
Hembusan nafas Digo yang sudah berada di depannya membuat Sheilla reflek menutup kedua matanya.
Digo yang melihat hal tersebut pun ia semakin melebarkan senyumnya.
"Apa kamu pikir saya akan mencium kamu? Jangan berharap terlalu tinggi Sheilla," ucap Digo tepat di samping telinga Sheilla dan setelah mengucapkan hal tersebut ia memundurkan tubuhnya, tak lupa tangannya bergerak untuk memberikan sentilan di kening Sheilla.
Sheilla yang mendengar bisikan dari Digo juga sentilan itu pun ia membuka matanya dan menatap laki-laki didepannya itu dengan tajam.
"Kamu---" baru saja Sheilla ingin marah, telapak tangan Digo lebih dulu mendarat tepat di bibirnya hingga suara yang hampir saja keluar tadi kini berubah menjadi gumaman saja.
"Stttt. Jangan berisik Sheilla. Saya tidak mau mendengar suara jelekmu itu di pagi hari ini. Dan lebih baik kamu segera mandi sebelum saya mengunci kamar mandi dan tak akan pernah mengizinkan kamu untuk menginjakkan kaki kamu di kamar mandi manapun di rumah ini," ucap Digo dengan memberikan sedikit ancaman kepada perempuan di hadapannya itu. Lalu setelah mengucapkan hal tersebut, Digo langsung berjalan menuju ke walk in closet. Meninggalkan Sheilla yang terus mengumpati dirinya secara terang-terangan dengan hentakan kakinya saat perempuan itu beranjak menuju ke kamar mandi di kamar tersebut.
Digo yang sempat melirik tingkah Sheilla itu lagi-lagi senyum di bibirnya kembali terukir diwajahnya.
...****************...
Hanya butuh waktu 30 menit saja untuk Sheilla mandi dan dengan balutan baju yang masih sama seperti yang ia pakai sebelumnya, Sheilla keluar dari kamar mandi tersebut. Dan hal pertama yang ia lihat adalah Digo yang tengah duduk di salah satu sofa di kamar tersebut sembari memakai jam tangan mahalnya.
Namun Sheilla memilih untuk bersikap bodoamat dan kini ia berjalan menuju ke depan pintu balkon yang sebelumnya terhalang oleh kain panjang, kini kain itu sudah hilang. Dan hal tersebut membuat Sheilla bisa leluasa melihat pemandangan yang cukup menyejukkan matanya walaupun pintu balkon itu masih terkunci rapat.
"Apa pemandangan di luar sana lebih indah dari wajah saya?" pertanyaan seseorang yang sangat ia hafal suaranya itu membuat Sheilla memutar bola matanya malas. Sejak kapan laki-laki yang terkenal dengan kekejamannya itu bisa senarsis ini? Apa mungkin memang itu sifat asli dari seorang Digo yang sangat di takuti oleh semua orang? Jika benar, maka hancurlah reputasi dirinya nanti jika lawannya tau akan sifat narsisnya itu.
Digo yang tadi melayangkan sebuah pertanyaan kepada perempuan di depannya itu namun tak kunjung mendapat jawaban, ia langsung mendengus sebal. Dan saking sebalnya ia melempar paper bag yang sedari tadi ia pegang hingga mengenai punggung Sheilla yang berhasil membuat perempuan itu memutar tubuhnya menjadi menghadap kearahnya dengan tatapan permusuhan yang terpancar dimatanya.
"Pakai itu. Saya beri waktu 5 menit. Jika kamu tidak selesai memakai itu dalam waktu yang sudah saya sebutkan tadi. Jangan salahkan saya, jika kamu nanti saya tinggal disini yang otomatis kamu akan kekunci disini dan saya pastikan kamu akan mati setelahnya," ucap Digo yang membuat Sheilla menghela nafas panjang sebelum tangannya terulur mengambil paper bag yang berada di bawah kakinya. Lalu tanpa mengucapakan sepatah katapun ia bergegas menuju ke kamar mandi lagi untuk mengganti pakaiannya.
Dan saat didalam kamar mandi, ia membelalakkan matanya setelah ia melihat isi paper bag yang di berikan oleh Digo tadi.
__ADS_1
"Bajingan itu. Berani-beraninya nyuruh aku buat pakai pakaian maid," geram Sheilla sembari menatap pakaian yang sama persis dengan pakaian yang digunakan oleh dua maid yang menemani dirinya waktu itu.
Namun tak sampai disitu saja, mata Sheilla di buat melotot saat melihat didalam paper bag tersebut juga ada sepasang dalaman wanita dengan secarik kertas yang menempel di salah satu benda yang akan menutupi aset berharganya itu.
Sheilla mengambil secarik kertas itu dan mulai membacanya.
"Dalaman ini saya belikan sendiri khusus untuk kamu. Kamu tidak perlu khawatir jika pakaian dalam ini ke kecilan atau kebesaran. Karena saya pastikan dalaman ini sudah sangat pas di tubuh kamu. Selamat mencoba, Sheilla. Semoga kamu suka."
Sheilla yang telah selesai membaca isi secarik kertas itu kini ia meremas kertas tersebut kemudian dengan nafas yang memburu ia mulai berteriak, "DIGO SIALAN! BRENGSEK! MESUM!"
Digo yang mendengar teriakan menggema itu, kini terkekeh kecil karena rencananya berhasil.
"Maafkan saya, Sheilla karena mungkin mulai saat ini, membuat kamu emosi adalah hobi baru saya," gumam Digo sebelum dirinya kini berjalan menuju ke depan pintu kamar mandi tersebut dan mengetuknya.
"Waktu kamu tinggal 10 detik Sheilla. Jika dalam hitungan kesepuluh kamu tidak keluar, maka saya pastikan kamu akan mati saat ini juga!" teriak Digo.
"Dua!"
"Tiga!"
"Tunggu sebentar sialan!" suara Sheilla menghentikan acara berhitung Digo. Namun setelahnya Digo meneruskan menghitungnya hingga tiba saatnya Digo mengucapakan angka sepuluh, bertepatan itu pula pintu kamar mandi tersebut terbuka lebar.
Digo kini menatap penampilan Sheilla dari atas sampai bawah. Pakaian berwarna hitam putih khas untuk seorang maid yang bekerja di rumahnya itu tak melunturkan kecantikan Sheilla, Digo akui itu.
"Good. Kita keluar sekarang," ujar Digo lalu berjalan lebih dulu menuju ke pintu kamar tersebut. Tapi saat dirinya ingin memutar kenop pintu, suara Sheilla menghentikannya.
"Maksud kamu apa nyuruh saya buat pakai pakaian seperti ini?" tanya Sheilla dengan intonasi suara tinggi.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu menyuruh saya untuk jadi maid kamu?" Digo melirik kearah Sheilla dengan senyum miringnya.
"Jika kamu sudah tau, kenapa harus bertanya lagi," ujar Digo sembari membuka pintu kamar tersebut.
Sedangkan Sheilla, ia kini mengepalkan kedua tangannya. Sebenarnya ia tak masalah menjadi seorang maid karena sebelum dirinya terjerumus kedalam dunia hitam, ia sempat bekerja sebagai maid disalah satu apartemen di negara kelahirannya. Tapi untuk sekarang, dia mana terima menjadi pembantu di rumah musuhnya sendiri. Ia tak akan pernah sudi melakukannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu mau ucapan saya tadi kejadian. Kamu akan terkurung di kamar ini dan akan menemui ajal kamu saat ini juga? Iya?" sentak Digo yang membuat lamunan Sheilla tersadar.
"Kamu benar-benar membuang waktu saya, Sheilla. Keluar sekarang atau saya bunuh kamu." Sheilla yang mendapat ancaman dari Digo untuk kesekian kalinya pun dengan langkah tak ikhlas ia berjalan untuk segara keluar dari kamar milik musuhnya itu. Dan saat dirinya baru keluar dari kamar tersebut yang pertama ia rasakan adalah suasana didalam rumah itu terasa begitu sepi. Padahal setahu dirinya kemarin, dijam-jam seperti ini banyak para maid yang berlalu lalang untuk membersihkan rumah tiga lantai itu. Tapi anehnya pagi ini, ia tak mendapati satupun maid di rumah tersebut. Bahkan sampai ia di lantai satu rumah tersebut, ia masih tak melihat keberadaan mereka dan hanya melihat beberapa laki-laki berbadan besar yang sekarang tengah berdiri diambang pintu.
"Kemana para maid? kok hari ini aku tidak melihat mereka satupun," gumam Sheilla yang masih bisa didengar oleh Digo.
"Mereka semua saya suruh untuk istirahat. Dan berhubungan kamu hari ini saya dapuk sebagai maid baru di rumah ini maka semua pekerjaan para maid yang sekarang lagi istirahat, semuanya akan saya limpahkan ke kamu. Bersihkan semua lantai di rumah ini. Dan pastikan tidak ada debu sedikitpun yang menempel di lantai ataupun semua benda di rumah ini. Saat saya sudah pulang nanti, saya akan periksa pekerjaan kamu," ucap Digo kelewat santai tanpa memperdulikan ekspresi wajah Sheilla yang tampak shock dibuatnya.
"Bik Nah!" teriak Digo memanggil salah satu kepala maid yang ia bawa langsung dari negara kelahirannya.
Dan tak berselang lama setelah panggilan itu terdengar, terlihat ada seorang wanita paruh baya tengah berlari menuju kearahnya.
"Saya, tuan muda," ucap bik Nah saat dirinya sudah berada di hadapan bosnya.
"Bik Nah tau kan tugas yang harus bik Nah lakukan?" Bik Nah tampak menganggukkan kepalanya.
"Saya titip dia, Bik Nah. Awasi dia, jangan ada yang membantu dia menyelesaikan pekerjaannya." Lagi-lagi bik Nah menganggukkan kepalanya.
"Dan untuk kamu, Sheilla. Jangan pernah berpikir kamu bisa keluar dari rumah ini karena apapun ide yang sudah kamu susun di otakmu itu tidak akan pernah bisa berjalan dengan mulus. Dan jika kamu menurut semua perintah saya, maka saya pastikan keluarga kamu akan aman dalam pengawasan saya. Tapi jika tidak, maka keluarga kamu yang menjadi taruhannya," ucap Digo dengan sorot mata tajamnya yang membuat Sheilla merapatkan bibirnya yang hampir saja melontarkan kata-kata protes kepada Digo.
Dan setelah mengucapkan hal tersebut, Digo segera berjalan keluar dari rumah tersebut meninggalkan Sheilla yang sekarang menghela nafas berat.
__ADS_1