
Seperti yang dikatakan oleh Digo tadi tepat pada pagi harinya semua anak buahnya tak terkecuali dirinya sendiri dan juga Henry terjun langsung untuk memantau situasi di sekitar rumah yang dijadikan markas oleh Yoga. Tapi bedanya jika beberapa anak buahnya yang sudah terbagi menjadi beberapa kelompok mencari lubang atau jalan setapak yang sekiranya sangat mencurigakan bagi mereka, Digo dan Henry sekarang ikut bergabung dengan dua anak buahnya yang tadi malam ia perintahkan untuk tetap mengawasi markas tersebut.
"Bagaimana? Ada perkembangan?" tanya Digo yang sekarang berdiri di samping jendela yang sudah ia ganti dengan jendela baru yang membuat orang luar tak bisa melihat kondisi didalam rumah yang ditinggali kedua anak buahnya itu. Matanya pun tak pernah lepas dari arah jendela rumah disampingnya.
"Seperti yang bos kemarin malam katakan itu memang benar adanya karena tadi pagi, kita melihat satu orang yang keluar dari rumah itu untuk membuang sampah dan kemungkinan orang itu juga ditugaskan untuk melihat situasi di luar. Dan beberapa saat setelah dia kembali masuk, kita menangkap beberapa siluet orang yang sepertinya tengah berdiskusi di dalam rumah tersebut," jelas salah satu anak buahnya yang diangguki oleh Digo.
"Tapi bos, saya jadi curiga kalau di dalam rumah itu sebenarnya hanya di tinggali oleh anak buah Yoga saja. Dalam artian lain, Yoga dan tangan kanannya sebenarnya sudah pergi saat pengawasan kita lengah. Karena sebelum bos kemari kita sempat di kecohkan oleh beberapa orang yang sangat banyak tengah berlalu lalang di depan rumah itu. Bos kedua juga sudah tau akan masalah ini karena salah satu partner kita sempat memberitahu beliau. Dan sepertinya mereka juga sudah tau tentang pengintai kita ini bos jadi dia melakukan cara itu untuk melarikan diri," sambungnya yang membuat Digo kini terdiam.
Ia memikirkan apa yang dikatakan oleh anak buahnya itu. Jujur saja ia dari awal juga memiliki pemikiran yang sama seperti anak buahnya tersebut.
"Sepertinya apa yang kamu katakan tadi ada benarnya juga," ucap Digo setuju dengan ucapan anak buahnya tadi.
Sedangkan Henry yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan Digo dan kedua anak buahnya, kini ia mengerutkan keningnya.
"Kalau memang begitu. Kita berhasil di bodohi sama mereka dong?" timpal Henry yang hanya mendapat lirikan mata dari Digo. Sedangkan kedua anak buahnya menggedikkan bahunya. Dan hal tersebut membuat Henry mencebikkan bibirnya. Sebelum anak buahnya itu kembali angkat suara.
"Kalau sudah begini apa kita langsung menyerang mereka atau kembali menunggu lagi bos?" tanya satu anak buahnya lagi.
"Kita---" belum sempat Digo menyelesaikan ucapannya, suara ponsel Henry terdengar nyaring hingga membuat semua orang mengalihkan pandangannya kearah laki-laki itu yang sekarang justru ia tengah menampilkan senyum tak bersalahnya.
"Sebentar-sebentar saya angkat dulu," ujar Henry sembari mengambil ponselnya dari saku celananya. Dan tanpa menjauh dari mereka, ia langsung menekan ikon telepon berwarna hijau dan tak berselang lama sambungan telepon itu terhubung.
__ADS_1
"Halo," ucap Henry.
📞 : "---"
"Apa? Oke saya akan beritahu bos dan kalian tetap disana!" perintah Henry setelah dirinya mendapat sebuah informasi penting dari anak buahnya. Dan setelah mengucapkan hal tersebut ia langsung menutup sambungan teleponnya kemudian ia menatap lekat kearah Digo.
"Kenapa?" tanya Digo penasaran.
"Salah satu anak buah kita menemukan satu goa besar yang berada di samping hutan sebelah Timur," ujar Henry yang berhasil membuat Digo tersenyum miring.
"Apa mereka sudah memastikan jika goa itu tembus ke rumah itu?" Henry dengan mantap menganggukkan kepalanya.
"Ya, dia tadi sempat memberitahu saya, jika mereka sudah memastikan jika goa penemuan mereka memang benar mengarah ke rumah itu." Digo menganggukkan kepalanya.
"Sebentar, kamu tadi bilang kalau sebagian lagi kamu suruh untuk kembali? Kembali ke rumah yang semalam itu yang kamu maksud?"
"Hmmmm," jawab Digo hanya dengan deheman saja.
"Lho kenapa?" tanya Henry heran.
"Jangan banyak tanya Henry. Nanti kamu juga akan tau sendiri jika mereka sudah kumpul kembali," ujar Digo yang sudah mulai jengah dengan suara cerewet dari tangan kanannya itu.
__ADS_1
Sedangkan Henry kini ia mengerucutkan bibirnya dan dengan menghentak-hentakkan kakinya ia mulai menjauh dari ketiga laki-laki yang menatapnya aneh. Namun tak urung tangannya yang sempat terhenti tadi kembali aktif untuk memberikan perintah sesuai dengan yang Digo katakan sebelumnya. Walaupun dirinya sekarang tengah merajuk tapi ia masih sadar akan tugasnya. Jadi semarah-marahnya dia, dia akan tetap bersikap profesional dan sifat Henry yang satu ini yang sangat Digo sukai.
"Saya sudah menghubungi ketua kelompok dari mereka. Dan mereka sekarang mulai berjalan menuju ke markas sementara kita," ujar Henry dengan suara ketus tanpa ada senyum yang terukir diwajahnya. Namun mana Digo peduli dengan acara merajuk tangan kanannya itu. Biarkan saja dia terus merajuk toh pada akhirnya jika moodnya sudah kembali membaik ia kembali ke mode Henry yang cerewet dan banyak tingkah.
Digo hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan dari Henry tadi lalu setelahnya ia menatap kembali kearah dua anak buahnya yang masih setia berdiri di depannya.
"Kalian berdua tetap disini. Awasi terus pergerakan mereka. Dan untuk rencana kita selanjutnya akan Henry beritahu kepada kalian." Kedua anak buahnya tadi dengan kompak menganggukkan kepalanya.
"Ahhhh satu lagi. Bagaimana dengan persediaan senjata yang kalian bawa? Aman atau sudah ada yang rusak?" tanya Digo memastikan dengan melirik kearah jejeran senjata yang tertata rapi di atas meja di ruangan yang tengah ia tempati saat ini.
"Semuanya masih aman bos," jawab salah satu anak buahnya.
"Bagaimana dengan pelurunya? Apa persediaan juga masih aman?" tanyanya lagi.
"Untuk peluru di pistol itu hanya tersisa 10 buah saja dan untuk yang lainnya semuanya masih aman," ujar anak buahnya tadi sembari menunjuk kearah salah satu pistol kecil yang terletak di paling ujung.
"Kira-kira untuk penyerangan nanti malam peluru itu masih aman?" Dua anak buahnya dan juga Henry sempat terkejut dengan ucapan Digo tadi. Apa nanti malam mereka akan melakukan penyerangan mendadak kepada komplotan Yoga? Jika memang iya, mereka akan menyiapkan diri mereka mulai saat ini juga.
"Saya tanya ke kalian, kenapa kalian hanya diam saja? Kalian tadi dengar bukan apa yang saya katakan tadi?" Dengan cepat kedua anak buahnya itu menganggukkan kepalanya.
"Jika nanti malam kita melakukan penyerangan saya rasa peluru yang kita punya tidak akan cukup bos dan kita perlu persediaan peluru lebih banyak lagi," ujar salah satu laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Baik. Nanti salah satu teman kalian akan membawakan persediaan peluru yang kalian minta," ucap Digo. Kemudian ia menepuk kedua pundak laki-laki dihadapannya itu sebelum dirinya mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan sekaligus rumah tersebut melalui jalan yang mereka buat sendiri. Dan pergerakannya itu langsung diikuti oleh Henry dibelakangnya.