The Dark Love

The Dark Love
72. Menyindir Didepan Orangnya


__ADS_3

Bik Nah mengerjabkan matanya sebelum dirinya kini berdehem untuk menetralkan kegugupannya setelah mendengar ucapan Digo tadi yang mengancam anak bik Nah didepan ibunya sendiri.


"Ehemmm baiklah-baiklah. Saya tidak akan mencoba menjodohkan Sheilla dengan putra saya jika memang tuan Digo sudah menganggap Sheilla sebagai kekasih tuan. Tapi saya masih heran, waktu itu ada yang bilang sama saya kalau dia tidak akan pernah jatuh cinta dan terus menyangkal perasaannya sendiri... Tuan Digo dengar sendiri kan orang itu berkata seperti yang saya katakan barusan, karena waktu itu kita satu ruangan. Dan tuan Digo tau tidak siapa yang bilang itu?" sindir bik Nah yang membuat Digo memelototkan matanya. Berani-beraninya wanita paruh baya itu menyindir dirinya secara terang-terangan.


"Ohhhh ya siapa sih bik yang bilang seperti itu? Kok saya jadi penasaran ya," ucap Sheilla dengan melirik kearah Digo.


"Ck, kamu jangan mendengar ucapan dari bik Nah. Bik Nah itu hobi mengarang cerita. Saya benar-benar jatuh cinta sama kamu," ujar Digo.


Sheilla mengerutkan keningnya.


"Lah memangnya bik Nah sedang membicarakanmu?" ucap Sheilla yang membuat Digo langsung terdiam. Sedangkan bik Nah, wanita itu kini tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha, skakmat," tutur bik Nah yang membuat Digo berdecak sebal. Sedangkan Sheilla, perempuan itu ikut terkekeh melihat ekspresi wajah Digo yang baru pertama kali ia lihat.


"Ck, sudah jangan ada yang ketawa!" ujar Digo tak suka.


"Jika kamu ketawa lagi akan saya hukum, Sheilla!" sambung Digo yang lagi-lagi mengancam Sheilla yang membuat kekasih barunya itu langsung bungkam.


"Ancam terus. Lama-lama Sheilla sudah kebal dengan ancamanmu, tuan," timpal bik Nah.


"Bik!" ucap Digo.


"Baiklah-baiklah saya tidak akan menggangu keromantisan kalian berdua. Saya akan menjauh dari sini," ujar bik Nah pada akhirnya. Lalu setelah mengucapkan hal tersebut bik Nah segara melangkahkan kakinya menjauh dari ruang dapur tersebut meninggalkan Digo dan Sheilla disana.

__ADS_1


Sedangkan Sheilla, ia mendengus saat tangan Digo tak kunjung menjauh dari pinggangnya.


"Tuan, bisakah tangan tuan menjauh dulu dari pinggang saya. Saya mau melanjutkan memasak," ujar Sheilla.


"Mulai saat ini kamu tidak akan pernah saya izinkan untuk memasak lagi, tidak saya izinkan untuk menyapu, mengepel, dan hal-hal yang sering kamu lakukan selama dirumah ini," ucap Digo yang justru semakin mengeratkan pelukannya lalu menyembunyikan wajahnya di leher Sheilla.


"Memangnya kenapa? Saya disini kan maid tuan. Kenapa saya tidak boleh melakukan apapun?" tanya Sheilla.


"Ck, apa kamu lupa lagi akan status barumu itu Sheilla. Kamu ini kekasih saya, jadi kamu di mansion ini bukan lagi menjadi maid lagi. Dan satu lagi, kamu jangan memanggil saya dengan sebutan tuan lagi," ujar Digo.


"Terus saya harus memanggil tuan dengan sebutan apa?" tanya Sheilla.


"Baby, darling, hubby, dear, love, atau honey. Terserah kamu pilih yang mana dari nama panggilan itu saya akan menerimanya. Karena akan terdengar sangat indah jika nama panggilan itu keluar dari bibir kamu," ucap Digo yang membuat Sheilla melongo mendengarnya.


"Panggil apa itu kenapa terkesan sangat alay," celetuk Sheilla yang berhasil membuat Digo kini menegakkan kembali tubuhnya lalu dengan gerakan cepat, ia menyentil kening Sheilla.


"Tidak bisakah saya tetap memanggil---"


"Tidak!" potong Digo yang membuat Sheilla menghela nafas berat.


"Baiklah, saya akan memilih Dear?" ucap Sheilla dengan ragu dan hal tersebut justru membuat senyum Digo mengembang.


"Pilihan yang baik, Honey," ujar Digo sembari mengacak-acak rambut Sheilla.

__ADS_1


"Btw Honey, kamu sangat pintar menyembunyikan kissmark ini," sambung Digo sembari menyibak rambut indah Sheilla yang membuat Sheilla mendelik lalu dengan cepat ia melangkahkan kakinya mundur dari Digo. Kemudian ia segera membenarkan letak rambutnya seperti sebelumnya.


"Jangan menggoda saya, tu... emmmm dear. Dan lebih baik kamu kembali ke kamarmu jangan mengganggu saya untuk menyelesaikan acara memasak ini," ujar Sheilla yang merasa geli sendiri saat kata dear ia ucapkan lalu setelahnya ia kembali menghadap kearah kompor lagi. Tapi baru saja tangannya ingin bergerak untuk mengaduk sup jagung itu, centong sayur yang ia pegang lebih dulu Digo ambil dan laki-laki itu lempar ke sembarang arah. Dan dengan gerakan cepat dan tak terbaca oleh Sheilla, Digo mengangkat tubuh kekasihnya itu ala karung beras yang membuat Sheilla memekik kaget.


"Astaga apa yang kamu lakukan!" teriak Sheilla. Tapi sayangnya tak di pedulikan oleh Digo, laki-laki itu justru membawanya keluar dari dapur itu, meninggalkan kompor yang masih menyala itu.


"Astaga, setidaknya kalau kamu mau membawa saya pergi dari dapur, izinkan saya untuk mematikan kompor dulu. Kalau tidak saya matikan, kompor itu bisa meledak nanti dan berakhir mansion ini akan terbakar!" ucap Sheilla dengan memukul-mukul punggung Digo.


"Ck, kenapa saya mempunyai kekasih yang cerewet sekali," kesal Digo saat Sheilla terus memberontak dan tak henti-hentinya bersuara dalam gendongannya.


"Bik Nah!" teriak Digo menggema di seluruh lantai utama mansion tersebut. Dan tak berselang lama bik Nah mendekati dirinya.


"Astaga apa yang terjadi dengan Sheilla?" tanya bik nah yang terkejut dengan aksi Digo kali ini.


"Jangan banyak tanya bik. Bik Nah segeralah ke dapur. Selesaikan masakan yang dibuat Sheilla tadi," perintah Digo dan tanpa menunggu persetujuan dari bik Nah, Digo melanjutkan langkahnya masuk kedalam lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dua kembali. Dan setelah pintu lift tersebut tertutup, Digo menurunkan tubuh Sheilla namun tangan laki-laki itu memeluk tubuhnya dengan sangat erat.


"Setelah ini saya tidak akan pernah membiarkan kamu untuk keluar dari kamar walaupun hanya sejengkal saja," ujar Digo.


"Karena saya hanya ingin berduaan denganmu didalam kamar tanpa harus di ganggu siapapun," sambung Digo.


Dan hal tersebut membuat Sheilla berdecak sebal.


"Apa kamu berniat mengurung saya seperti waktu itu?" tanya Sheilla yang langsung mendapat jawaban gelengan kepala dari Digo.

__ADS_1


"Tidak. Saya tidak akan mengurungmu seperti waktu itu. Tapi saya hanya ingin kamu tetap dikamar saja dan tidak kemana-mana," ujar Digo.


"Ck, itu sama saja. Dan kalau saya di kurung terus didalam kamar, bagaimana cara saya untuk membalas perbuatan Vina yang membuat tangan saya melepuh waktu itu?" Digo tampak terdiam, benar juga apa yang dikatakan oleh Sheilla tadi. Kalau kekasihnya itu terus ia kurung bagaimana dia akan membalas perbuatan Vina dan bagaimana membuat Vina cemburu dan memilih pergi dengan sendirinya di rumah ini? Karena terus terang saja Digo sudah tak betah satu rumah dengan Vina, si perempuan gila yang banyak drama itu. Ingin sekali ia mengusirnya, tapi ia tak begitu tega melakukannya.


__ADS_2