
Sheilla mengerjabkan matanya saat sinar matahari masuk kedalam kamar yang tengah ia tempati saat ini. Dengan mata yang masih terasa berat ia meregangkan otot-otot tubuhnya sebelum dirinya mendudukkan tubuhnya dengan menguap sangat lebar.
Untuk beberapa saat ia masih terbengong, mengumpulkan nyawanya kembali sebelum keterbengongannya itu hilang dan berganti dengan mata yang menatap kearah sekitar dan berakhir ia menatap kearah bawah. Tepatnya dimana ia kini tengah duduk yaitu di atas perut seseorang dan hal tersebut membuat dirinya terkejut bukan main dan dengan cepat ia berniat menjauh dari atas tubuh orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Digo. Tapi sayang seribu sayang, pergerakannya ternyata di ketahui oleh Digo hingga niatnya tadi urung karena tangan Digo sudah melingkar indah di pinggangnya dengan sangat erat dan hal tersebut membuat Sheilla semakin melototkan matanya.
Sialan, ia pikir tadi Digo masih tidur tapi ternyata laki-laki itu sudah bangun walaupun matanya masih terpejam. Gagal sudah niatnya untuk kabur dari atas perut Digo.
"Mau kemana hmmm?" suara serak-serak seksi Digo mengalun indah masuk kedalam pendengaran Sheilla.
"Ya ampun bisa gak sih. Kalau bangun tidur tuh jangan ngomong dulu, mana tadi ngomongnya pakai hmmm segala. Damagenya itu lho, bikin anak orang lumer," batin Sheilla.
Bohong jika dirinya tak terkesima dengan sosok Digo yang memiliki porsi tubuh sempurna, pahatan wajah bak dewa Yunani dan jangan lupakan kesusksesan dari laki-laki itu. Karena perlu kalian tau, Sheilla tak jauh berbeda seperti perempuan pada umumnya yang menyukai laki-laki seksi dan tampan. Tapi untuk Digo, ia sudah menyadarkan dirinya sendiri agar tak jatuh ke pesona seorang Digo yang terkenal akan kekejamannya itu. Ia tak ingin menyia-nyiakan nyawanya jika bersanding dengan laki-laki itu. Iya, mungkin dia akan aman dan tak lagi di bunuh oleh Digo sendiri ataupun anak buahnya, tapi perlu di ingat nyawa Digo banyak yang mengincar di luaran sana yang otomatis saat dirinya bersanding dengan Digo, ia akan terkena imbasnya juga. Dan hal itu sangat Sheilla hindari.
Sudah cukup dirinya mengalami hal-hal mengerikan di dalam hidupnya, sudah cukup dirinya bergelut dengan dunia hitam hingga beberapa nyawa sudah melayang di tangannya, dan sudah cukup dirinya di bayang-bayangi oleh ketakutan. Ia sekarang sudah benar-benar tobat dan berjanji pada dirinya sendiri tak akan melakukan hal yang sama seperti dulu lagi.
Lagian keluarganya sudah aman di bawah pengawasan Digo yang ia yakini laki-laki itu tak akan melakukan tindakan di luar batas jika dirinya mau menuruti perintah laki-laki tersebut yang menjadikan dirinya sebagai maid di rumah mewah milik laki-laki itu, entah untuk sementara atau selamanya, Sheilla tak tau yang terpenting kelurganya tetap aman saat dirinya di kurung dalam rumah mewah itu.
Takkk!
Sentilan di kening Sheilla membuat perempuan yang tadi kembali terbengong akhirnya tersadar juga.
"Kamu tidak mau turun dulu dari atas perut saya?" tanya Digo yang membuat Sheilla menyadari akan posisinya saat ini dan dengan cepat ia beranjak dari atas perut Digo dan berpindah di samping tubuh Digo yang perlahan mendudukkan tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang. Tapi tak hayal ia juga menggerutu dalam hati.
"Tadi dia sendiri yang mencegah aku buat turun dari perut dia. Ehhhh sekarang malah tanya kapan turun. Ck, maunya apa sih nih orang," gerutuan itu hanya bisa Sheilla simpan dalam hatinya tak berani ia ucapkan.
__ADS_1
"Ma---maaf." Dan ia memilih untuk mengucapkan kata maaf lagi dan lagi.
"Saya capek dengar kamu minta maaf mulu Sheilla. Waktu saya tidak akan saya buang sia-sia hanya untuk mendengar kata maaf yang keluar dari bibir kamu itu. Dan lebih baik sekarang siapkan air hangat untuk saya. Saya beri waktu 5 menit untuk kamu menyiapkan air mandi saya," ujar Digo yang membuat Sheilla menatap laki-laki itu.
"Saya tuan?" Digo memutar bola matanya jengah.
"Di ruangan ini hanya ada saya dan kamu, Sheilla. Jadi siapa lagi kalau bukan kamu yang saya suruh!" geram Digo.
"Jadi buruan bergerak sekarang sebelum saya lempar tubuh kamu dari balkon ke bawah," sambung Digo yang membuat Sheilla langsung ngacir menuju ke kamar mandi di ruang tersebut.
Dan tepat 5 menit setelahnya, Sheilla sudah kembali keluar dari kamar mandi itu dengan mengembangkan senyumnya.
"Airnya sudah siap tuan." Digo yang matanya tadi terfokus kearah ponsel di tangannya, kini beralih kearah Sheilla kemudian ia menganggukkan kepalanya lalu ia beranjak dari atas ranjang kemudian bergegas masuk kedalam kamar mandi setelah ia meletakkan ponselnya diatas nakas. Namun saat dirinya sudah berdiri didepan pintu kamar mandi, ia memutar tubuhnya kembali menghadap Sheilla.
Namun lain di hati, lain di bibir. Sheilla justru menampilkan senyuman manisnya dengan anggukan kepala mantap.
"Tuan tenang saja. Saya tau kok style orang kantor itu seperti apa," ujar Sheilla tanpa melunturkan senyumannya.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, segera cari pakaian kantor saya dan setelah itu kamu taruh saja di sofa situ." Digo menunjuk kearah sofa di ruangan tersebut dengan dagunya. Sheilla yang sempat mengikuti arah pandang Digo, ia kini menganggukkan kepalanya.
"Baiklah tuan, saya mengerti." Sheilla membungkukkan tubuhnya sesaat sebelum dirinya melangkah menuju walk in closed setelah melihat Digo menutup pintu kamar mandi tersebut.
Hampir 30 menit lamanya, akhirnya Digo keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono putih yang melekat menutupi semua aset tubuhnya. Dan saat dirinya keluar dari kamar mandi bertepatan dengan itu pula Sheilla keluar dari walk in closed, entah apa yang di lakukan oleh perempuan itu hingga hanya mengambilkan pakaian formal untuk Digo saja ia sampai selama itu di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Maaf tuan. Apakah tuan sudah menunggu lama?"
"Belum. Jadi mana pakaian saya?" Sheilla semakin berjalan mendekati Digo hingga saat tubuh berjarak beberapa senti, Sheilla langsung menyerahkan pakaian Digo kearah laki-laki tersebut yang langsung di terima oleh Digo. Tapi sesaat setelahnya alis laki-laki itu tampak berkerut memikirkan sesuatu yang kurang dari pakaian yang ia bawa tadi. Hingga ia ingat satu hal yang membuat dirinya kini mulai angkat suaranya kembali.
"CD saya mana Sheilla? Masak saya disuruh gak pakai CD," geram Digo yang membuat Sheilla kini melongo gak percaya.
"Tuan nyuruh saya ambil CD juga?" Dengan mantap Digo menganggukkan kepalanya yang justru membuat Sheilla kelimpungan saat ini.
"Anu tuan. Mending tuan sendiri saja yang ambil. Dan apa tuan tidak malu jika CD yang akan tuan pakai dilihat oleh saya dulu?" Digo mengerutkan keningnya lalu setelahnya menggeleng.
"Tidak. Kenapa harus malu?" Sheilla menggigit bibir bawahnya. Agak lain memang laki-laki di depannya itu.
"Tapi tuan---"
"Sudah cukup! jangan tapi-tapian mulu Sheilla. Kamu mau saya telat masuk kantor?" Sheilla terdiam. Kalau pun laki-laki itu telat juga tak masalah bukan, lagian itu kantor milik dirinya sendiri, pikir Sheilla.
Digo yang geram karena Sheilla tak kunjung bergerak mengambil apa yang ia butuhkan tadi pun tangannya kini terulur untuk menyentil kening Sheilla.
Takkk!
"Stttt. Sakit tuan," rintih Sheilla.
"Makanya jangan bengong mulu. Buruan ambil CD saya atau kalau tidak kamu akan saya makan pagi ini. Lagian tadi malam kamu menerima hukuman yang saya usulkan bukan? Jika yang melewati batas guling yang ada di tengah-tengah diantara kita. Maka akan memberikan tubuhnya sebagai hukuman. Dan tadi pagi kamu lihat sendiri jika kamu yang melewati batas guling tersebut. Jadi bersiap-siap untuk saya makan pagi ini, Sheilla," ujar Digo yang terdengar begitu santai namun ditelinga Sheilla justru suara itu sangat mengerikan.
__ADS_1
Dan dengan secepat kilat sebelum laki-laki itu melakukan hal yang tidak-tidak kepada dirinya, Sheilla berlari masuk kembali kedalam walk in closed untuk mengambil CD milik Digo. Walaupun sebenarnya dirinya malu sendiri mengambil barang terlarang itu tapi untuk saat ini tak apa lah ia harus menahan malunya dari pada dirinya di unboxing sebelum waktunya kan ngeri.