
Dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Henry menimpali ucapan yang terlontar dari istrinya, "Aku kan hanya tanya saja sayang sekaligus untuk memastikan karena instingku berkata kalau Bomi masih disini. Tapi kalau menurutmu tidak ada disini ya sudah, aku tidak apa-apa."
Monik tampak menghela nafas panjang sebelum dirinya mulai melangkahkan kakinya, turun dari podium tanpa mengucapakan sepatah katapun kepada sang suami. Dimana hal tersebut membuat Henry tiba-tiba merasa bersalah. Padahal jika di pikir-pikir lagi, Henry tidak salah sama sekali, kan dia hanya memastikan pendengarannya tadi salah atau tidak.
Henry kini ikut turun dari atas podium, mengikuti langkah kaki Monik yang ternyata tengah menuju ke belakang mansion tersebut.
Henry yang sudah berhasil menyamakan langkah kaki Maura pun dengan takut-takut ia angkat suara, "Kenapa kita kesini sayang? Apa feeling kamu mengatakan kalau Bomi ada disini?"
Monik yang sudah berdiri tepat di belakang pintu belakang pun, ia menghentikan langkah kakinya tersebut. Kemudian ia menolehkan kepalanya sekilas kearah Henry yang justru membuat suaminya gelagapan sendiri. Monik yang melihat ada raut ketakutan di wajah Henry, ia memutar bola matanya malas tapi sekaligus ia ingin tertawa saat ini juga. Bagaimana tidak, ini kali pertamanya Monik melihat wajah ketahuan Henry. Karena biasanya saat ia menatap Henry yang ia temukan raut wajah tenang, tegas, dan ganas. Saat menghadapi musuh pun ia tak pernah melihat ada raut ketakutan di wajah Henry. Tapi kali ini, Monik hanya berbicara biasa saja, menurut perempuan itu sendiri, Henry justru ketakutan seperti tengah melihat setan. Namun Monik harus menahan tawanya itu karena situasi dan kondisinya tidak memungkinkan dirinya untuk tertawa. Ya kali saat tengang seperti ini justru ia tertawa terbahak-bahak. Dan jika hal itu terjadi ia yakin semua orang yang melihatnya akan menganggap dirinya gila.
Monik masih mempertahankan wajah datarnya itu, sebelum dirinya kini angkat suara untuk menjawab pertanyaan dari sang suami.
"Hmmm, entah kenapa feelingku mengatakan memang Bomi berada disekitar sini."
"Kalau begitu apa kamu tau titik dia saat ini ada dimana?" tanya Henry yang membuat Monik langsung mengedarkan pandangannya. Namun ia sama sekali tak melihat keberadaan Bomi sama sekali. Ia hanya melihat beberapa anak buah Digo dan anak buah Henry yang berlalu lalang disana, tentunya mereka juga tengah mencari Bomi.
"Tidak. Aku tidak bisa menemukan dimana titik persembunyian dia saat ini. Tapi lebih baik kita membantu mereka semua yang tengah mencari Bomi," ujar Monik. Tapi baru saja Monik ingin melangkahkan kakinya, lengannya di cekal oleh Henry.
__ADS_1
Monik menolehkan kepalanya kearah sang suami dengan salah satu alisnya yang terangkat, seolah-olah alisnya itu mewakili dirinya untuk bertanya, kenapa kepada Henry.
Henry menggelengkan kepalanya sembari berkata, "Biarkan mereka saja yang mencari keberadaan Bomi. Kita tidak perlu ikut turun langsung."
Monik yang mendengar perkataan dari sang suami pun ia memutar tubuhnya, hingga mereka berdua kini saling berhadapan.
"Oh jadi kamu mengandalkan mereka yang entah kapan bisa menemukan Bomi? Dan sepertinya kamu sudah siap mati hari ini," ucap Monik dengan kedua tangannya bersedekah di depan dadanya.
Henry mendelik, kurang ajar sekali bibir istrinya itu, masak ia berucap seperti itu kepada suaminya sendiri yang berarti secara tidak langsung Monik mendoakan dia mati dong. Ck, ingatkan Henry kalau nanti masalah ini sudah selesai untuk menghukum bibir istrinya.
"Kenapa kamu bilang seperti itu? Aku mencegah kamu untuk tidak turun tangan langsung karena aku tidak mau kamu kenapa-napa. Ingat, kamu itu sedang tidak sendiri tapi ada anak kita di dalam sini." Henry menyentuh lembut perut Monik dan mengelusnya secara pelan.
Monik yang tadinya dalam mode monster, perempuan itu sedikit melunak dengan ucapan Henry tadi. Hingga sebuah senyuman kini terukir di bibirnya.
Tangan Monik kini terulur, mengelus rahang Henry dengan tatapan yang ia arahkan lekat di mata suaminya sebelum dirinya angkat suara, "Bukannya kamu bersamaku? Kamu akan melindungiku dan anak kita bukan, jika aku lengah untuk melindungi diriku sendiri dan anak kita? Aku percaya sama kamu, sayang kalau kamu bisa menjagaku dan anak kita. Dan kita tidak bisa berdiam diri terus menerus seperti ini. Kita tidak bisa mengandalkan semua anak buahmu ataupun anak buah Digo. Karena mereka cukup lemah jika berhadapan dengan Bomi. Ingat Bomi orang yang lebih kuat dari mereka semua dan ingat Bomi juga orang yang sangat pintar bermain licik. Jadi kita tidak bisa membiarkan orang-orang yang tidak bersalah harus berkorban sampai nyawanya menghilang bukan?"
Henry diam, ia sedikit setuju dengan ucapan dari Monik tadi. Ada nyawa yang harus di pertaruhan jika dia ataupun seseorang yang lebih kuat di mansion ini tidak bergerak untuk ikut bergabung bersama mereka. Tapi rasa khawatir terus mendominasi diri Henry. Ia ingin egois untuk tetap menahan Monik agar tidak ikut turun tangan.
__ADS_1
"Percayalah aku dan anak kita akan baik-baik saja selagi kamu ada di sampingku," sambung Monik meyakinkan suaminya itu.
Henry tampak menghela nafas berat.
"Biar aku sendiri saja yang turun tangan. Kamu sebaiknya kembali ke dalam. Kalau bisa ikut ke kamar di lantai dua bersama bik Nah dan Sheilla," ucap Henry yang masih tak mau Monik ikut menyelesaikan masalah ini.
Monik tampak menghela nafas kasar. Suaminya itu memang benar-benar sangat posesif sekali kepadanya.
"Tidak mau. Pokoknya aku mau ikut menyelesaikan masalah ini. Dan kamu tadi bilang apa? Sheilla di dalam kamar bersama bik Nah. Apa kamu tidak lihat tuh di balkon atas? Sheilla dan Digo sedari tadi mereka disana. Aku yakin mereka mencari Bomi dari lantai atas," ucap Monik dengan menunjuk balkon yang berada di kamarnya.
Henry mengikuti arah tunjuk Monik tadi dan benar saja dua orang itu ternyata diam-diam tengah ikut turun langsung untuk masalah ini. Walaupun terus terang saja Henry sempat terkejut melihat Digo dalam keadaan baik-baik saja. Padahal tadi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri tubuh Digo ambruk di pelukan Sheilla. Tapi setelah ia ingat kepintaran Digo untuk menipu lawan, jadi tidak heran jika ia melihat Digo tidak kenapa-napa setelah minum racun tadi.
"Jadi gimana? Apa kamu masih mau memerintahkan aku untuk duduk manis bergitu saja? Kalau iya berarti kamu tidak tau malu. Sheilla yang merupakan istri Digo, si tuan rumah mansion ini saja masih di perbolehkan turun tangan. Masak aku tidak." Ucapan Monik membuat Henry kembali menatapnya dengan berdecak kesal.
"Ck, baiklah. Tapi jangan jauh-jauh dariku. Tetap disampingku. Karena kalau kamu sampai kenapa-napa, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri yang tidak becus menjagamu," tutur Henry pada akhirnya.
Dimana ucapan dari Henry itu membuat senyum Monik semakin merekah saja.
__ADS_1
"Siap laksanakan my husband. Jadi tunggu apa lagi. Let's go kita cari Bomi sekarang juga!" ucap Monik penuh semangat. Dimana hal tersebut membuat Henry menggeleng-gelengkan kepalanya.
Namun setelahnya keduanya berjalan menuju ke tempat pertama yang akan mereka periksa.