya kenapa saya tidak di perbolehkan untuk senyum kepada laki-laki lain tuan? Apa itu merupakan sebuah kesalahan juga?" tanya Sheilla tak mengerti.


"Hmmm, ya itu merupakan kesalahan yang cukup fatal. Dan saya tidak suka melihat kamu tersenyum kepada laki-laki lain. Jadi mulai sekarang jangan tersenyum kepada manusia yang berjenis kelamin laki-laki selain saya. Kamu hanya boleh tersenyum dihadapan saya saja dan tidak untuk laki-laki lain. Jika sampai saya lihat kamu tersenyum apalagi sampai tertawa dengan mereka, kamu akan saya beri hukuman. Kamu mengerti Sheilla?!" Sheilla menelan salivanya, jika Digo sudah mengancam dirinya dengan sebuah hukuman, Sheilla tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah dari laki-laki itu.


"Baiklah tuan, saya tidak akan tersenyum ataupun tertawa dengan laki-laki lain mulai hari ini. Tapi saya mohon jangan hukum saya," ucap Sheilla.


"Saya tidak akan menghukum kamu jika kamu menurut dengan semua yang saya perintahkan. Dan berbicara tentang hukuman. Kamu masih ingat kan Sheilla, jika kamu masih memiliki 3 hukuman berupa kecupan yang belum kamu lakukan. Dan saya sekarang menagihnya," ujar Digo sembari berjalan mendekati Sheilla yang membuat perempuan itu justru berjalan mundur. Hingga tanpa sadar jika tubuhnya sudah membentur tembok kamar tersebut.


Degup jantung Sheilla berpacu cepat saat kedua tangan Digo sudah mengunci pergerakannya.


"Mau saya atau kamu yang memulainya?" tanya Digo sembari mengusap bibir Sheilla yang membuat perempuan itu bergidik ngeri.

__ADS_1


"Hmmm melihat respon kamu sepertinya kamu menginginkan jika saya yang memulainya. Baiklah saya akan kabulkan permintaan kamu, Sheilla," ucap Digo sembari memajukan wajahnya ke wajah Sheilla.


"Dan nikmatilah hukumanmu, baby!" sambung Digo sebelum bibirnya mendarat di bibir merah jambu milik Sheilla.


__ADS_2