
Saat Henry pergi dari lantai utama mansion tersebut yang masih penuh dengan para maid dan para bodyguard yang menyaksikan keributan itu, Digo juga Sheilla yang turut mendengarkan apa permasalahan yang tengah terjadi pun keduanya menghela nafas.
"Apa kamu sudah tau permasalahan Monik ini, Dear?" tanya Sheilla penasaran. Dimana ucapannya itu mengalihkan perhatian Digo yang kini langsung menolehkan kepalanya lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tau sama sekali masalah pribadi Monik maupun semua orang yang ada di mansion ini. Karena aku tidak mau ikut campur dengan permasalahan mereka. Toh jika mereka memiliki masalah seperti Monik ini dan berakhir disini, masalah itu otomatis akan selesai begitu saja kan karena mereka sudah menjauh dari masalah tersebut. Untuk apa juga aku mengorek informasi pribadi mengenai semua orang yang ada disini. Buang-buang waktu saja sayang," ujar Digo dengan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Masak sih? Tapi kenapa giliran aku, kamu tau semuanya? Bahkan mengancam akan berbuat macam-macam dengan Shinta dulu," heran Sheilla sekaligus tak percaya jika suaminya itu tidak mengorek informasi tawanannya apalagi para anak buahnya.
"Karena kamu spesial. Jadi hanya kamu seorang yang kehidupan pribadinya aku korek sampai akar-akarnya. Walaupun sempat kecolongan kalau sebenarnya kamu hanya dititipkan di kelurga angkat kamu oleh Papa sama Mama. Tapi it's oke gak masalah karena semuanya sudah terbongkar dan kamu sudah menjadi milikku sepenuhnya sekarang," ujar Digo dengan mencolek hidung mancung Sheilla itu yang membuat sang istri memutar bola matanya malas.
"Yakin nih cuma aku?" Digo dengan mantap menganggukkan kepalanya.
"Kamu tidak takut kalau kamu tidak mencari tahu seluk-beluk para maid dan para bodyguard disini sampai akar-akarnya, mereka justru akan mengkhianati kamu?"
__ADS_1
"Mereka tidak akan mungkin berkhianat denganku sayang," jawab Digo penuh percaya diri.
"Dengan alasan?" tanya Sheilla.
"Karena mereka tau lah siapa aku. Kalau sampai mereka berkhianat berarti mereka akan berhadapan langsung denganku yang artinya mereka siap untuk menyetorkan nyawa mereka kepadaku."
"Kalau kamu mati duluan karena penghianatan mereka, gimana? Gak mungkin kan kamu melakukan apa yang kamu ucapkan itu? Kamu memang kejam dan licik tapi tidak menutup kemungkinan jika sang penghianat itu tidak mencari celah untuk menusuk kamu dari belakang," ujar Sheilla yang langsung mendapat pelototan mata dari Digo.
"Kamu doain aku mati, sayang?" Sheilla menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ayolah dia tidak gila sampai menginginkan laki-laki yang baru saja berstatus sebagai suaminya beberapa minggu yang lalu mati begitu saja. Dia juga tidak mau menjanda secepat itu.
Digo yang mendengar ucapan dari sang istri, diam-diam ia mengepalkan tangannya. Namun tak urung didalam hatinya ia mensetujui apa yang dikatakan oleh sang istri. Mungkin saja memang ada seseorang yang berada di mansionnya itu ingin berniat jahat kepadanya atau orang-orang lain disini.
"Jadi gimana? Apa kamu menerima saranku tadi dan akan melakukannya?" tanya Sheilla untuk memastikan jika Digo akan menolak atau menerima saran yang telah ia berikan tadi.
__ADS_1
Digo yang tadi menatap penuh amarah lurus kearah depan sana ia kini menatap teduh kearah sang istri kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu sayang. Aku sudah percaya ke mereka semua. Dan aku yakin dari banyaknya orang di mansion ini tidak ada satupun yang berkhianat. Jadi kamu tenang saja oke," ujar Digo dengan senyum manisnya namun tak urung ia kini merengkuh tubuh Sheilla, membawa tubuh istrinya tersebut kedalam pelukannya. Tapi bukan hanya sekedar pelukan hangat saja yang Digo berikan kepada Sheilla, ia juga membisikkan sesuatu ke telinga istrinya tersebut.
"Aku akan melakukan saranmu itu sayang. Maaf aku hampir membuatmu salah paham dengan ucapanku tadi. Aku hanya tidak mau saja ada seseorang yang memang ingin menusukku dari belakang mendengar jika aku mensetujui saran darimu itu dan dia akan mengantisipasinya terlebih dahulu sebelum aku tau dia lah sang penghianatnya. Sekali lagi maafkan aku yang sudah membuatmu terkejut dengan ucapanku tadi," bisik Digo diakhiri dengan ia mengecup pipi Sheilla sekilas tanpa melepaskan pelukannya tersebut.
Sedangkan Sheilla yang tadi memang sempat terkejut dengan keputusan Digo yang menolak sarannya dengan dalih dia sangat percaya dengan semua orang disini, tak urung membuat hati Sheilla sempat kecewa tadi. Tapi setelah ia mendengar bisikan suaminya itu, ia menghela nafas lega, rasa kecewanya tadi pun juga perlahan menghilang yang otomatis membuat sudut dibibir Sheilla kini terangkat keatas, membentuk sebuah senyuman dengan tangan yang kini bergerak untuk membalas pelukan dari sang suami sembari berkata lirih untuk membalas ucapan dari Digo tadi, "Jika kamu membutuhkan bantuanku. Aku akan dengan senang hati membantumu karena aku yakin kamu akan sangat kewalahan untuk menelusuri seluk-beluk kehidupan mereka semua yang ada di mansion ini. Atau kamu mau minta bantuan Papa dan Daddy juga? Aku rasa mereka juga akan membantu kita."
Digo menggelengkan kepalanya masih dalam posisi yang saling berpelukan dengan sang istri.
"Ini masalahku sayang jadi sebisa mungkin aku akan menyelesaikannya sendiri tanpa campur tangan mereka berdua. Kamu tau sendiri kan kalau mereka juga sangat sibuk. Tapi mungkin aku akan meminta bantuan ke anak buah Papa Bian atau Daddy yang memang sudah benar-benar aku kenal dan sudah sangat aku percaya," ujar Digo yang membuat Sheilla mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Benar juga apa kata kamu. Kita tidak bisa meminta bantuan Papa dan Daddy, kasihan beliau kalau sampai kita merepotkan mereka berdua. Dan kalau kamu mau minta bantuan anak buah Papa sama Daddy, aku setuju," balas Sheilla.
__ADS_1
"Hmmmm aku akan menghubungi mereka nanti," ujar Digo sebelum laki-laki itu melepaskan pelukannya.
"Resepsi pernikahan Henry dan Monik akan dilaksanakan 2 jam lagi. Dan lebih baik kita istirahat dulu saja. Ayo sayang kita ke kamar," ajak Digo berlagak seolah-olah ia dan Sheilla tak melakukan sebuah rencana apapun. Sheilla tampak tersenyum dan dengan menganggukkan kepalanya, perempuan tersebut melingkarkan tangannya di lengan Digo. Dimana setelahnya sepasang suami istri tersebut berjalan menuju lift dimansion tersebut, tak peduli dengan ayah Monik yang tengah memberontak ingin bertemu dengan Monik karena anak buahnya sudah tau apa yang akan mereka lakukan jika hal itu terjadi yaitu dengan menyeret ayah Monik untuk keluar dari mansion tersebut dan tak diizinkan untuk masuk kembali. Jadi Digo tak perlu pusing-pusing dan menghabiskan tenaganya untuk mengusir ayah Monik itu.