
Setelah kepergian dari kedua dokter tadi, tatapan Sheilla beralih kearah Digo, lebih tepatnya kearah satu kantong plastik yang sudah diletakkan oleh Digo diatas meja.
"Isi di dalam kantong itu apa?" tanya Sheilla penasaran dengan memepetkan tubuhnya ke tubuh Digo. Dimana perkataan dari Sheilla tadi membuat satu pasangan suami-istri yang lainnya mengalihkan pandangan mereka. Dan ya mereka adalah Henry dan Monik. Monik sudah tersadar dari pengaruh obat bius yang diberikan oleh dokter Shofie beberapa menit yang lalu. Dan kedua orang itu kini menatap kearah Sheilla dan Digo berada.
"Apa yang kalian bicarakan? Dan plastik itu apa?" tanya Henry mewakili rasa penasaran Monik.
__ADS_1
"Ini." Digo menunjuk kearah kantong plastik tersebut. Dimana hal tersebut membuat ketiga orang lainnya menganggukkan kepalanya.
"Kantong plastik ini berisi barang-barang milik Bomi," sambung Digo.
"What?! Untuk apa barang-barang Bomi kamu bawa kesini? Ngotor-ngotori kamar ini tau gak," protes Henry. Walaupun Bomi sudah meninggal ditangan sang sahabat, tapi tetap saja ia sangat benci dengan orang itu bahkan apapun yang berkaitan dengan dia rasanya ia harus memusnahkan dari muka bumi ini, termasuk benda mati sekalipun.
__ADS_1
"Gak bisa. Apapun yang berkaitan dengan nama Bomi buat aku meradang. Dia yang sudah melukai kamu, sayang dan harusnya dia tadi mati ditanganku!" ucap Henry menggebu-gebu.
"Sebelum dia mati tadi, aku pastikan pasti kamu yang mati terlebih dahulu jika saja aku tidak ada tadi," timpal Digo yang membuat Henry mencebikkan bibirnya. Ia akui dirinya tadi sangat-sangat terkejut saat melihat luka Monik sehingga tidak melihat situasi dan kondisi di sekitarnya. Dan ia sangat berterimakasih karena saat ia dalam keadaan yang tidak sigap, Digo yang menjadi pelindungnya. Jadi dari ucapan Digo yang sangat Henry benarkan itu, tidak bisa Henry jawab lagi. Laki-laki itu memilih untuk diam dan merangkul tubuh sang istri.
Monik yang melihat suaminya tengah mode manja pun ia hanya menggelengkan kepalanya sebelum ia kembali menatap kearah kantong plastik tersebut lalu ia berkata, "Apa barang-barang Bomi didalam kantong plastik itu ada yang mengarah ke bukti lain? Atau ada bukti jika Bomi bekerjasama dengan orang lain sehingga ia bisa senekat ini?"
__ADS_1
Digo menggedikkan bahunya untuk menjawab ucapan dari Monik. Lalu setelahnya ia membuka kantong plastik tersebut dan mengeluarkan satu persatu barang didalam kantong itu. Sekitar 8 barang kini sudah terjejer tapi diatas meja dihadapan Digo dan Sheilla. 2 diantara 5 benda itu adalah ponsel, 1 buah dompet, 2 senjata tajam berupa pisau lipat dan sebuah belati, 2 pistol yang tadi digunakan Bomi dan satu buah punch berukuran sedang yang berisi mungkin puluhan peluru didalam sana. Dimana hal tersebut membuat Sheilla maupun Monik tampak terkejut melihat isi punch tadi kala Digo sudah membuka dan memperlihatkan isinya. Sedangkan Digo serta Henry hanya bisa menghela nafas panjang. Mereka tak habis pikir sebegitu niatnya Bomi ingin mencelakai mereka sampai-sampai ia mempersiapkan semuanya dengan matang dan tak terendus oleh seorang pun di mansion ini.
"Hentikan keterkejutan kalian, ini bukan saatnya dan lebih baik kita segara bergerak untuk memecahkan masalah ini karena aku sangat yakin jika ada seseorang dibelakang Bomi yang mendukung dan mendorong Bomi beraksi nekat seperti ini," ujar Digo dengan mantap lurus kearah depannya dengan kepalan ditangannya guna untuk mereda emosinya itu.