
Saat dua pasangan itu telah sampai di mansion kembali, seperti biasa mereka mendapat sambutan dari maid dan juga para anak buah Digo maupun Henry.
Bik Nah yang turut menyambut kedatangan mereka pun, matanya terbuka lebar saat melihat Monik telah kembali. Dan saking senangnya, bik Nah berlari dari barisan menuju kearah Monik, lalu ia memeluk tubuh gadis itu dengan sangat erat.
"Kamu kemana saja, Monik? Kenapa pergi tidak bilang sama bibik? Bibik khawatir sama kamu," ucap bik Nah dengan mata berkaca-kaca. Dimana hal tersebut membuat Monik tersenyum lalu membalas pelukan dari wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibu itu.
"Maafin Monik yang sudah bikin bibik khawatir," balas Monik.
"Untuk saat ini bibik akan memaafkan kamu tapi jika kamu mengulanginya lagi, bibik akan merajuk, tidak mau bertegur sapa sama kamu lagi," ujar bik Nah sembari melepaskan pelukannya tadi dan menatap wajah Monik yang tersenyum kepadanya.
"Tidak akan. Monik tidak akan mengulangi kesalahan Monik ini." Bik Nah tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Tapi kamu tidak apa-apa kan? Tubuh kamu tidak ada yang luka sama sekali kan?" tanya bik Nah beruntun dengan melihat Monik dari atas sampai bawah.
"Monik baik-baik saja bik. Terimakasih sudah mengkhawatirkan Monik sampai seperti ini," kata Monik yang benar-benar bersyukur telah menemukan sosok ibu di diri bik Nah.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja." Monik menganggukkan kepalanya.
Obrolan yang terjadi diantara dua perempuan itu terhenti kala suara Henry menyela obrolan itu.
"Maaf bik. Monik harus istirahat sekarang karena dia tadi sempat pingsan. Jadi ngobrolnya di teruskan nanti saja ya," ucap Henry yang mengalihkan perhatian dari bik Nah dan Monik.
Dimana bik Nah yang mendengar kata pingsan dari Henry, ia menatap lekat kearah Monik, seakan-akan ia ingin mendengar penjelasan kenapa perempuan di hadapannya itu bisa mengalami pingsan padahal dia tadi bilang baik-baik saja.
__ADS_1
Monik yang melihat tatapan itu ia hanya bisa nyengir kuda dengan menggaruk ujung hidung mancungnya untuk menghilangkan kegugupannya.
"Nanti Monik ceritakan semuanya ke bibik tapi sekarang Monik harus istirahat dulu karena Monik sudah mendapat perintah," tutur Monik dengan melirik kearah Henry. Dimana hal tersebut membuat bik Nah kini menghela nafas panjang lalu ia menganggukkan kepalanya sebelum berucap, "Istirahat yang banyak. Jangan pikirin pekerjaan kamu karena semuanya sudah bibik kerjakan."
"Terimakasih bik. Maaf ngerepotin."
"Tidak, bibik tidak merasa di repotkan. Jangan pikirin itu lagi dan segera lah pergi untuk istirahat," ujar bik Nah yang diangguki oleh Monik.
"Ayo," ajak Henry dengan menggenggam tangan Monik untuk masuk kedalam manison tersebut. Dimana sebelum sepasang calon suami-istri itu masuk karena Digo dan Sheilla ternyata sudah masuk terlebih dahulu, bik Nah membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada mereka.
Namun tak urung, apa yang telah Henry lakukan ke Monik tak luput menjadi tontonan para maid dan bodyguard disana. Mereka bertanya-tanya, ada hubungan apa antara Henry dan Monik sampai mereka harus bergandengan tangan hanya untuk masuk kedalam mansion saja? Dan mereka juga di kejutkan kala Henry bukannya membawa Monik ke kamar perempuan itu melainkan ke kamar pribadi Henry yang hanya beberapa orang saja yang di perbolehkan masuk kedalam sana. Hal itu semakin membuat semua orang penasaran dengan hubungan keduanya. Namun tanpa semua orang sadari, ada salah satu orang yang kini tengah mengepalkan tangannya dengan tatapan tajam menatap punggung Henry dan Monik.
Sedangkan disisi lain, Monik di buat bingung dengan Henry yang membawanya ke kamar laki-laki itu.
"Sepertinya bibirku akan jontor kalau harus menjelaskan berulangkali apa mauku Monik," ujar Henry yang membuat Monik menelan salivanya dengan susah payah.
"Maaf." Henry mendengus kala mendengar kata maaf yang terlontar dari bibir Monik. Dan tanpa menimpali ucapan dari ehemm calon istrinya itu, Henry membuka pintu kamarnya dan masih dengan posisi ia menggenggam tangan Monik, ia ingin melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Namun keinginannya itu terhenti saat ia tak merasakan pergerakan dari Monik untuk mengikuti dirinya.
Henry sedikit memutar tubuhnya agar menghadap kearah Monik dengan salah satu alisnya yang terangkat, seakan-akan alis itu mewakili dirinya bertanya "Kenapa diam disitu?"
Monik yang sepertinya paham pun ia menjawab, "Maaf tu---emm sa---sayang sepertinya ka---kamu salah kamar."
Monik masih kaku untuk mengucapkan kata-kata yang barusan ia lontarkan itu. Yang biasanya ia memanggil tuan keadaan Henry, sekarang harus berganti dengan sebutan sayang apalagi pakai aku-kamu yang membuat Monik benar-benar canggung.
__ADS_1
Sedangkan Henry, kini tersenyum. Walaupun Monik masih kagok melakukan apa yang dia inginkan tapi ia cukup lega karena Monik mau menurutinya.
"Kata siapa aku salah kamar."
"Ini buktinya ka---kamu, huft." Monik tampak menghela nafas kala lidahnya masih kelu namun tak urung ia segara menyambung ucapannya tadi, "Buktinya kamu membawaku ke kamarmu bukan ke kamarku."
"Kamarku adalah kamarmu sekarang. Apa kamu lupa jika sebentar lagi kita akan menikah jadi lebih baik membiasakan untuk tidur satu kamar dan satu ranjang mulai sekarang. Untuk barang-barangmu yang ada di kamar, biar aku nanti suruh bik Nah untuk memindahkannya ke sini. Tapi jangan harap kamu bisa membantu pekerjaan bik Nah itu karena aku tidak akan pernah mengizinkannya. Jangan protes dan lebih baik turuti perintah calon suami," ujar Henry panjang lebar kala ia melihat pergerakan bibir Monik yang akan memprotes ucapannya tadi.
Monik yang mendengar hal itu pun ia hanya bisa menghela nafas pasrah karena percuma saja jika ia menolak yang pastinya Henry tetaplah menjadi sang pemenangnya.
"Baiklah. Aku akan menurut," ucap Monik yang membuat tangan Henry yang masih menganggur kini terulur untuk mengacak rambut Monik.
"Good girl. Kalau begitu silahkan masuk sekarang juga dan segara lah istirahat." Monik menganggukkan kepalanya sebelum ia mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Henry kamar yang menjadi saksi bisu saat dirinya menyerahkan mahkotanya kepada Henry dua bulan yang lalu. Dimana saat Monik mengingat potongan-potongan setiap adegan dirinya dan Henry tengah beradu di atas ranjang didalam kamar itu, ia memejamkan matanya dengan sesekali menghela nafas, guna mencoba untuk menghilangkan rekaman adegan yang masih terngiang-ngiang di otaknya itu yang membuatnya malu sekaligus marah kepada dirinya sendiri.
Henry yang merasakan genggaman tangan Monik semakin mengerat pun ia menolehkan kepalanya kearah Monik.
"Heyy, are you oke?" tanya Henry yang berhasil menyadarkan Monik dari rekaman adegan itu.
"Ahhh ya aku baik-baik saja."
"Kamu yakin?" tanya Henry untuk memastikan. Dimana pertanyannya kali ini di jawab dengan anggukkan kepala oleh perempuan itu.
"Ya sudah kalau gitu tidurlah. Aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu. Nanti kalau waktunya makan aku bangunkan." Lagi dan lagi Monik menganggukkan kepalanya. Henry yang melihat anggukan kepala itu, ia tersenyum dengan tangan yang mengelus pipi Monik sebelum ia bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket itu. Sedangkan Monik yang sudah tak melihat tubuh Henry, ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia merebahkan tubuhnya. Ia akan menghilangkan rekaman adegan yang masih memutar di otaknya itu dengan cara tidur, mungkin itu akan efektif untuk menghilangkannya, pikir Monik sembari menutup matanya.
__ADS_1