
"Gimana? Saya boleh kan tetap keluar dari kamar?" tanya Sheilla memecahkan keheningan yang sempat tercipta beberapa saat tadi.
Digo tampak berdecak sebelum dirinya kembali memeluk tubuh Sheilla.
"Baiklah terserah kamu. Tapi ingat jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain di rumah ini," ujar Digo yang membuat Sheilla diam-diam tersenyum.
"Baiklah akan saya turuti apa yang kamu perintahkan," ucap Sheilla sembari mengusap kepala Digo.
"Tapi apakah sekarang pelukannya boleh di lepas dulu? Pintu liftnya sudah terbuka," sambung Sheilla.
"Tidak," jawab Digo dengan singkat.
"Ck, ayolah kita tidak bisa disini terus. Sebentar lagi makan malam dan saya belum mandi. Apa kamu tidak mencium bau badan saya ini?" Digo menggelengkan kepalanya dan justru laki-laki itu semakin menelusupkan wajahnya dengan sesekali menggesekkan hidung mancungnya di leher kekasihnya itu yang membuat Sheilla mati-matian menahan diri agar tak menghajar Digo yang benar-benar mesum tingkat dewa.
"Bau kamu akan tetap wangi walaupun tidak mandi sekali pun," tutur Digo.
"Wangi dari mananya coba. Sudahlah jangan membual, kita keluar sekarang dari dalam lift ini. Jangan membuang-buang waktu. Kata kamu waktu itu sangat berharga. Jadi ayolah kita ke kamar sekarang, saya mau membersihkan tubuh saya sebelum nanti saya memulai aksi saya." Digo menyibakkan rambut Sheilla yang tadi menutupi wajahnya di leher perempuan itu dan ia melihat wajah cantik kekasihnya tersebut dengan kerutan di keningnya.
"Aksi apa?" tanya Digo.
__ADS_1
"Kamu mau tau?" Digo menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"Akan saya beritahu nanti kalau kita sudah berada di dalam kamar," ujar Sheilla.
"Kenapa harus didalam kamar kamu baru memberitahu saya aksi apa yang akan kamu lakukan? Kenapa tidak di sini saja?"
"Karena kalau disini takut ada yang lihat dan dengar," jawab Sheilla yang justru membuat Digo langsung menegakkan tubuhnya dengan senyum miring yang tercetak di bibirnya.
"Apa aksi yang kamu maksud itu adalah program baby?" Ucap Digo penuh harap. Sedangkan Sheilla yang mendengar ucapan Digo itu, ia kini menghela nafas panjang. Apakah tidak ada kata lain di otak Digo selain program baby dan kata-kata mesum lainnya? batin Sheilla.
"Tidak. Ini tidak ada kaitannya dengan pikiran mesummu itu. Sudahlah bicara sama kamu tidak akan pernah ada habisnya, pasti saat saya ngomongin apa kamu nangkapnya apa, Ck," ucap Sheilla kemudian ia bergegas keluar dari dalam lift tersebut saat pelukan Digo tadi terlepas diikuti oleh Digo di belakangnya.
"Saya kan tadi hanya menebak saja. Siapa tau tebakan saya itu benar kalau kamu mau mengajak saya buat bikin baby. Apa kamu tidak ingin memiliki baby dari kekasihmu ini, Honey?" Sheilla memutar bola matanya malas dan ia memilih untuk segara menuju ke walk in closed daripada menjawab pertanyaan dari Digo itu yang pastinya akan ia jawab mau tapi bukan untuk saat ini melainkan untuk masa depan jika memang mereka di takdirkan untuk bersama.
Sheilla menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah tampan Digo.
"Kita hanya sebatas sepasang kekasih, tidak wajar jika kita membuat baby saat ini," ujar Sheilla pada akhirnya.
"Come on kita ini sedang ada di negara Prancis. Disini tidak masalah jika kita memiliki baby tanpa ikatan pernikahan," ucap Digo.
__ADS_1
"Tapi saya tidak mau mengikuti budaya sini. Saya lahir dan darah yang mengalir di tubuh saya adalah darah dari budaya timur dimana di negara saya yang juga negara kamu tidak mewajarkan memiliki baby di luar nikah. Jika kamu masih mau ngotot memiliki baby, cari perempuan lain yang mau kamu hamili tanpa ikatan yang pasti," ujar Sheilla yang sepertinya batas kesabarannya sudah habis menghadapi kemesuman dari Digo itu. Dan tanpa menunggu timpalan Digo, Sheilla dengan cepat masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi itu cukup keras.
"Kenapa dia marah? Kan saya tadi hanya menawari, jika dia memang tidak mau ya sudah. Dan apa kata dia tadi, saya disuruh buat cari perempuan lain? Heyyy apa dia kira saya ini laki-laki murahan yang mau menabur benih berkualitas tinggi yang saya punya ini di sebarang tempat. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Benih saya ini harus berada di tempat yang pantas dan tempat itu ada di tubuh dia. Ck, tapi kenapa dia malah menolaknya sebelum dia mencoba memiliki baby dari benih saya ini. Pasti kalau dia mencoba dan lihat hasilnya yang tidak mengecewakan pasti dia mau bikin satu lusin baby sama saya. Ck, menyebalkan," gerutu Digo sembari menatap kearah pintu kamar mandi itu dengan kerucutan di bibirnya. Sebelum dirinya memilih untuk duduk di salah satu sofa di kamar tersebut. Ia berniat akan mendiami Sheilla karena perempuan itu tadi sudah berani marah kepadanya dan menyuruh dia mencari perempuan lain untuk menampung bibit unggulnya itu.
Tak berselang lama kini Sheilla telah keluar dari dalam kamar mandi setelah dirinya selesai melakukan ritualnya selama beberapa menit sebelumnya. Dan saat dia baru keluar, ia menolehkan kepala kearah Digo yang juga tengah menatap dirinya namun saat pandangan mata keduanya bertemu, Digo lebih dulu memutus tatapan mata itu dan dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kearah lain. Dan jangan lupakan kerucutan di bibir Digo yang membuat Sheilla gemas sendiri jadinya.
"Apa dia tengah merajuk saat ini?" batin Sheilla menerka-nerka.
"Dilihat dari wajahnya sih memang dia tengah merajuk. Dan lihatlah bibir manyunnya itu, kenapa sangat menggemaskan sekali? Ahhhh aku tidak menyangka jika seorang Digo ternyata bisa merajuk juga. Aku kira seorang mafia tidak akan pernah merajuk dan terlihat menggemaskan seperti ini. Ya Tuhan, ingin sekali aku menguncir bibir itu. Tapi aku harus menahannya kerena yang seharusnya marah itu aku bukan dia. Dan jika dia bisa merajuk seperti itu maka aku juga bisa lebih dari apa yang dia lakukan saat ini," batin Sheilla kembali.
Lalu setelahnya tanpa menyapa Digo, Sheilla menuju kearah meja rias yang berada di dalam kamar tersebut. Di sana sudah ada beberapa skincare yang dibelikan oleh Digo waktu lalu untuknya. Dan tanpa memperdulikan Digo yang tengah menatap dirinya dengan tatapan penuh kekesalan, Sheilla memulai melakukan rutinitas yang beberapa bulan terakhir tak ia lakukan.
Sedangkan Digo, laki-laki itu berdecak.
"Kenapa dia malah diam saja lihat saya yang hanya diam seperti ini. Bukannya dia harusnya nyamperin saya kesini. Merayu saya agar tidak diam dan merajuk lagi. Tapi lihatlah apa yang dia lakukan setelah dia keluar dari kamar mandi tadi. Dia hanya menatap saya sebentar dan dia justru memilih merawat wajahnya yang sialnya sudah sangat cantik itu tanpa memperdulikan saya yang tengah merajuk dan berniat mendiami dia. Ck, kenapa dia sangat menyebalkan seperti ini sihhh? Ihhhh perempuan menyebalkan, perempuan tidak peka, dan perempuan yang tidak peduli dengan kekasihnya sendiri! Sheilla, kamu benar-benar menyebalkan!" batin Digo uring-uringan.
Bahkan saking keselnya, laki-laki yang diluar sana sering memperlihatkan aura membunuhnya, kini justru ia tengah menghentak-hentakkan kakinya, benar-benar seperti anak kecil yang tengah merajuk dengan ibunya.
Sheilla yang mendengar hentakan kaki pun ia menolehkan kepalanya kearah Digo dengan salah satu alis yang terangkat sebelum dirinya menggedikkan bahunya tak peduli. Kemudian ia kembali dengan aktivitasnya sebelumnya. Dan itu benar-benar membuat Digo kesal setengah mati.
__ADS_1
...****************...
Terimakasih untuk 60 likenya. Untuk itu aku kasih double up hari ini. Yukkkkk semangat eps ini harus 60 like sebelum jam 6 sore. Jangan lupa buat kasih VOTE, HADIAH, KOMEN dan jangan lupa buat SHARE cerita ini ke teman-teman kalian. See you next eps bye 👋