
Setelah kerusuhan di pagi hari tadi melanda mansion tersebut, kini keadaan mansion itu sudah kembali damai lagi karena si biang kerok masih bersemedi di dalam kamarnya alias masih ngambek kepada kedua orangtuanya dan kepada Digo tentunya. Tapi sayangnya tiga orang itu justru tengah mengacuhkan dirinya tanpa ada drama untuk memaksa gadis itu keluar untuk makan, karena mereka tau Kiya kalau sudah lapar pasti keluar sendiri tanpa di minta.
Dan tanpa memperdulikan Kiya yang sudah memusingkan semua orang itu, Digo, Sheilla juga kedua orangtuanya kini tengah mengobrol di ruang keluarga. Digo hari ini benar-benar tidak bisa berangkat kembali ke kantornya dikarenakan ada kedua orangtuanya. Dan urusan kantor biarlah tangan kanannya yang lain mengontrolnya karena Henry beberapa hari ini ia tugaskan untuk ikut anak buahnya mengawasi gerak-gerik pengusaha di Belanda itu.
"Ohhh ya Sheilla, kamu sudah dibawa jalan-jalan kemana saja sama Al?" tanya Mama Ciara penasaran dengan gaya pacaran anak pertamanya itu.
"Hmmmm di sekitar sini saja Ma."
"Hah? Cuma disekitar sini saja? Ya ampun Al, kamu ini laki-laki yang memiliki uang cukup. Tapi kenapa kamu hanya membawa Sheilla disekitar sini saja? Kalau Mama jadi kamu, Sheilla, Mama tidak akan betah punya kekasih yang pelit seperti Al ini. Masak pacaran saja tidak modal," cerocos Mama Ciara yang membuat Sheilla mengigit bibir bawahnya, sedangkan Digo menghela nafas panjang.
"Ma, bukannya Al tidak modal dan pelit hanya saja Sheilla ini tipe orang yang tidak terlalu suka dengan keramaian. Dia lebih suka dirumah saja. Bahkan Al juga sudah memberikan dia dua kartu tapi Al tidak pernah menerima notifikasi tentang pengeluaran dari kartu itu. Dia anak yang suka menghemat Ma," ucap Digo tak mau disalahkan dengan sikap Sheilla yang benar-benar berbeda dari perempuan pada umumnya itu.
"Benarkah begitu Sheilla?" tanya Mama Ciara memastikan yang diangguki oleh Sheilla.
"Ya ampun Sheilla kalau Mama jadi kamu, Mama langsung borong semua baju, tas, sepatu dan aksesoris lainnya dengan merek branded kalau bisa kuras semua uang yang Al punya. Jadi perempuan itu harus pintar-pintar memanfaatkan uang bukan malah dianggurin gitu saja," ujar Mama Ciara yang tak jauh berbeda responnya dengan Kiya waktu itu.
"Dan kalau kamu tidak mau kartu itu, sini kasih ke Mama saja." Tangan Mama Ciara kini menengadah kehadapan Sheilla. Namun beberapa saat setelahnya, telapak tangannya itu di pukul pelan oleh Papa Devano.
"Ck, sayang, apa uang dan kartu yang aku berikan ke kamu itu kurang sampai kamu harus memalak calon menantumu sendiri?" tutur Papa Devano.
"Ck, siapa yang mau malak sih, sayang. Orang maksudku tadi itu mau mengajak Sheilla shopping dengan cara aku pengang kartu dia. Istilah lainnya ucapanku tadi itu sebagai pancingan saja supaya Sheilla mau berbelanja."
"Iya untuk pancingan tapi ujung-ujungnya Mama juga akan ikut beli dengan kartu itu. Iya kan?"
Ucapan dari Digo itu membuat sang Mama kini memperlihatkan cengiran kudanya.
"Kamu tau saja sih Al. Tapi Mama akan belanja hanya satu atau dua barang saja tidak lebih kok. Dan kamu jangan pelit-pelit sama Mama," tutur Mama Ciara.
__ADS_1
"Perasaan Al tidak pernah pelit sama Mama. Ya sudahlah terserah Mama saja, sebahagia Mama," kata Digo mengalah daripada terkena omelan 24 jam nonstop nanti.
"Nah begitu dong. Kalau begitu, ayo Sheilla kita siap-siap untuk pergi sekarang juga," ajak Mama Ciara dengan menarik pelan tangan Sheilla.
Sheilla yang masih canggung pun ia menolehkan kepalanya kearah Digo yang diangguki oleh kekasihnya tersebut.
"Ayo Sheilla," ujar Mama Ciara tak sabaran yang diangguki oleh Sheilla dengan senyumannya. Dan baru saja dirinya berdiri dari duduknya, lengannya sudah di peluk oleh Mama Ciara kemudian barulah mereka melangkah kakinya menuju ke lantai tiga dimana kamar mereka ada disana.
Dan mungkin dua orang itu baru masuk kedalam lift, bik Nah mendekati dua tuannya yang masih stay berada di ruang keluarga.
"Maaf mengganggu waktu tuan Digo dan tuan besar," ucap bik Nah yang membuat kedua laki-laki itu langsung menolehkan kepala mereka kearah bik Nah.
"Kenapa bik?" tanya Digo.
"Itu tuan, taun Bian berkunjung kesini," jawab bik Nah.
"Uncle Bian?" Bik Nah menganggukkan kepalanya.
"Baik tuan," ucap bik Nah. Dan setelahnya ia bergegas menuju ke ruang tamu dimana disana sudah ada Bian yang menunggu Digo.
"Tuan Bian, tuan Digo menunggu tuan di ruang keluarga," kata bik Nah kala dirinya telah sampai di samping Bian.
Bian yang tadi matanya terfokus kearah ponselnya pun ia kini menolehkan kepalanya lalu mengangguk.
"Baik, saya akan kesana sekarang juga. Terimakasih ya bik."
"Sama-sama tuan," balas bik Nah.
__ADS_1
Dan setelah mendengar jawaban dari bik Nah tadi, Bian langsung berjalan menuju ke ruang keluarga.
Dan sesampainya dia di ruangan itu, ia tampak terkejut saat melihat ada Papa Devano disana.
"Lho ada Devano juga ternyata. Kapan datang kesini?" tanya Bian sembari bersalaman ala laki-laki dengan Papa Devano.
"Baru tadi pagi aku sampai sini. Dan dimana Franda? Apa dia tidak ikut kesini?" tanya Papa Devano.
"Dia ikut kesini kok hanya saja dia baru ambil oleh-oleh untuk Digo. Tuh orangnya." Papa Devano dan Digo menolehkan kepalanya kearah wanita paruh baya yang masih awet cantik itu.
"Ya ampun aku kaget lho saat tau ada kamu disini," ucap Franda dan setelah menaruh barang bawaannya ia bersalaman dengan Papa Devano.
"Aku pun juga terkejut saat kalian ada di negara ini juga," balas Papa Devano.
"Kalau aku mah selalu ngikutin dia," ucap Franda dengan kekehannya sebelum dirinya menolehkan kepalanya kearah Digo.
"Ya ampun Al, lama Aunty tidak melihatmu sekarang sudah semakin tampan saja. Ya ampun Aunty sangat merindukanmu Al." Franda kini berhambur kepelukan Digo dimana pelukan dari wanita paruh baya tersebut dibalas oleh Digo.
"Al juga merindukan Aunty." Franda tampak tersenyum kala mendengar penuturan dari Digo itu. Sebelum pelukannya itu ia lepaskan.
"Oh ya kata uncle Bian kamu memiliki seorang kekasih yang sangat cantik. Tapi dimana kekasihmu itu? Aunty juga mau lihat dan di kenalkan sama dia dong," ujar Franda yang membuat Digo tersenyum. Ia tak menyangka semua orang yang ada di dekatnya mendukung hubungannya dengan Sheilla.
"Dia lagi di kamar untuk ganti baju Aunty. Aunty tunggu saja mungkin sebentar lagi dia sudah kembali lagi kesini. Dan selagi menunggu dia, Aunty, Uncle duduk dulu dan nikmat cemilan dan minumannya," ujar Digo yang diangguki oleh dua orang paruh baya itu yang kini mulai mendudukkan tubuhnya di sofa ruangan tersebut.
"Dan ini oleh-oleh untuk Al kan?" tanya Digo sembari mengangkat empat paper bag itu.
"Iya itu untuk kamu dan tentunya untuk kekasihmu itu."
__ADS_1
"Baiklah. Al taruh ini dulu ke kamar. Jadi Aunty, Uncle ditemani sama Papa dulu sebentar," ujar Digo yang diangguki oleh ketiga orang tersebut sebelum dirinya kini berjalan menuju ke arah lift.
Dan setelah Digo tak terlihat lagi, Bian menolehkan kepalanya kearah Papa Devano dengan salah satu alisnya yang terangkat, dimana hal itu dibalas dengan senyuman serta anggukkan oleh Papa Devano.