
"Mana barang pemberian Yura?" tanya Sheilla kala mereka berdua telah sampai di kamar mereka.
"Ambil di kotak kecil yang ada di laci nakas," ujar Digo yang memilih untuk duduk disalah satu sofa di dalam ruangan tersebut.
Sedangkan Sheilla, dengan penuh antusias perempuan itu berjalan mendekati nakas yang dimaksud oleh Digo tadi.
Ia membuka laci tersebut dimana ia bisa melihat satu kota kecil berwarna merah disana.
"Ini?" tanya Sheilla sembari mengangkat kotak tersebut untuk ia perlihatkan kepada kekasihnya.
"Iya itu. Bawa kesini." Sheilla menganggukkan kepalanya. Lalu setelahnya ia berjalan mendekati Digo dan duduk tepat di samping Digo.
"Boleh aku yang membukanya?" izin Sheilla.
"Tentu saja. Buka lah," ujar Digo yang kini memeluk tubuh Sheilla dari samping dengan dagu yang ia sandarkan di bahu kekasihnya itu.
Sheilla yang sudah mendapat izin dari sang pemilik benda tersebut pun ia segera membuka kotak tersebut. Dan saat kotak tersebut sudah ia buka, ia terdiam memandangi benda di dalam kotak tersebut.
Digo yang menyadari keterdiaman dari sang kekasih pun ia mencium pipi Sheilla hingga Sheilla kembali tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kamu diam hmmmm? Ada apa?" tanya Digo yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Sheilla.
"Kamu yakin?" tanya Digo mematikan yang lagi-lagi dijawab dengan anggukan serta senyuman dari Sheilla.
"Bolehkah aku memegang kalung ini?" pinta Sheilla.
"Pegang saja, sayang. Lihat dan tanyakan jika ada yang membuatmu penasaran," ucap Digo yang membuat tangan Sheilla kini bergerak untuk mengambil kalung tersebut dan mulai melihat-lihat secara detail kalung tersebut.
Hingga saat tangannya membalik liontin kalung itu, ia menemukan dua nama di balik liontin tersebut.
Ia membaca tulisan tersebut sebelum ia menolehkan kepalanya kearah Digo.
__ADS_1
"Al."
Deg!
Hati Digo berdesir hebat saat mendengar Sheilla memanggilnya dengan nama panggilannya waktu kecil itu.
"Siapa Al?" tanya Sheilla yang membuat Digo berdehem sesaat untuk menetralkan degup jantungnya yang berdetak tak seperti biasanya itu.
"Itu namaku."
"Namamu? Perasaan namamu itu, Devra Rodriguez tidak ada kata Al didalam namamu itu," ujar Sheilla penasaran.
"Devra Rodriguez itu hanya nama belakangku, sayang. Aku masih memiliki satu nama di depan dua nama belakangku itu," tutur Digo semakin mengeratkan pelukannya. Sebenarnya ia belum siapa untuk memberitahu nama asli dan lengkapnya itu kepada siapapun termasuk kekasihnya sendiri. Tapi setelah ia berpikir cukup matang, mungkin hari ini adalah hari yang tepat ia mengatakannya dan memberitahu kepada Sheilla karena cepat atau lambat kekasihnya itu memang seharusnya tau segalanya yang telah ia alami selama ini termasuk nama yang ia rahasiakan.
"Oh ya? Kalau begitu pasti nama kamu Al Devra Rodriguez. Benar bukan?" Digo menggelengkan kepalanya.
"Bukan ya? Terus siapa dong? Katakan saja lah, soalnya aku tidak mau menebak-nebak dan berakhir salah," ucap Sheilla.
"Yahhhh padahal aku ingin kamu yang menebaknya."
"Baiklah-baiklah aku akan memberitahumu." Digo dengan gemas mencubit hidung kekasihnya itu sebelum dirinya melanjutkan ucapannya tadi.
"Nama lengkapku yang sebenarnya adalah Al---"
Tok tok tok!!
Ucapan dari Digo itu terputus dengan adanya ketukan di pintu kamarnya.
"Siapa?!" teriak Digo dengan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Sheilla saat dirinya berteriak tadi.
"Saya, Monik, tuan!" sautan seseorang dari luar kamar pun membuat Digo dan Sheilla saling pandang satu sama lain dan dengan kompak keduanya menggedikkan bahunya sebelum mereka berdua berjalan menuju ke arah pintu untuk menemui Monik.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Digo kala pintu kamar tersebut sudah di buka.
"Maaf menggangu waktu tuan dan Sheilla. Saya hanya ingin memberitahukan kepada tuan jika ada tamu yang tengah menunggu tuan di bawah," ucap Monik menyampaikan tujuannya datang ke kamar tuannya itu.
"Tamu? Siapa? Jika orang itu Wisma, usir saja karena saya tidak ingin bertemu dengannya untuk saat ini," ujar Digo yang masih marah dengan sahabatnya itu yang sudah membuat Sheilla salah paham tadi.
"Bukan tuan Wisma yang datang tuan tapi laki-laki lain. Saya juga tidak tau siapa beliau itu," ucap Monik yang membuat Digo kini menghela nafas panjang.
"Baiklah kalau begitu katakan kepada tamu itu untuk menunggu saya sebentar lagi. Saya akan segara turun dari sini beberapa menit lagi," perintah Digo.
"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi," tutur Monik yang diangguki oleh Digo dan Sheilla.
Dan setelah kepergian dari Monik tadi, Digo langsung menatap kearah Sheilla.
"Mau ikut ke bawah atau mau disini saja?" tanyanya.
"Aku tidak ingin mengganggumu menemui tamu kamu itu. Dan takutnya kalian akan membahas soal pekerjaan kalian, jadi lebih baik aku tetap disini saja," jawab Sheilla.
"Ya sudah kalau gitu aku tinggal dulu. Ingat, jangan bekerja lagi seperti tadi. Kamu paham sayang?" Sheilla menganggukkan kepalanya dengan tersenyum manis kearah kekasihnya itu. Dan hal tersebut membuat Digo ikut tersenyum bahkan tangannya kini bergerak untuk mengacak rambut Sheilla.
"Aku kebawah dulu," ucap Digo sebelum dirinya beranjak dari depan Sheilla itu.
Sheilla terus menatap kepergian kekasihnya itu hingga Digo menghilang di balik pintu lift di lantai itu. Dan setelah kepergian dari Digo, ia kembali masuk kedalam kamar dengan mata yang kini menatap lekat kearah kalung peninggalan sekaligus kado terakhir dari Yura itu yang sekarang tengah berada ditangannya.
"Al?" gumam Sheilla masih menebak-nebak nama asli dari Digo.
"Aku tidak menyangka jika ternyata nama asli dia bukan hanya Devra Rodriguez saja melakukan ada satu nama lagi di depan dua nama itu. Dan aku sangat penasaran dengan nama depan Digo? Kenapa dia seakan-akan menyembunyikan nama depannya itu? Apakah ada historis yang tidak di peruntukan oleh orang awam mengetahuinya? Atau ada story kelam di balik nama itu?" ucap Sheilla dengan mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang kamar tersebut dengan mata yang masih menatap dan menelisik detail kalung itu.
Hingga tatapannya berhenti di belahan liontin tersebut.
"Apakah liontin ini bisa dibuka?" tanyanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Hmmmm sepetinya sih bisa. Tapi apakah aku boleh membuka liontin ini tanpa sepengetahuan Digo? Aku takut dia akan marah atas kelancanganku ini. Tapi jika aku tidak membukanya saat ini, aku benar-benar penasaran." Sheilla tampak dilema.
"Tidak tidak. Aku tidak boleh membuka liontin ini tanpa izin dari Digo. Aku tidak ingin melihat dia marah. Jika aku ingin tau isi di dalam liontin ini maka aku harus menunggu izin dari Digo terlebih dahulu. Ya aku harus menunggu itu," putus Sheilla pada akhirnya sebelum dirinya kini bergerak menuju ke arah sofa kembali lalu setelahnya ia mengembalikan kalung tersebut ke kotaknya lagi.