The Dark Love

The Dark Love
26. Awal


__ADS_3

Dengan wajah dingin nan datar, Digo menginjakkan kakinya di tanah negara Australia lebih tepatnya di Sydney karena sesuai dengan informasi yang terakhir Henry dapatkan jika orang yang mereka incar berada di kota Sydney. Dan dengan pakaian serba hitam tak lupa dengan masker serta topi juga kacamata dengan warna yang senada dirinya berjalan dengan gagah keluar dari area bandara Kingsford-Smith menuju ke mobil hitam yang sudah menunggu kedatangannya sedari tadi.


Dan sesampainya dirinya di samping mobil tersebut, anak buahnya yang sedari tadi menunggunya dengan kompak membungkukkan badan yang dibalas anggukan oleh Digo sebelum laki-laki itu masuk kedalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh salah satu anak buahnya.


Setelah memastikan bos mereka sudah benar-benar masuk, semua anak buah Digo masuk kedalam mobil mereka masing-masing. Kemudian beberapa mobil tersebut melaju ke tujuan mereka.


Didalam perjalanan Digo disibukkan dengan tap yang sedari tadi berada di pangkuannya sedangkan Henry ia disibukkan dengan ponselnya untuk memantau pergerakan anak buahnya yang tengah mengawasi Yoga saat ini.


"Bagaimana? Apa ada pergerakan dari dia?" tanya Digo memecah keheningan di dalam mobil tersebut.


"Tidak ada pergerakan sama sekali dari dia. Setelah dia pindah dari kota Brisbane ke Sydney, dia belum terlihat batang hidungnya keluar dari rumah yang tengah dia tinggali saat ini," ujar Henry menjelaskan apa yang telah ia peroleh dari anak buahnya.


"Apa kamu yakin dia tidak keluar sama sekali dari rumahnya?" Henry sebenarnya tidak yakin akan hal tersebut. Karena jika di nalar, sudah 3 hari ia mendapat informasi kepindahan Yoga masak iya laki-laki itu sama sekali tidak keluar rumah. Atau sekiranya membuang sampah pun masak tidak laki-laki itu lakukan?


"Sebenarnya aku juga tidak yakin akan hal ini. Tapi yang memberi informasi kan anak buah kita yang ada disana dan memantau 24 jam pergerakan Yoga. Masak iya mereka menipu kita," ujar Henry.


"Kita tidak tau pastinya mereka bagaimana. Karena zaman sekarang banyak sekali orang yang menikam kita dari belakang. Jadi daripada kita membuang waktu lagi, kita langsung ke lokasi tujuan kita untuk memastikan apa yang di katakan oleh anak buahmu itu benar," ucap Digo yang membuat Henry menghela nafas lelah. Padahal ia ingin sekali merebahkan tubuhnya karena waktu di Sydney hari ini sudah malam bahkan sudah tengah malam tapi mengingat bosnya ini memang seenaknya saja alhasil ia hanya bisa pasrah saja.


Henry kini memerintahkan kepada sopir mobil yang mengantarnya juga Digo untuk berputar arah menuju ke lokasi tempat Yoga berada. Dan setelah perintah Henry terdengar, sopir mobil tersebut langsung memutar arah dan menuju ke lokasi di ikuti oleh beberapa mobil yang sedari tadi mengiring mobil utama.

__ADS_1


Beberapa menit telah mereka tempuh dan akhirnya kini mobil yang Digo dan Henry tumpangi telah berhenti di lokasi yang mereka tuju.


"Yang mana rumah dia?" tanya Digo sebelum dirinya keluar dari dalam mobil dengan menatap beberapa bangunan minimalis yang berada di sekitarnya.


"Rumah dia ada di pojok dan beberapa rumah ini sudah di sewa oleh anak buah kita untuk kelancaran pengawasan mereka," ucap Henry yang diangguki oleh Digo.


"Jadi apa anak buahmu itu sekarang tengah mengawasi dia didalam rumah?" Henry menganggukkan kepalanya.


"Tapi bukan hanya dari rumah saja, mereka juga mengawasi pergerakan Yoga di sekitar rumah dia. Apa kamu mau lihat cara kerja mereka?" Tanya Henry.


"Baiklah. Antarkan saya untuk melihat kerja mereka." Henry menganggukkan kemudian dengan santai ia mulai melangkahkan kakinya mendekati rumah incara mereka. Tapi tenang saja, Henry tidak sebodoh itu, ia mencari jalan pintas yang di buat oleh anak buahnya agar tak di ketahui oleh Yoga jika laki-laki itu kini tengah di awasi oleh anak buahnya.


Dan seperti biasa sesampainya Digo dan Henry juga beberapa anak buah yang sedari tadi mengikutinya, dua orang selaku untuk mengawasi rumah Yoga menunduk memberikan salam kepada Digo. Mereka kini tengah berada di sisi kanan rumah Yoga yang terlihat sepi namun lampu di rumah itu menyala, menandakan jika di dalam rumah itu ada penghuninya.


"Masih sama seperti sebelumnya bos. Tidak ada pergerakan sama sekali dari dia," jawab salah satu dari mereka yang membuat Henry menganggukkan kepalanya. Namun berbeda dengan Digo yang menatap kearah salah satu jendela di rumah tak jauh dari pandangannya saat ini.


Saat Henry bertanya-tanya tentang masalah kali ini, Digo dibuat mengerutkan keningnya saat melihat siluet seseorang yang menggambarkan jika di dalam rumah itu bukan hanya ada satu orang saja melainkan beberapa orang yang tinggal disana.


"Kalian tau berapa orang yang tinggal di rumah itu?" tanya Digo tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela yang ia lihat tadi.

__ADS_1


"Selama pengawasan kita hanya ada dua orang yang sekarang tinggal di rumah itu. Yoga dan tangan kanannya," jawab salah satu orang tadi.


"Apa kalian yakin?"


"Kita yakin tuan," jawab keduanya dengan serempak.


"Jika memang begitu, coba lihat ke arah jendela tepat lurus dengan saya. Apa kalian lihat ada siluet seseorang yang jumlahnya tidak hanya dua saja?" Semua orang disana langsung mengalihkan pandangannya sesuai dengan perintah Digo tadi tak terkecuali Henry yang sekarang tengah mengerutkan keningnya.


"Ehhhh kok bisa? Kita semua yang selama ini mengawasi dia dari dia menginjakkan kakinya di kota ini mereka hanya berdua saja tuan. Kita juga lihat dengan mata kepala kita sendiri hanya ada Yoga dan tangan kanannya yang masuk ke rumah itu," ujar salah satu orang tersebut yang diangguki oleh temannya.


"Baiklah saya akan percaya dengan kalian. Tapi tidak menutup kemungkinan bukan kalau orang yang sekarang juga tinggal dengan mereka adalah orang yang lebih dulu pindah kesini? Lagian kalian juga mengikuti dia saat dia melakukan pergerakan saja bukan? Dan kemungkinan saat mereka tinggal di Brisbane mereka sudah tau jika tengah diawasi oleh kalian jadi dia membuat rencana perpindahan mereka kesini dengan cara sebagian pindah terlebih dahulu dan hanya menyisakan dia dan tangan kanannya saja. Dan mungkin persembunyian kalian saat ini juga sudah di ketahui oleh mereka," ujar Digo dengan santai namun tidak dengan semua anak buahnya terutama Henry yang sudah mulai mengedarkan pandangannya, takut-takut jika anak buah Yoga melakukan penyerangan mendadak kepada mereka.


"Apa yang kamu katakan tadi sepertinya benar. Dan jika di nalar, kenapa dia tidak keluar dari rumah itu jika mereka tidak tau sedang di awasi oleh kita?" Digo menganggukkan kepalanya.


"Jadi kalau sudah seperti ini kita harus bagaimana?" tanya Henry yang mulai panik sendiri.


"Kerahkan semua anak buahmu yang mengawasi mereka untuk mundur." Henry melebarkan matanya sempurna.


"Lho kok mundur?"

__ADS_1


"Terus jika kita tidak mundur sekarang, apa kamu mau nyawa anak buahmu itu hilang satu persatu?" tanya Digo dengan menatap tajam kearah Henry yang langsung mendapat gelengan.


"Jadi tunggu apa lagi. Kasih tau ke semua anak buahmu untuk mundur dan segera berkumpul di salah satu rumah yang sudah mereka sewa yang jauh dari rumah ini!" perintah telak Digo yang dengan cepat diangguki oleh Henry. Dan tanpa banyak bicara lagi, Henry langsung mengerahkan beberapa anak buahnya untuk memberitahu orang-orang yang ia tugaskan untuk mengawasi Yoga agar mereka mundur dan berkumpul di salah satu rumah. Dan selagi para anak buahnya bergerak untuk menjalankan tugas, Henry kini mengikuti Digo yang lebih dulu beranjak dari lokasi tersebut menuju mobil yang ia tumpangi tadi.


__ADS_2