The Dark Love

The Dark Love
184. Mengantongi Izin


__ADS_3

Keduanya terus melangkah dengan sesekali membalas sapaan dari beberapa tamu di ruangan tersebut. Hingga akhirnya, keduanya menemukan nenek yang tengah makan bersama dengan Kiya dengan sesekali mereka berdua tertawa, entah apa yang tengah mereka bicarakan sampai terlihat keduanya tampak sangat-sangat akrab.


"Nek," ucap Sheilla yang membuat kedua orang yang tengah bercanda gurau tadi terdiam sembari menolehkan kepala mereka kearah sumber suara.


"Lho ehhh kalian kenapa kesini?" tanya nenek Sheilla terkejut dengan kehadiran kedua cucunya itu.


"Hmmmm kita kesini mau bicara sama nenek," balas Digo.


"Mau bicara apa? Apa pembicaraan ini sangat penting sehingga kalian tidak bisa menundanya lagi dan harus di bicarakan sekarang juga?" tanya nenek Sheilla yang merasa tak enak dengan para tamu yang ada didalam ruangan tersebut, terlebih masih ada satu, dua tamu yang berdatangan yang seharusnya mereka berdua sambut kedatangannya bukannya malah mereka pergi begitu saja.


"Iya nek, ini sangat penting dan sangat mempengaruhi masa depan kita berdua. Tidak hanya itu, tapi ini juga sangat mempengaruhi rumah tangga kita berdua." Nenek Sheilla semakin terkejut mendengar ucapan dari Digo itu.


"Kalau begitu, kalian duduk dulu," pinta Nenek Sheilla yang diangguki oleh Digo maupun Sheilla.


"Dan sekarang katakan apa yang ingin kalian bicarakan dengan nenek," sambung nenek Sheilla kala dua cucunya itu telah duduk disampingnya.


Digo dan Sheilla tampak saling pandang satu sama lain sebelum keduanya menganggukkan kepalanya.


"Jadi begini nek, kita berdua berencana setelah resepsi ini selesai kita akan langsung kembali ke Paris," ujar Digo.

__ADS_1


Nenek Sheilla yang mendengar perkataan dari Digo itu ia benar-benar kaget bukan main. Tak hanya nenek saja yang terkejut melainkan Kiya yang duduk disamping nenek pun juga tak kalah terkejutnya hingga makanan yang ada di mulutnya nyembur keluar.


"Kiya!" kejut Digo karena sebagian dari sari makanan tadi mengenai celana Digo.


"Aduh maaf bang. Ini juga gara-gara kamu tau. Kenapa kamu tiba-tiba bilang seperti itu? Bukannya rencana kalian kembali ke negara itu beberapa bulan lagi?" tanya Kiya.


"Kan Abang sudah bilang tadi kalau ini semua menyangkut masa depan rumah tangga Abang. Kalau kita tidak segera pergi, rumah tangga Abang akan terancam bubar. Kamu mau punya Abang duda?"


"Hmmm ya enggak sih. Ya sudah lah terserah Abang aja yang terpenting kalian baik-baik kalau disana dan rumah tangga kalian tetap awet sampai maut memisahkan. Kiya mah bisanya hanya doain yang terbaik untuk kalian. Tapi apa Mama, Papa, Aunty Franda dan Uncle Bian tau rencana kalian ini?" tanya Kiya.


"Gak. Mereka tidak ada yang tau," jawab Sheilla.


"Karena mereka berempat lah yang bisa menjadi alasan rumah tangga kita berdua hancur nek," jawab Digo yang semakin membuat Kiya dan nenek bingung.


"Sebentar-sebentar, nenek belum paham. Mereka berempat kan yang menginginkan kalian berdua bersatu sudah sejak lama tapi kenapa sekarang kamu bilang kalau mereka lah yang menjadi alasan rumah tangga kalian hancur? Jadi coba katakan permasalahan yang kalian tengah hadapi sekarang."


Sheilla tanpa menghela nafas sebelum ia kini menjawab pertanyaan dari nenek tadi.


"Jadi begini nek. Kita berdua tadi kan telat bangun nih ya yang otomatis kita tidak menyambut tamu dari awal acara di mulai. Nah karena hal itu kita berdua jadi mendapat hukuman tidak boleh tidur satu kamar dan satu ranjang nanti malam sedangkan Digo, dia paling tidak bisa kalau tidur tidak bersama Sheilla. Jadi solusi satu-satunya agar kita berdua terhindar dari hukuman itu adalah kembali ke Paris. Dan kita kesini untuk meminta izin ke nenek. Kalau nenek mengizinkan, kita berdua akan langsung berangkat setelah acara ini selesai jika tidak ya terpaksa kita harus menjalankan hukuman yang di berikan sama Mama dan Bunda," jelas Sheilla yang membuat sang nenek mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyuman di bibirnya. Merasa lucu dengan pasangan pasutri baru itu. Padahal dipikir hukuman yang akan mereka dapatkan hanya satu malam saja tidak lebih yang harusnya tak masalah untuk keduanya, namun hanya gara-gara itu, mereka menganggap jika hukum tersebut akan membuat rumah tangga mereka yang baru beberapa jam yang lalu tersebut rentak. Agak berlebihan memang tapi nenek memakluminya karena mereka masih pasangan pasutri baru.

__ADS_1


"Jadi gimana nek? Nenek setuju atau tidak?" tanya Digo tak sabar untuk mendengar jawaban dari neneknya tersebut.


"Baiklah, nenek akan memberikan izin ke kalian berdua. Kembalilah ke negara itu. Jalani kehidupan rumah tangga kalian dengan rukun dan semoga tidak ada permasalahan yang membuat rumah tangga kalian retak. Selalu jalin komunikasi satu sama lain, luangkan waktu kalian untuk saling mengobrol agar hubungan kalian berdua semakin merekat. Dan nenek juga meminta ke kalian untuk tetap menghubungi nenek agar nenek tidak terlalu khawatir dengan kalian berdua. Nenek disini juga sudah tidak sendiri lagi seperti dulu saat kamu bekerja, Sheilla. Tapi nenek sekarang sudah memiliki keluarga lagi bahkan dua keluarga sekaligus yang menerima nenek dengan tangan terbuka. Nenek juga memiliki cucu disini yang akan menemani Nenek." Nenek Sheilla menatap kearah Kiya dengan senyumannya itu. Dimana hal tersebut dibalas dengan senyuman pula oleh Kiya sebelum perempuan tersebut memeluk tubuh nenek Sheilla.


"Ini cucu baru nenek. Jadi kamu tidak perlu khawatir jika nenek disini akan kesepian seperti dulu," sambung nenek yang membuat Sheilla ingin menangis saja. Hingga ia kini ikut memeluk tubuh wanita tua yang sudah rentan itu.


"Nenek beneran tidak apa-apa Sheilla tinggal?" Tanya Sheilla untuk memastikan.


"Tentu saja sayang asalkan kamu tetap menghubungi nenek saat kamu disana." Sheilla dengan mantap menganggukkan kepalanya. Lalu setelahnya pelukan itu ia lepaskan dan matanya kini menatap kearah Kiya.


"Kiya, titip nenek disini ya. Jagain beliau, anggap beliau seperti nenek kamu sendiri dan jangan biarkan orang yang bernama Shinta mendekati beliau," pinta Sheilla.


"Tentu saja Kak. Kamu tenang saja, aku akan terus menjaga nenek dan selalu sayang nenek," balas Kiya yang membuat Sheilla tersenyum kearahnya.


"Baiklah, Kakak percaya dengan kamu. Terimakasih ya sudah mau menjaga nenek." Kiya menganggukkan kepalanya.


"Kalian sudah kan bicaranya sama nenek? Kalau sudah kembali ke tempat kalian sana gih masih ada tamu yang ingin memberikan selamat ke kalian berdua tuh," ujar nenek Sheilla yang membuat Digo maupun Sheilla menatap kearah tempat duduknya dan benar saja masih ada beberapa orang yang berdatangan.


"Ehhh iya. Ya sudah kalau begitu kita berdua kembali kesana ya nek. Dan terimakasih karena sudah memberikan izin ke kita berdua." Nenek tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Dimana anggukan dan senyuman itu dibalas dengan kecupan dari Sheilla di pipi kirinya sedangkan Digo, ia memberikan kecupan di pipi kanannya. Dan setelahnya sepasang suami-istri baru itu pergi dari hadapan nenek dan Kiya yang masih saling berpelukan satu sama lain dengan senyuman di wajah mereka berdua, menatap kepergian Sheilla dan Digo.


__ADS_2