
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Sheilla memutuskan untuk mengikuti barisan cokelat-cokelat tadi. Ia mengikutinya dengan memunguti cokelat-cokelat tersebut hingga keluar dari kamar tersebut.
Sheilla mengerutkan keningnya saat dirinya kini telah sampai di meja kerja Digo. Di meja itu terdapat buket bunga lagi yang lebih besar dari sebelumnya dan terdapat secarik kertas yang berada di buket tersebut.
"Ke Rooftop!"
Sheilla menungkikkan alisnya setelah membaca perintah dari kertas itu.
"Ke Rooftop? Untuk apa sih? Dan untuk kesana aku harus lewat mana?" gumam Sheilla. Namun karena ia penasaran akhirnya ia berjalan keluar dari ruang kerja Digo. Ingin sekali ia bertanya kepada Henry lewat mana agar ia bisa sampai Rooftop kantor ini. Tapi saat dirinya sudah berada di dalam ruangan Henry, laki-laki itu tidak ada di dalam ruangannya.
"Ini tuan Henry juga kemana lagi. Haishhhh, kalau kayak gini aku harus tanya siapa?" ucap Sheilla yang tiba-tiba kesal sendiri hingga suara seseorang dari belakangnya terdengar hingga membuat Sheilla sempat terkejut.
"Maaf nona. Anda tengah mencari siapa?" tanya orang tersebut. Sheilla kini memutar tubuhnya menghadap kearah seseorang di belakangnya itu.
"Saya tengah mencari tuan Henry. Apa anda tau dimana dia sekarang berada?" tanya Sheilla.
"Oh, tuan Henry setengah jam yang lalu beliau keluar untuk bertemu klien," ucapnya.
"Apa Nona ada perlu dengan tuan Henry? Saya akan menyampaikan pesan nona setelah tuan Henry nanti kembali," tawar orang tersebut yang kemungkinan adalah sekertaris pribadi Henry.
"Ahhhh tidak-tidak. Saya tidak memiliki perlu apapun dengannya kok. Hanya saja saya boleh bertanya?"
"Tentu saja boleh Nona. Nona mau bertanya apa?" tanyanya.
"Begini. Saya mau ke Rooftop di kantor ini tapi saya tidak tau saya harus lewat mana. Apa kamu mau menunjukkan jalan untuk saya?" ucap Sheilla yang membuat perempuan tersebut tersenyum.
"Tentu saja. Mari saya tunjukkan jalannya," kata perempuan tersebut dengan ramah lalu setelahnya mereka berdua meninggalkan ruangan Henry dengan berjalan beriringan.
__ADS_1
"Nona mau pakai lift atau tangga manual?" tanya perempuan tersebut saat mereka berdua telah sampai di depan sebuah tangga dan lift yang bisa digunakan untuk menuju ke Rooftop kantor itu.
"Sepertinya saya naik lift saja. Kalau begitu saya masuk dulu. Dan terimakasih atas bantuannya. Selamat bekerja dan semangat," ucap Sheilla dengan senyumannya.
Perempuan tersebut menganggukkan kepalanya dengan membalas senyuman dari Sheilla itu.
"Sama-sama nona. Kalau begitu saya permisi," ujar perempuan tersebut lalu kemudian ia beranjak dari sisi Sheilla menuju ke ruangannya kembali.
Sedangkan Sheilla yang melihat punggung perempuan itu semakin menjauh, ia kini mulai masuk kedalam lift tersebut. Dimana lift itu adalah lift khusus untuk naik keatas Rooftop kantor itu.
Dan hanya selang beberapa menit saja, akhirnya pintu lift yang Sheilla pakai tadi terbuka saat tiba di Rooftop tersebut dan dengan seketika mata Sheilla bisa melihat sebuah helikopter di sana.
Tatapan matanya beralih saat sebuah tangan terulur tepat di depannya. Sheilla menatap tangan tersebut sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah pemilik tangan tersebut yang tak lain adalah kekasihnya sendiri.
Digo yang tau tatapan mata Sheilla kini penuh dengan kebingungan pun ia kini angkat suara.
"Honey," panggil Digo yang berhasil membuyarkan lamunan Sheilla.
"Genggam tanganku," ulang Digo.
"Untuk apa?" tanya Sheilla.
"Tanpa aku jawab, nanti kamu akan tau sendiri," ucap Digo sembari meraih tangan Sheilla. Ia genggam tangan itu erat-erat.
"Ikut aku," kata Digo. kemudian ia menarik tangan Sheilla secara pelan menuju kearah helikopter tadi.
"Naik Honey," ucap Digo saat keduanya telah sampai di depan tangga yang digunakan untuk naik helikopter tersebut.
__ADS_1
"Kenapa harus pakai naik segala? Memangnya kita mau kemana?" tanya Sheilla.
"Bukankah aku tadi sudah bilang, kalau kamu nanti akan tau sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu itu. Jadi sekarang kamu naik ya," ucap Digo dengan lembut sembari membelai pipi Sheilla.
Sheilla yang benar-benar penasaran Digo akan membawanya kemanapun. Seperti yang di perintahkan oleh Digo tadi jika kini ia mulai menaiki helikopter tersebut, diikuti oleh Digo.
Setelah Sheilla duduk, Digo dengan gesit memakaikan sabuk pengaman tersebut ke tubuh Sheilla. Lalu setelahnya ia juga memakaikan sebuah helicopter earmuffs ketelinga Sheilla.
Sheilla yang mendapat perlakuan manis dari Digo pun ia hanya bisa diam mematung walaupun sebenarnya jantungnya kini tengah berdetak kencang seakan-akan organ itu akan jatuh. Bahkan perutnya kini terasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan. Sampai-sampai ia tak sadar jika helikopter yang ia tumpangi saat ini sudah lepas landas.
Helikopter itu terus terbang mengintri kota tersebut hingga beberapa menit telah berlalu, pilot helikopter tersebut menolehkan kepalanya kearah Digo. Digo yang melihat hal tersebut pun ia menganggukkan kepalanya, menyuruh pilot tersebut mengarahkan helikopter itu ke suatu tempat yang merupakan puncak dimana Sheilla nanti akan tau alasan Digo membuat sedikit kejutan seperti itu.
Digo tersenyum kala helikopter itu telah berada di tempat utama tersebut. Ia kini menolehkan kepalanya kearah Sheilla yang masih terdiam dengan tatapan mata yang lurus kedepan. Dan hal tersebut membuat Digo kini menghela nafas berat sebelum tangannya kini bergerak untuk mengelus kepala Sheilla hingga membuat perempuan itu kembali tersadar.
Dan saat Sheilla menolehkan kepalanya kearah Digo, laki-laki itu langsung mengkode Sheilla untuk melihat kebawah dengan jari telunjuk serta pergerakan bibirnya. Sheilla yang paham atas kode itu pun ia kini mengalihkan pandangannya seperti yang di perintahkan oleh Digo tadi. Dan saat matanya menatap kebawah, dirinya di buat speechless dengan apa yang ia lihat saat ini. Dimana di bawah sana terdapat sebuah tulisan SORRY HONEY yang Sheilla yakini tulisan itu terbuat dari puluhan atau bahkan ratusan bunga mawar merah.
Sheilla kini menolehkan kepalanya kearah Digo saat ia merasakan ada sebuah benda yang tiba-tiba masuk kedalam jari manisnya. Dan setelah cincin itu melingkar indah di jadi manisnya, Digo memberikan sebuah kecupan di punggung tangan Sheilla cukup lama sebelum dirinya kini menegakkan kembali kepalanya dan menatap dalam mata Sheilla yang sudah terlihat berkaca-kaca itu.
"I'm sorry Honey. Maafkan aku," ucap Digo dengan suara keras agar Sheilla bisa mendengarkan ucapannya itu.
"Aku benar-benar menyesal telah melakukan hal yang seharusnya tidak perlu aku lakukan. Aku benar-benar menyesal telah membuatmu cemburu dan marah. Aku menyesal Honey, aku benar-benar sangat menyesal. Jadi aku mohon maafkan lah aku. Kamu mau kan memaafkan kesalahanku, Honey?" Sambung Digo masih dengan suara lantangnya. Dan ucapannya itu untungnya masih bisa didengar oleh Sheilla hingga membuat perempuan itu kini melepaskan genggaman tangannya dan berakhir ia memeluk tubuh Digo dengan sangat erat. Jangan lupakan air mata Sheilla kini sudah membasahi pipinya.
"Aku memaafkanmu," ucap Sheilla tepat di samping telinga Digo. Dan hal tersebut membuat Digo tersenyum lalu membalas pelukan Sheilla dengan sangat erat.
"I Love You, Honey," ucap Digo dengan memberikan kecupan di bahu Sheilla.
"Love you too, Dear," balas Sheilla masih dengan air mata yang setia membasahi pipinya.
__ADS_1