
Disisi lain, tepatnya di lantai 3 mansion tersebut sepasang suami istri tengah duduk dengan memandang pemandangan di luar lewat balkon kamarnya dengan posisi tangan Digo yang memeluk erat pinggang istrinya itu yang otomatis membuat Sheilla menyadarkan kepalanya di bahu Digo.
Keduanya sempat saling diam beberapa saat sampai akhirnya Sheilla yang tingkat kekepoannya tinggi ia akhirnya bertanya.
"Dear," panggil Sheilla yang membuat Digo menundukkan kepalanya agar dirinya bisa melihat wajah cantik istrinya yang tengah menengadah itu.
"Kenapa hmmm? Butuh sesuatu?" tanya Digo.
Sheilla menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak butuh apa-apa untuk saat ini, hanya saja aku masih penasaran dengan cerita Henry dan Monik sebenarnya. Kamu tadi saat di rumah sakit katanya mau memberitahuku tapi ternyata malah kamu ada kerjaan yang mendadak sampai akhirnya kamu tidak jadi cerita. Makanya sekarang sebagai gantinya, cerita dong. Aku penasaran. Mau tanya langsung ke Monik, aku tidak enak," ujar Sheilla. Ya, tadi saat Henry tengah memberikan kepastian kepada Monik secara empat mata, sepasang suami-istri yang memberikan waktu untuk mereka menunggu di ruang tunggu tepat di depan kamar Monik dan saat itu Digo berniat untuk menceritakan kronologi kejadian sampai masalah sebesar itu terjadi. Namun belum apa-apa laki-laki itu sudah mendapat telepon dari tangan kanannya di kantor untuk segara pergi ke tempat itu dengan alasan darurat. Dimana hal itu mau tidak mau, Digo harus menunda niatannya itu sampai akhirnya ia lupa.
Digo tampak tersenyum melihat bibir Sheilla manyun kedepan, sebelum ia mengecup sekilas bibir itu.
"Baiklah aku akan menceritakan secara detail kronologi yang sudah aku dengar dari Henry sendiri," ucap Digo kemudian ia melanjutkan ucapannya itu dengan menceritakan kronologi kejadiannya sama persis dengan apa yang ia dengar dari mulut Henry.
Dan jangan tanya reaksi yang di berikan oleh Sheilla, perempuan itu sekarang tengah mengepalkan kedua tangannya.
"Kurang ajar. Vina sialan!" umpat Sheilla namun sesaat setelahnya ia berdesis kala merasakan sebuah sentilan di bibirnya. Dan pelakunya siapa lagi kalau bukan Digo.
__ADS_1
"Jangan berkata kasar sayang. Tidak baik," ucap Digo memperingatkan. Dimana hal itu membuat Sheilla kini mencebikkan bibirnya.
"Refleks. Lagian kenapa sih itu perempuan satu hobi banget bikin orang kena masalah. Heran aku tuh. Rasanya pengen aku musnahkan tau gak manusia semacam dia. Tidak ada gunanya juga dia di dunia ini hanya menambah beban justru iya. Dan kenapa saat kita kemarin pulang ke Indonesia tidak bertemu dia sih." Digo mengerutkan keningnya.
"Kalau ketemu dia memangnya kamu mau apa?" tanya Digo dengan tiba-tiba ia mengangkat tubuh Sheilla kedalam pangkuannya. Sheilla sempat terkejut akan aksi suaminya itu, namun keterkejutannya itu hanya sesaat saja karena setelah itu ia menjawab pertanyaan dari Digo.
"Kan aku tadi sudah bilang kalau mau melenyapkan dia dari dunia ini. Kalaupun aku gagal membuat dia lenyap setidaknya aku bisa menghajar dia, membalas semua perbuatan keji dia itu." Digo kini tampak tersenyum, melihat Sheilla yang tengah marah seperti ini justru membuat kesan menggemaskan di mata Digo.
"Dia sudah gila sayang jadi untuk apa kamu melenyapkan atau menghajar orang gila," ucap Digo sembari tangannya bergerak untuk menyingkirkan rambut Sheilla yang menutupi sebagian wajah istrinya itu.
Sedangkan Sheilla yang mendengar ucapan dari Digo pun ia menatap kearah suaminya dengan bertanya, "Maksud kamu?"
"Apa ucapanku tadi belum jelas sayang? Perempuan yang berniat kamu hajar dan lenyapkan itu sudah gila sekarang."
"Kok bisa?" tanya Sheilla kode agar Digo bercerita lebih detail kenapa Vina menjadi gila seperti yang di maksud suaminya itu.
"Dia depresi parah setelah ibunya meninggalkan dia hidup sendirian. Tidak hanya itu saja tapi dia keluar dari dunia entertainment setelah skandalnya itu muncul ke publik dimana hal itu mengakibatkan keuangannya bermasalah. Dan dari skandal itu bukan hanya meredupkan karirnya di bidang entertainment tapi juga di bisnis dia yang anjlok sampai akhirnya harus gulung tikar. Tapi ada satu hal lagi yang mungkin ini adalah hal terbesar kenapa dia bisa gila seperti sekarang karena dia tengah hamil anak siapa entahlah aku juga tidak tau." Mata Sheilla tampak terbuka lebar kala mendengar alasan Vina bisa gila. Ia tak menyangka perempuan itu akan mengalami hal yang cukup berat itu dan pantas saja membuat dia gila karena jika Sheilla berada di posisi Vina mungkin ia akan mengalami hal yang sama dengan perempuan itu. Tapi beberapa saat setelah keterkejutannya itu, Sheilla tersadar dengan satu hal yang entah kenapa tiba-tiba membuat dirinya khawatir.
"Tunggu dulu. Kata kamu dia sekarang gila kan?" Digo menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari istrinya itu.
__ADS_1
"Dia juga hamil kan?" Lagi dan lagi Digo mengangguk saja.
"Kalau dia gila dalam posisi hamil, gimana dengan kondisi janinnya? Kasihan kalau sampai terjadi apa-apa," ucap Sheilla yang membuat Digo kini mendengus.
"Tadi saja kamu mau melenyapkan dia dari dunia ini tapi kenapa sekarang kamu tiba-tiba peduli seperti ini?" Ujar Digo yang sepertinya tak suka dengan sikap simpati Sheilla kepada perempuan ular itu.
"Ck, aku peduli dengan janinnya saja, Dear bukan dengan Vina-nya. Lagian kalaupun perempuan itu mati sekalipun aku tidak peduli. Tapi kalau janin dia, kasihan lah, Dear. Dia kan tidak tau apa-apa, tidak berdosa pula dan tidak sepantasnya untuk di benci," tutur Sheilla.
"Masa bodoh lah mau sama perempuan gila itu atau janinnya sekalian. Aku tidak peduli sayang dan aku tidak suka kamu iba dengan salah satu dari mereka," balas Digo yang sudah cukup malas membahas perempuan itu karena tanpa sepengetahuan siapapun salah satu alasan Vina sampai gila adalah Digo yang tentunya setelah Vina, ia pulangkan ke Indonesia, laki-laki itu membalas dendam dengan apa yang sudah Vina lakukan kepada Sheilla dengan cara ia menghasut semua klien yang bekerjasama dengan perusahaan Vina untuk membatalkan kerjasama mereka atau mencabut kerjasama mereka dengan iming-iming ia mau bekerjasama dengan mantan klien Vina itu. Dimana hasutannya itu ternyata berhasil dan disitulah perusahaan dan bisnis Vina mulai bangkrut.
Sedangkan Sheilla yang mendengar ucapan dari sang suami pun ia menepuk lengan Digo yang melingkar di perutnya itu sembari berucap, "Ishhhh gak boleh gitu. Jahat banget sih. Aku gak suka kalau kamu terlalu jahat seperti ini."
Digo memutar bola matanya malas.
"Aku jahat hanya kepada orang-orang menyebalkan di luar sana. Jika dia tidak menyebalkan dan mengusik hidupku, hidupmu, hidup keluargaku dan hidup orang-orang disini aku juga tidak akan jahat ke mereka," ucap Digo tak mau kalah.
"Janin yang dikandung Vina kan tidak pernah mengusik kita. Jadi daripada hatimu itu terus membenci janin yang tidak bersalah lebih baik kamu telepon salah satu anak buahmu yang ada di Indonesia untuk menjenguk Vina. Dia di bawa ke rumah sakit jiwa kan?" Pertanyaan dari Sheilla tadi dijawab dengan gedikkan bahu oleh Digo.
"Ck, aku tanya beneran lho ini. Jawabnya yang serius dong," protes Sheilla.
__ADS_1
"Aku tidak tau dan tidak mau tau perempuan gila itu sekarang dimana. Jadi jangan bahas dia lagi karena itu sangat memuakkan dan dari pada membahas dia yang tidak ada manfaatnya. Lebih baik kita jadikan saja program baby kita. Biar nanti lahirnya usianya tidak jauh dari anak Henry dan Monik. Karena kalau usia mereka tidak beda jauh, aku tidak perlu pusing-pusing mencari bodyguard pribadi untuk anak kita karena aku akan menjadikan anak Henry dan Monik menjadi bodyguard anak kita. Tidak peduli jika anak mereka lahir dengan jenis kelamin perempuan dan anak kita berjenis kelamin laki-laki," ujar Digo sembari berdiri dari posisi duduknya tapi tak lupa ia turut membawa tubuh Sheilla kedalam gendongannya.
Sheilla yang mendengar ucapan itu ia hanya bisa memutar bola matanya malas. Anak Henry dan Monik belum juga lahir sudah mendapat tanggungjawab yang sangat besar dari Digo. Padahal jika memang Sheilla bisa menyusul Monik untuk hamil secepatnya ia berkeinginan menjadikan calon dua generasi itu menjadi sahabat bukan malah menjadikan mereka sebagai tuan dan bodyguard seperti keinginan Digo tadi. Ahhh menyebalkan, batin Sheilla.