
Tak ada yang membuka suara di antara tiga orang yang kini tengah menunggu Sheilla di depan pintu UGD itu. Semuanya tampak diam apalagi Digo yang sedari tadi mengeluarkan aura membunuhnya. Walaupun memang sedari tadi Digo hanya menatap lurus kedepan dengan tangan yang saling menyatu tapi tak bisa di ragukan, aura membunuhnya itu membuat Franda yang duduk sedikit menjauh dari Digo itu merasa merinding di buatnya. Ia pun juga tak berani bertanya apapun kepada Digo.
Hingga suara langkah kaki seseorang yang mendekati mereka membuat tiga orang tersebut menatap kedatangan orang tersebut yang tak lain adalah Bian.
Dimana kedatangan Bian membuat Digo mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan semakin menajam.
Sedangkan Bian yang sudah sampai ia langsung menghadap kepada istrinya itu.
"Gimana? Apa dokter yang menangani Sheilla sudah keluar?" tanya Bian yang dibalas gelengan kepala oleh Franda dimana hal tersebut membuat dirinya kini mengusap wajahnya dengan kasar.
"Astaga. Ya Tuhan," gumam Bian dengan tatapan matanya yang awalnya ingin menatap kearah pintu UGD namun tak sengaja bertemu dengan tatapan tajam Digo yang beberapa saat setelah mereka berdua saling tatap, Digo langsung memutus tatapan keduanya.
Dan hal tersebut membuat Bian justru mengerutkan keningnya.
"Ada apa dengan Al? Kenapa dia tampak berbeda sekali? Apa dia marah dengan kejadian yang menyangkut Sheilla hari ini? Tapi bukannya yang membuat Sheilla masuk rumah sakit adalah Franda bukan aku, tapi kenapa aku juga ikut mendapatkan tatapan mematikan dari dia?" tanya Bian didalam hatinya.
Ia benar-benar penasaran apa yang membuat Digo tampak dingin kepadanya tidak seperti biasanya.
Namun sesaat ia menggelengkan kepalanya menangkis semua pertanyaan negatif tentang Digo itu. Dan ia kini memilih untuk mendekati Digo, duduk disebelahnya lalu tangannya kini bergerak untuk menepuk bahu Digo.
"Tenanglah, Sheilla pasti akan baik-baik saja," ucap Bian yang tak mendapat respon apapun dari Digo. Laki-laki itu terus diam sampai akhirnya pintu ruangan UGD tersebut terbuka yang membuat Digo otomatis berdiri dari duduknya hingga membuat tangan Bian yang tadi menempel di pundaknya jatuh begitu saja.
__ADS_1
Bian yang menganggap Digo tampak berbeda karena tengah khawatir dengan Sheilla pun ia menghela nafas panjang sebelum ia ikut berdiri dan menghadap kepada dokter yang baru keluar dari dalam ruang UGD tersebut.
"Gimana keadaan calon istri saya?" tanya Digo.
"Nona Sheilla masih dalam keadaan pingsan untuk saat ini tuan. Kita akan memastikan dan memeriksa lebih lanjut penyakit apa yang sebenarnya tengah menimpa nona Sheilla. Kita sudah mengambil sempel darah yang akan menganalisa penyakit beliau nantinya. Karena untuk saat ini kita belum menemukan penyakit yang tengah diderita oleh nona Sheilla. Tapi keadaan nona Sheilla sudah cukup membaik. Anda tidak perlu khawatir yang berlebih. Mungkin nona Sheilla akan sadarkan diri nanti atau besok," jelas Dokter tersebut.
"Baik. Dan jika dia sudah di pindahkan ke ruang inap, tempatkan dia di ruang inap paling bagus disini," ucap Digo yang diangguki dengan senyuman oleh dokter tersebut.
"Nanti akan saya sampaikan ke para suster yang akan memindahkan nona Sheilla. Dan untuk hasil lab besok sudah keluar dan akan saya sampaikan ke Anda tuan jika ada hal yang serius. Tapi semoga saja tidak ada," ucap dokter tersebut yang mendapat jawaban aamiin oleh semua orang di sana.
"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu. Mari tuan-tuan dan nyonya," pamit dokter tersebut yang diangguki oleh semua orang yang ada disana. Dimana setelah ia mendapatkan anggukkan itu, dokter tersebut bergegas pergi dari depan ruang UGD tersebut. Namun sebelum ia pergi tadi, ia menyempatkan dirinya untuk memberitahu kepada salah satu perawat disana untuk memindahkan Sheilla ke ruang inap terbagus di rumah sakit tersebut.
Dan beberapa saat setelah kepergian dari dokter tadi, brankar yang berisi Sheilla telah dibawa keluar dari dalam ruang UGD tersebut oleh para perawat disana. Dimana perginya brankar yang berisi Sheilla tadi membuat Digo dan yang lainnya berjalan untuk mengikuti Sheilla.
Sheilla kini telah masuk kedalam ruang inap VVIP di rumah sakit tersebut sejak 8 jam yang lalu. Tapi sejak saat itu Sheilla masih saja menutup matanya, tak ada tanda-tanda jika hari itu juga Sheilla akan terbangun dari pingsannya. Dimana hal tersebut membuat Digo benar-benar khawatir dengan kekasihnya itu. Bahkan saking khawatirnya, ia sampai melewati makan siang ataupun sore. Semua makanan yang di berikan oleh Franda tak dia sentuh sana sekali.
"Sayang, ayo bangun. Ini sudah sore, apa kamu tidak mau pulang hmmm? Nenek pasti sangat mengkhawatirkan kita," ucap Digo dengan suara yang cukup lirih sembari sesekali ia menciumi tangan Sheilla.
"Ayo bangun sayang karena aku tidak tau harus berbohong dengan cara apa kepada nenek nanti. Karena aku tidak bisa berkata jujur kepada nenek tentang keadaanmu yang pastinya nenek nanti akan kepikiran denganmu dan berakhir kesehatan beliau juga akan ngedrop nanti. Jadi ayo sayang bangun," ucap Digo kembali.
Franda dan Bian yang sedari tadi juga berada didalam ruang inap Sheilla itu, mereka tampak kasihan kepada Digo hingga akhirnya Franda berinisiatif untuk mendekati Digo.
__ADS_1
"Al, makan dulu nak," ucap Franda dengan menyentuh pundak Digo dimana hal tersebut langsung mendapat lirikan tajam Digo.
Franda yang tau akan maksud dari lirikan tersebut pun ia langsung menjauhkan tangannya dari pundak laki-laki itu.
"Maaf, maafkan Aunty, Al. Aunty tau Sheilla masuk ke rumah sakit gara-gara Aunty. Tapi Aunty tidak bermaksud untuk membuat Sheilla seperti ini. Aunty tidak tau apa-apa. Aunty juga tidak menyakitinya. Aunty---"
"Sudah cukup. Simpan kata-kata anda itu untuk di persidangan nanti."
Franda yang mendengar ucapan dari Digo itu ia melebarkan matanya. Tak hanya Franda saja yang tampak terkejut akan hal itu, namun Bian pun juga. Ia bahkan sampai berdiri dari posisi duduknya dan ikut bergabung dengan Digo juga Franda.
"Apa maksud dari perkataanmu itu Al?" tanya Bian kala dirinya sudah berdiri disamping sang istri yang kini tengah meneteskan air matanya.
"Saya rasa ucapan saya sudah sangat jelas. Jadi untuk apa saya menjelaskannya lagi," ujar Digo tanpa menatap kedua orang yang berdiri disampingnya itu dan memilih untuk menatap kearah Sheilla.
"Jadi kamu mau memenjarakan Aunty kamu Al?" Tanya Bian kembali.
"Sudah saya bilang bukan ucapan saya tadi sudah sangat-sangat jelas. Jadi jangan bertanya lagi. Dan lebih baik kalian berdua pergi," usir Digo yang membuat Bian kini mengepalkan kedua tangannya sebelum ia meraih kerah baju yang digunakan oleh Digo tersebut yang justru membuat Digo kini tersenyum miring.
"Berani-beraninya kamu punya niatan untuk memenjarakan Aunty kamu sendiri!" kesal Bian.
"Untuk apa saya takut? Saya juga sudah berjanji dengan calon istri saya, siapa yang berani melukai dia maka orang itu akan berhadapan dengan saya. Tak terkecuali dengan istri anda," ujar Digo.
__ADS_1
"Ahhhh satu lagi, masih untung saya menyerahkan kasus ini ke pengadilan bukan ke tangan saya sendiri. Dimana jika tangan saya yang beraksi maka anda akan kehilangan istri anda selama-lamanya. Tapi saya disini masih berbesar hati untuk tidak melakukan hal itu. Karena yang akan saya musnahkan bukan istri anda melainkan Tuan Robert," ucap Digo diakhiri dengan ia tersenyum miring kepada Bian yang tampak membeku di tempatnya. Bahkan perlahan tangannya yang tadi mencengkeram kuat kerah Digo terlepas.