
Digo kini telah sampai di depan ruang kerja Bian dan dengan menggerakkan tangannya, ia mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok tok tok!
"Siapa?!" teriak Bian dari dalam.
"Aku Al, Uncle. Apa Al boleh masuk?!" balas Digo dengan teriakan pula dan tak berselang lama, Bian membuka pintu ruangannya itu dan benar saja saat pintu ruangan tersebut terbuka, ia melihat ada Digo disana yang membuat dirinya langsung memperlihatkan senyumannya.
"Ehhhh Al ada apa?" tanya Bian sembari menutup pintu ruang kerjanya itu.
"Tidak ada apa-apa sih Uncle. Al kesini tadi hanya untuk main-main saja seperti permintaan Uncle kemarin. Tapi Al sekaligus mau membicarakan proyek yang Uncle berikan ke Al waktu itu," ucap Digo yang diangguki oleh Bian.
"Ya sudah kalau begitu kita bicarakan hal itu di taman belakang rumah saja ya." Digo mengerutkan keningnya.
"Kok di taman belakang rumah sih Uncle. Apa Uncle tidak takut jika hal yang kita bicarakan ini akan didengar oleh orang lain. Siapa tau kan ada penyusup di rumah ini. Dan apakah tidak lebih aman kalau kita membicarakan hal yang bersifat rahasia ini di ruang kerja Uncle saja?" ucap Digo.
"Ruang kerja Uncle berantakan Al. Dan kamu tenang saja, Uncle sudah memastikan jika di dalam rumah ini tidak ada seorang penyusup. Jadi aman jika kita membicarakan bisnis di luar. Walaupun memang ada yang mendengar percakapan kita tapi Uncle jamin mereka tidak akan membocorkan hal rahasia yang kita akan bahas ini ke orang lain. Jadi kamu tenang saja. Dan lebih baik kita langsung ke taman belakang rumah sekarang juga," ucap Bian sembari melangkahkan kakinya terlebih dahulu dari Digo.
Namun saat ia merasa Digo tidak mengikutinya, Bian langsung menghentikan langkahnya kemudian ia memutar kembali tubuhnya hingga ia bisa melihat Digo yang masih berdiri tegak di tempatnya tadi. Dimana mata laki-laki itu terus tertuju kearah pintu ruang kerja Bian.
__ADS_1
Bian yang melihatnya pun ia berdecak sebelum ia kembali angkat suara.
"Ayo Al kita pergi sekarang," ujar Bian yang masih saja di hiraukan oleh Digo. Dan hal tersebut membuat Bian dengan terpaksa harus menghampiri Digo kembali. Dan saat ia telah sampai di samping laki-laki yang sudah ia anggap anak sendiri itu, ia merangkul leher Digo hingga membuat Digo tersadar dari lamunannya tadi.
"Ayo Al," ucap Bian sembari mulai melangkahkan kakinya dengan posisi yang masih merangkul Digo. Dimana hal itu mau tak mau membuat Digo juga melangkahkan kakinya.
"Al tidak masalah dengan ruang kerja Uncle lho mau itu bersih atau kotor, Al tidak masalah jika harus masuk kesana. Jadi lebih baik kita bicarakan semuanya di dalam ruang kerja Uncle saja. Sumpah demi apapun Al khawatir rahasia perusahaan kita akan bocor," ucap Digo yang masih berusaha untuk membujuk Bian agar mereka membicarakan hal penting itu didalam ruang kerja Bian saja. Tapi tujuan Digo ingin masuk kedalam ruang kerja Bian bukan hanya untuk menjaga rahasia perusahaan saja melainkan ia tengah mencurigai ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Bian di dalam ruang kerja laki-laki itu.
"Tidak, tidak. Kita tetap membicarakan hal itu di taman belakang rumah saja. Rahasia kita juga tidak akan terbongkar," ucap Bian kekeuh sembari mulai menuruni anak tangga didalam rumahnya itu.
Dan ucapan dari Bian tersebut membuat Digo hanya bisa menghela nafas panjang. Mungkin bukan untuk saat ini bisa melihat ada apa di dalam ruang kerja Bian itu tapi Digo pastikan cepat atau lambat ia akan tau semuanya yang Bian sembunyikan di ruang kerjanya itu jika memang benar laki-laki itu sekarang tengah menyembunyikan sesuatu. Jika tidak, Digo akan bersyukur nantinya.
"Ehhhh ada Sheilla juga ya," ucap Bian dengan melepaskan rangkulannya tadi dari leher Digo sebelum dirinya melangkahkan kakinya menghampiri kedua perempuan yang berada di ruang tamu tersebut.
Sheilla yang mendengar namanya disebut oleh seseorang pun ia mengalihkan pandangannya kearah sumber suara. Dan saat dirinya melihat Bian, ia tersenyum ke arah laki-laki itu.
"Hayyy Papa," sapa Sheilla kala Bian telah sampai di depannya. Dimana sebutan Papa yang keluar dari bibir Sheilla membuat Bian terkejut namun sesaat setelahnya ia tersenyum kemudian ia merentangkan tangannya.
Sheilla yang paham akan kode itupun ia berdiri dari duduknya lalu memeluk erat tubuh laki-laki paruh baya itu yang membuat mata Bian berkaca-kaca. Sepertinya dia tengah ingat dengan putri kecilnya itu.
__ADS_1
"Uncle rindu kamu, Sheilla." Sheilla tersenyum dibalik pelukannya itu.
"Sheilla juga rindu Uncle," balas Sheilla yang otomatis membuat Franda tersenyum sebelum wanita paruh baya itu berdiri dan ikut memeluk tubuh Sheilla.
Digo yang melihat hal itu ia memutar bola matanya malas. Namun ia juga merasa aneh kenapa keluarga sahabat masa kecilnya itu seperti sudah mengenal Sheilla sangat lama sampai mereka benar-benar bisa mengakrabkan diri mereka ke Sheilla. Padahal jika dilihat-lihat Bian dan Franda akan selalu menjaga jarak kepada orang asing yang baru mereka kenal. Tapi kenapa dengan Sheilla, perlakuan mereka terlihat berbeda dengan orang lain yang baru mereka kenal itu? Dan masih banyak lagi pertanyaan tentang Bian dan Franda yang tiba-tiba akrab dengan kekasihnya itu. Namun Digo tidak bisa meluapkan pertanyaannya itu sekarang, tapi dia yakin cepat atau lambat semua pertanyaan yang ada didalam otaknya saat ini akan segera terjawab.
Dan daripada Digo menebak-nebak jawabannya sendiri yang belum tentu benar, ia memilih untuk mendekati ketiga orang yang masih saling berpelukan itu. Bahkan terlihat Bian dan Franda kini tengah menangis.
"Ya elah si Aunty sama Uncle drama banget sih. Pakai acara nangis segala. Padahal baru juga kemarin kalian bertemu dengan Sheilla, tapi respon yang kalian berikan seakan-akan kalian baru bisa melihat Sheilla kembali setelah bertahun-tahun lamanya," ucap Digo yang benar-benar merusak suasana.
Sheilla yang mendengar perkataan dari kekasihnya tadi pun ia dengan cepat melepas pelukannya dan menatap kearah Bian juga Franda. Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Digo tadi jika kedua orang itu tengah mengeluarkan air matanya.
"Aunty sama Uncle kenapa nangis? Apa kalian tengah mengingat Yura? Maafkan Sheilla kalau memang kehadiran Sheilla mengingat kalian tentang Yura," ucap Sheilla menyesal yang langsung membuat Bian maupun Franda menggelengkan kepalanya.
"Tidak nak. Tidak apa-apa. Kehadiran kamu justru malah bisa mengobati rasa rindu kita ke Yura," ucap Bian yang diangguki setuju oleh Franda.
"Begitu kah?" tanya Sheilla untuk memastikan. Dan pertanyannya itu di balas dengan anggukan oleh keduanya yang justru membuat Sheilla yang tadinya bersedih kini tersenyum kembali.
"Kalau begitu. Sheilla akan peluk kalian lagi," ujar Sheilla. Dan setelah mengucapkan hal tadi, Sheilla langsung berhambur ke pelukan Franda, dimana pelukannya itu dibalas oleh Franda dan diikuti oleh Bian.
__ADS_1
Dan saat ketiga orang itu tengah berteletubbies ria, Digo justru kini tengah mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru rumah tersebut, siapa tau dia bisa menemukan suatu hal yang mencurigakan di rumah itu.