The Dark Love

The Dark Love
202. Merasa Tak Pantas


__ADS_3

Setelah kepergian dari Henry tadi, suara pintu ruang inap Monik terbuka kembali yang membuat Monik dengan cepat mengusap air matanya sebelum ia melihat kearah seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut.


Monik membalas senyuman dari perempuan yang berjalan mendekatinya. Walaupun sebenarnya ia merasa canggung dan tak enak hati dengan perempuan itu namun sebisa mungkin ia menyembunyikannya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya perempuan itu yang tak lain adalah Sheilla sembari mendudukkan tubuh di kursi yang tadi digunakan oleh Henry.


"Jauh lebih baik dari kemarin, nyonya." Sheilla tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Mungkin kamu tau siapa orang yang sudah menemukan alat testpack kamu itu dari cerita Henry. Benar kan?" Monik menjawab pertanyaan dari Sheilla dengan anggukkan kepalanya.


"Maaf, saya tidak bermaksud lancang masuk kedalam kamarmu tadi pagi," ucap Sheilla dengan kepala yang tertunduk.


"Nyonya tidak perlu meminta maaf karena justru saya lah yang akan meminta maaf ke Nyonya karena saya sudah membuat kehebohan di mansion. Maafkan saya nyonya." Sheilla dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak-tidak kamu jangan meminta maaf. Di mansion tidak ada kehebohan sama sekali. Kamu juga tidak perlu takut jika semua orang di mansion mengetahui akan fakta jika kamu sekarang tengah berbadan dua karena yang tau akan fakta itu hanya aku, Digo dan Henry saja," ucap Sheilla yang sepertinya tau akan kekhawatiran yang bersarang di kepala Monik saat ini. Ia tau jika perempuan itu takut saat dia kembali ke mansion nanti akan mendapat cemoohan dengan tuduhan yang tidak-tidak dari para sesama maid disana. Sekali lagi mereka memang tinggal di negara yang bebas akan berhubungan badan dan kebanyakan orang di mansion dari negara-negara itu. Tapi tak menutup kemungkinan ada rasa iri saat mengetahui Monik menjadi istri Henry, tuan kedua mereka yang mana saat mereka mengetahui akan aib dari Monik pasti mereka akan mencari celah untuk merendahkan Monik dengan tujuan melemahkan mental Monik yang berakhir nanti akan terjadi sesuatu yang tak di inginkan.


"Ahhhh daripada kita membahas hal itu. Lebih baik aku akan memberitahu kamu tentang sesuatu," ucap Sheilla yang tak ingin berlama-lama terjebak dalam situasi canggung seperti tadi.


Monik mengerutkan keningnya sebelum ia berucap, "Memberitahu tentang apa Nyonya?"

__ADS_1


"Jadi begini, kemarin aku dan Digo sudah berdiskusi dan memutuskan jika kamu akan aku angkat sebagai asisten pribadiku." Monik yang mendengar hal itu ia sempat terkejut sebelum ia tersenyum bahagia.


Namun senyumannya itu luntur seketika saat Sheilla melanjutkan ucapannya.


"Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi pasalnya dalam beberapa waktu kedepan kamu akan menyandang status sebagai istri Henry yang otomatis kamu akan menjadi nyonya juga di mansion," sambung Sheilla dengan senyum bahagianya berbanding terbalik dengan Monik.


Sheilla yang menangkap perubahan ekspresi dari Monik pun ia memincingkan alisnya.


"Heyyy Monik. Kenapa ekspresi wajah kamu seperti itu? Kamu tidak suka menikah dengan Henry dan menjadi nyonya di mansion?" Monik tampak menghela nafas sebelum dirinya menjawab ucapan dari Sheilla tadi.


"Saya merasa tidak pantas menjadi nyonya di mansion. Dulu saya hanya dari keluarga biasa saja sampai akhirnya saya hidup sebatang kara dengan status anak yatim piatu. Dan terpaksa melakukan pekerjaan haram, membunuh banyak orang yang sebenarnya tak membuat masalah dengan saya hanya karena sesuap nasi saja. Dan salah satunya tuan Henry juga tuan Digo yang menjadi target saya. Mereka berdua memang berhasil menghindar dari trik-trik yang saya gunakan untuk melenyapkan mereka berdua tapi tak urung tuan Digo pernah harus menjalani operasi di punggungnya untuk mengeluarkan peluru di punggungnya atas ulah saya waktu itu. Dan---" Monik mengigit pipi bagian dalamnya saat kilas memori masa lalunya kembali berputar.


Setetes cairan bening keluar dari mata Monik. Ini lah alasan kenapa dirinya sangat berat untuk memberitahu kehamilannya itu kepada Henry karena selain ia takut mati di tangan laki-laki itu, ia juga merasa tak pantas menjadi istri seseorang yang nyawanya hampir lenyap di tangannya sendiri saat Henry memutuskan untuk menikahi dirinya.


Sheilla yang baru mendengar fakta baru itu ia sempat terkejut sesaat tadi sebelum tangannya kini bergerak untuk mengelus punggung Monik.


"Itu hanya sebuah masa lalu yang harusnya tidak perlu kamu ingat lagi Monik. Kamu juga harusnya tau bagaimana aku dulu bisa masuk kedalam mansion kan. Aku dulu sama sepertimu berniat melenyapkan Digo, jika di pikir-pikir aku juga tidak pantas untuk menjadi istri dia setelah apa yang aku perbuat dulu. Tapi itu kan hanya dari sudut pandang kita sendiri tidak dengan sudut pandang Digo yang mungkin menurut dia, aku pantas-pantas saja menjadi istri dia. Nah begitu juga dengan kamu. Toh kamu sudah tinggal di mansion cukup lama, dan aku dengar selain Henry, kamu adalah seseorang yang maju di garda terdepan saat Digo atau Henry membutuhkan ketangkasanmu untuk melawan musuh tanpa peduli dengan nyawamu sendiri. Dari sini saja sudah bisa di bilang kamu sudah bisa menebus kesalahan yang kamu lakukan dimasa lalu. Jadi daripada kamu memikirkan pantas atau tidaknya kamu menjadi istri Henry, lebih baik kamu persiapkan diri kamu untuk menghabiskan uang Henry bersamaku nanti," ucap Sheilla dengan senyuman serta alis yang naik turun.


Sedangkan Monik, ia mengerjabkan matanya tak paham dengan ucapan Sheilla barusan.

__ADS_1


"Maksud nyonya?" tanya Monik.


"Ck, begini lho. Beberapa hari lagi kan kamu sudah menikah dengan Henry. Nah setelah kalian menikah aku akan membantu kamu untuk menghabiskan uang Henry untuk kesenangan kita. Punya suami sultan, manfaatkan dengan baik hartanya. Jangan disia-siakan," jelas Sheilla yang kini berhasil membuat Monik melongo sebelum ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nyonya ada-ada saja," ucap Monik dengan senyumannya. Dimana hal tersebut membuat Sheilla menghela nafas lega setelah berhasil mengembalikan senyuman Monik yang tadi sempat hilang. Namun sesaat setelahnya Sheilla mengerucutkan bibirnya kala dirinya menyadari sesuatu.


Monik yang melihat hal itu, ia mengerutkan keningnya untuk yang kesekian kalinya.


"Nyonya kenapa?" tanya Monik baik-baik tapi justru langsung mendapat tatapan tajam dari perempuan itu.


"Coba ulangi ucapanmu tadi!" perintah Sheilla.


"Nyo---" Sheilla berdecak sebal padahal Monik belum menyelesaikan ucapannya.


"Ck, sekali lagi aku dengar kamu memanggilku dengan embel-embel nyonya. Aku juga akan memanggilmu dengan sebutan itu."


"Eh kok---" Jari telunjuk Sheilla kini menempel di bibir Monik yang otomatis membuat perempuan itu mengatupkan bibirnya.


"Sttttt, kita ini sekarang sama-sama menjadi seorang nyonya Monik. Jadi hentikan, jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi. Panggil saja dengan namaku seperti dulu. Kamu tenang saja tidak akan ada yang marah termasuk Digo sekalipun. Dan selain kita menjadi Nyonya di mansion, kamu sekarang juga akan menjadi bestieku," ucap Sheilla dengan perasaan bahagia yang membuncah dan karena saking bahagianya dia, ia sampai memeluk tubuh Monik dengan sangat erat hingga membuat Monik meringis saat pasokan oksigen ditubuhnya semakin menipis.

__ADS_1


__ADS_2