
Saat sepasang pengantin baru itu tengah berduaan didalam kamarnya, tak jauh berbeda dengan Digo dan Sheilla yang saat ini memang tengah di dalam kamar mereka berdua. Tapi bedanya jika Monik dan Henry tengah bermesraan, Digo dan Sheilla justru tengah disibukkan dengan rencana mereka berdua yang sempat mereka diskusikan tadi.
Digo kini tengah menelepon anak buah sang Daddy, kalian masih ingat dengan Doni dan Toni? Yap, dua bodyguard pribadi Digo saat kecil yang sampai saat ini masih bekerja dengan sang Daddy namun dua orang itu sekarang sudah diangkat sebagai ketua bodyguard di mansion keluarga Rodriguez.
Sedangkan Sheilla, perempuan itu tadi sempat meminta Digo untuk membukakan rekaman CCTV di seluruh ruangan di dalam mansion tersebut untuk mengawasi semua orang yang ada di mansion ini, siapa tau ada gerak-gerik seseorang yang patut ia curigai.
Mata cantik Sheilla tak lepas dari layar laptop milik sang suami itu bahkan saat Digo mendekatinya dan berakhir laki-laki itu memeluk pinggangnya juga menaruh dagunya di bahu Sheilla, perempuan itu tak sadar akan kehadiran sang suami hingga dirinya baru tersadar saat Digo bersuara.
"Gimana? Apa ada sesuatu yang mencurigakan yang kamu lihat?" tanya Digo yang membuat Sheilla sempat terkejut sesaat sebelum ia menatap kearah Digo dengan helaan nafasnya.
"Astaga ngagetin aja. Belum, aku belum menemukan sesuatu yang mencurigakan dari mereka semua," jawab Sheilla yang diangguki oleh Digo.
"Jadi gimana hasil dari kamu menghubungi Uncle Doni dan Uncle Toni? Apa mereka bersedia membantu kita?" tanya Sheilla penasaran.
"Hmmm mereka bersedia. Bahkan mereka langsung meminta identitas semua orang yang tinggal dimansion ini," jawab Digo.
__ADS_1
"Syukurlah kalau mereka memang bersedia membantu kita berdua," ujar Sheilla yang diangguki oleh Digo.
Setelah percakapan singkat tadi tak ada lagi percakapan selanjutnya dari sepasang suami-istri itu yang kini tengah fokus menatap layar laptop tersebut yang memperlihatkan rekaman televisi tersebut. Hingga kening Sheilla kini berkerut kala ia melihat seseorang yang baru masuk dari arah pintu yang berada di pojok belakang mansion tersebut. Dimana disana sangat jarang sekali di lewati oleh orang-orang di mansion ini kecuali kalau mereka ingin menaruh atau mengambil barang yang tak terpakai di dalam gudang, barulah mereka melewati pintu itu.
Sheilla terus mengawasi orang itu, tapi ia belum berani memberitahu Digo akan kecurigaannya kepada orang tersebut. Bahkan ia masih sempat berpikir kalau orang yang baru keluar dari pintu tersebut baru saja menaruh barang yang memang tak lagi digunakan didalam gudang karena jika orang itu baru mengambil barang tidak mungkin pasalnya orang tersebut tidak membawa apapun di tangannya.
Mata Sheilla bergerak mengikuti pergerakan orang tersebut, hingga lagi dan lagi keningnya dibuat berkerut kala melihat tujuan laki-laki itu saat ini tengah menuju ke ruang CCTV.
"Apa yang akan dia lakukan? Kenapa dia datang ke ruang CCTV? Bukannya tugas dia bukan di sana?" tanya Sheilla didalam hati.
Ia masih tak ingin memberitahu Digo akan hal tersebut. Sampai matanya dibuat melotot kala tiba-tiba orang tersebut menyuntikkan cairan ke tubuh dua penjaga ruangan CCTV itu hingga tak berselang lama tubuh dua penjaga CCTV tadi tampak terlihat lemas dan berakhir ambruk diatas lantai dingin di ruangan tersebut. Sheilla yang sudah meyakinkan jika memang tidak ada yang beres dengan kelakuan orang yang tengah ia awasi, akhirnya ia kini memberitahu Digo.
"Astaga sayang, kamu kenapa teriak-teriak sih. Aku ngantuk tau mau tidur," ujar Digo dengan menguap sembari merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan otot-ototnya. Dan saat dirinya ingin merebahkan tubuhnya diatas ranjang, tarikan kuat yang dilakukan oleh Sheilla membuat tubuh Digo kembali terduduk.
"Ck, gak ada tidur-tiduran untuk saat ini. Kamu lihat di layar laptopmu sekarang dan arahkan mata kamu ke rekaman di ruang CCTV sekarang juga! Cepat!" ucap Sheilla dengan menepuk-nepuk pipi Digo cukup keras agar suaminya itu tersadar dari rasa kantuknya.
__ADS_1
Dengan mata yang sangat sayu, Digo melakukan apa yang diperintahkan oleh sang istri tadi. Namun setelah Digo melihatnya ia masih menanggapinya dengan santai, bahkan dengan mata yang pejam ia berkata, "Dia salah satu penjaga CCTV."
"Kamu yakin dia salah satu penjaga CCTV? Kalau iya kenapa dia sempat menyuntikkan sesuatu ke rekannya sendiri sampai mereka tepar begitu diatas lantai. Lihat baik-baik dulu lah, Digo! Nanti kalau kamu memang sudah memastikan dengan benar, baru kamu boleh tidur! Lihat baik-baik!" ucap Sheilla dengan nada suara yang ia tinggikan sedikit. Ia sudah kepalang sebal dengan suaminya itu.
Digo yang mendengar suara tinggi dari sang istri pun ia kembali membuka matanya dan dengan berdecak sebal, ia memajukan wajahnya agar matanya yang sudah mulai merabun karena benar-benar mengantuk bisa melihat dengan jelas isi rekaman CCTV tersebut. Ia menatap lekat tubuh laki-laki tersebut sebelum tatapan matanya beralih kearah dua anak buahnya yang sudah tergeletak diatas lantai dengan suntikan yang masih menancap di leher keduanya saat Digo meng-zoom rekaman CCTV itu.
Dimana saat dirinya sudah memastikan baik-baik, membuat kesadaran yang tadinya berangsur hilang kini kembali penuh lagi dengan kedua tangan yang terkepal erat.
"Sialan!" umpat Digo kala satu persatu rekaman CCTV yang ditampilan di layar laptopnya itu berubah menjadi tampilan hitam saja.
Digo yang tak ingin kehilangan jejak manusia penghianat itu, ia kini berdiri dari duduknya kemudian ia bergegas menuju ke nakas, membuka laci nakas tersebut untuk mengambil senjata kesayangannya yaitu sebuah pistol yang ia desain khusus untuk dirinya sendiri.
"Kamu tunggu disini," ucap Digo. Namun saat dirinya ingin keluar dari dalam kamar tersebut, suara Sheilla menghentikannya.
"Permasalahan yang sedang kamu hadapi ini juga merupakan permasalahanku. Jadi sebaiknya bukan hanya kamu saja yang menyelesaikannya tapi aku juga harus ikut menyelesaikan permasalah ini juga," ujar Sheilla yang langsung bergerak menghampiri Digo setelah dirinya mengambil senjata yang sama dengan yang di pegang oleh Digo saat ini juga. Yang tentunya ia dapatkan dari laci nakas milik suaminya tersebut.
__ADS_1
Digo yang sebenarnya tak rela Sheilla ikut bertindak pun ia hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tak mungkin menolak keinginan sang istri jika dirinya tidak mau terlambat untuk segera menemukan penghianat itu sebelum berbuat macam-macam lagi dengan semua orang yang ada dimansion ini. Karena ia sangat yakin jika dia menolak pasti akan terjadi perdebatan yang tentunya akan mengulur waktunya untuk menangkap penghianat tersebut. Jadi Digo dengan terpaksa ia menganggukkan kepalanya, mensetujui Sheilla ikut bertindak.
Dimana setelah anggukkan dari Digo itu, Sheilla langsung menyebunyikan pistol yang tadi ditangannya di balik rok gaun hitam yang tengah ia pakai saat ini. Ia meletakkan pistol itu di sarung pistol yang sudah ia pasang di paha sebelah kanan. Sedangkan Digo, ia meletakan pistolnya itu di balik tuxedo yang tengah ia kenakan. Kemudian keduanya kini bergegas menuju ke ruang CCTV untuk menangkap penghianat itu.