
Dua hari Sheilla dilanda kegelisahan pada malam itu, Sheilla masih saja sesekali melamun memikirkan hal yang sebenarnya tak ingin ia pikirkan dan lagi-lagi objek yang memenuhi otaknya adalah Digo, si laki-laki yang hampir satu Minggu ini jauh darinya.
Dan seretan di lengannya secara tiba-tiba membuat dirinya tersadar sekaligus terkejut. Ia menolehkan kepalanya kearah wanita paruh baya yang menariknya tadi.
"Hati-hati Sheilla. Kamu jangan ngalamun terus. Sudah 5 barang lho yang sudah kamu rusak. Dan kamu hari ini hampir saja memecahkan guci pemberian nyonya jika saja saya tadi tidak menyeret tubuh kamu lumayan menjauh dari guci itu. Kalau sampai guci itu pecah, sudah tidak tau lagi saya nanti mau melindungi kamu dengan cara apa agar tidak terkena amukan dari tuan Digo. Mungkin 5 barang yang kamu pecahkan kemarin-kemarin tidak akan bisa membuat tuan Digo marah, mungkin marah juga sih tapi tidak sampai melukai fisik kamu alias paling kamu akan disuruh mengganti dengan uang saja. Tapi kalau guci ini yang pecah duhhh mungkin nyawa kamu yang menjadi taruhannya," omel bik Nah yang membuat Sheilla menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya, bik. Saya selalu saja lalai dalam bekerja," ucap Sheilla penuh dengan penyesalan. Bik Nah yang memang tidak tega jika harus memarahi Sheilla pun ia kini menghela nafas panjang kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Sudahlah tak apa. Tapi setelah ini jangan ngalamun. Dan ngepelnya biar saya saja yang terusin. Kamu bantu Talita di dapur saja. Kebetulan nanti tuan Digo sudah pulang," ujar bik Nah yang seketika membuat Sheilla menegakkan kepalanya kembali.
"Tuan Digo mau pulang bik?" Bik Nah tersenyum saat melihat perubahan raut wajah Sheilla yang tadi tampak lesu kini berbinar kembali seperti beberapa hari yang lalu.
"Iya tuan Digo dan tuan Henry akan pulang hari ini. Makanya kamu ke dapur sana gih bantuin Talita masak," ujar bik Nah yang diangguki semangat oleh Sheilla.
"Baiklah kalau begitu Sheilla ke dapur dulu ya bik. Dan maaf bibik harus menghentikan pekerjaannya saya," ucap Sheilla.
"Sudah tidak apa. Tinggal ruang tamu ini saja kan. Jadi tidak perlu sungkan." Sheilla tersenyum kemudian ia memeluk tubuh wanita paruh baya tersebut beberapa saat sebelum melepaskannya.
"Terimakasih bik Nah. Saya ke dapur dulu," ujar Sheilla dengan melambaikan tangannya saat kakinya sudah mulai melangkah menjauh dari depan bik Nah.
__ADS_1
Bik Nah yang melihat hal tersebut ia tampak terkekeh dibuatnya. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Semoga tuan Digo juga suka sama kamu, Sheilla. Jika sampai tuan Digo tidak menaruh hati denganmu dan beliau mengetahui perasaanmu itu, saya takut kejadian beberapa tahun yang lalu akan terulang kembali," gumam bik Nah menatap nanar kearah punggung Sheilla yang semakin lama semakin menjauh darinya.
Ia menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya saat rekaman masa lalu itu memutar di otaknya. Sebelum akhirnya ia meneruskan pekerjaan Sheilla yang sempat tertunda tadi setelah dirasa rekaman masa lalu itu sudah tidak membayanginya lagi.
...****************...
Kini semua maid dan bodyguard di rumah tersebut tampak berjejer rapi dari luar pintu utama sampai dalam rumah setelah salah satu dari bodyguard disana tadi memberitahu mereka jika orang yang mereka tunggu-tunggu akan segera tiba di kediaman itu. Dan benar saja tak lama setelah itu, beberapa mobil berwarna hitam memasuki area rumah Digo yang membuat semua orang langsung mengalihkan pandangannya kearah orang-orang yang baru turun dari mobil tersebut, tak terkecuali dengan Sheilla yang sudah mengembangkan senyumannya. Namun senyuman itu hilang saat melihat ada seseorang yang ia kenali ikut masuk kedalam jejeran anak buah Digo yang baru sampai dan mulai melewati mereka satu persatu.
Yoga yang menyadari keberadaan Sheilla pun ia tersenyum miring kearah perempuan tersebut yang ternyata tengah menatapnya juga.
Apa ini? Kenapa bisa Yoga ada di sini? Dan kenapa bisa laki-laki itu bersama dengan anak buah Digo? Apa jangan-jangan Digo pergi ke luar negeri bukan untuk perjalanan bisnisnya melainkan laki-laki itu pergi untuk menangkap Yoga dan tangan kanannya? Ohhh tuhan, kenapa Digo tidak jujur saja kepada Sheilla? Karena saat Sheilla tau niat asli Digo, Sheilla merasa kecewa kepada laki-laki itu. Walaupun ia sadar jika dirinya bukan siapa-siapa Digo, tapi orang yang akan dilumpuhkan oleh laki-laki itu masih berkaitan dengannya! Arkkhhhhhhh Sheilla ingin sekali marah namun ia tidak melakukannya. Dan satu hal yang bisa membantu meredam emosinya hanya dengan mencengkeram kuat pergelangan tangannya sendiri hingga tak sadar jika pergelangan tangan kirinya kini mengeluarkan darah segar.
Bik Nah yang berdiri disamping kanan Sheilla, ia melirik kearah perempuan tersebut.
"Sheilla, kamu kenapa?" bisik bik Nah dengan mengelus lengan Sheilla.
Sheilla yang mendapat elusan lembut, ia mengerjabkan matanya berkali-kali. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah bik Nah dengan menampilkan fake smile kearah wanita paruh baya tersebut.
__ADS_1
"Saya tidak kenapa-napa bik. Saya baik-baik saja kok," balas Sheilla dengan bisikan pula.
"Kamu yakin? Tapi saya lihat-lihat wajah kamu pucat banget lho. Apa kamu sekarang lagi sakit?" Sheilla menggelengkan kepalanya.
"Apa justru kamu tadi sempat takut dengan dua laki-laki yang dibawa anak buah tuan Digo tadi?" Sheilla terdiam tak menjawab ucapan dari bik Nah tadi.
"Sudah, kamu tidak perlu takut. Mereka tidak akan bisa mencelakai kita semua yang ada disini karena penjagaan dirumah ini aman. Dan sudah dijamin sama tuan Digo. Jadi jangan takut lagi ya," ujar bik Nah sembari menggenggam tangan dingin Sheilla. Yang membuat Sheilla dengan cepat membawa tangan kirinya kebelakang badannya agar bik Nah tidak tahu luka yang barusan dia buat sendiri.
"Tidak bik. Saya tidak kenapa-napa kok. Saya tidak sedang sakit ataupun sedang takut sama dua orang itu hanya saja cuaca hari ini panas banget dan karena kulit saya ini sensitif jadinya ya jadi begini. Wajah jadi pucat, banyak keringat dimana-mana, hehehe," alibi Sheilla dengan cengiran di bibirnya.
"Kalau kamu takut sama mereka juga tidak apa-apa Sheilla. Tidak ada yang melarangnya," ujar bik Nah yang semakin membuat Sheilla nyengir hingga membuat deretan gigi rapinya terlihat.
"Oh ya bik. Sedari tadi kok saya tidak lihat tuan Digo dan tuan Henry keluar dari mobil ya? Apa mereka berdua sudah masuk lebih dulu kedalam rumah saat saya bengong tadi?" tanya Sheilla mencoba mengalihkan pembicaraan mereka berdua tadi. Karena ia tidak ingin semua orang tau jika laki-laki yang baru saja di seret masuk oleh anak buah Digo tadi ada hubungannya dengan dirinya.
Bik Nah yang juga baru menyadari jika tuan rumah belum ia lihat batang hidungnya pun ia celingukan kesana-kemari.
"Lho iya. Bibik baru sadar kalau tuan Digo dan tuan Henry belum kelihatan," ujar bik Nah.
"Nah kan. Terus kemana mereka berdua bik? Apa kerjaan mereka belum selesai?" tanya Sheilla.
__ADS_1
"Saya juga kurang tau, Sheilla. Ada kemungkinan sih memang begitu." Sheilla tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu setelahnya tak ada percakapan lagi diantara mereka berdua. Hingga semua orang yang berbaris tadi perlahan mulai pergi dari tempatnya berbaris tadi. Begitupun dengan Sheilla yang langsung memilih untuk pergi ke belakang rumah mewah tersebut yang disana terdapat kolam renang juga taman kecil disamping kolam tersebut. Mungkin hal itu bisa sedikit menenangkan hatinya kembali.