
Saat Sheilla sudah berada di lantai dua mansion tersebut, langkahnya terhenti saat tiba-tiba saja Vina menghadang jalannya.
Sheilla menatap berani kearah perempuan itu yang hampir membuat Digo membenci dirinya kemarin. Dan ia baru sadar kenapa ia harus takut dengan perempuan yang jika dibandingkan dengan Digo tidak mempunyai kekuatan apapun daripada laki-laki yang menjabat sebagai ketua mafia itu. Jadi mulai sekarang Vina jangan harap bisa melakukan ataupun menindas Sheilla seperti kemarin. Karena Sheilla sudah sadar, tidak ada yang perlu ditakutkan dari perempuan itu.
Sedangkan Vina, perempuan itu menatap garang kearah Sheilla.
"Ada hubungan apa kamu dengan Digo?" tanya Vina.
"Untuk apa anda tanya seperti itu Nona? Anda tidak perlu tau dan mengurusi urusan saya dengan tuan Digo karena anda tidak memiliki hak atas kehidupan saya dengan tuan Digo," jawab Sheilla dengan tatapan datarnya.
"Saya perlu tau karena saya---"
"Tamu spesial karena anda dibawa langsung oleh tuan Digo. Itu kan yang akan anda ucapkan?" Ujar Sheilla memutus ucapan Vina tadi.
"Baguslah kalau kamu sudah tau tentang hal itu. Jadi katakan ada hubungan apa kamu dengan dia?" tanya Vina lagi.
"Bukannya saya sudah bilang tadi nona Vina yang terhormat jika hubungan saya dengan tuan Digo, anda tidak perlu mengetahuinya. Anda memang tamu yang dibawa oleh tuan Digo langsung. Tapi apa anda tau tuan Digo melakukan hal itu karena beliau terpaksa dan beliau juga memiliki rasa iba untuk membiarkan anda terlantar di negara orang yang otomatis anda nanti akan menjadi seorang gelandangan disini tanpa tau sampai kapan anda bisa kembali ke negara asal anda. Dan apa anda tau Nona, kehadiran anda tidak pernah diharapkan oleh tuan Digo ataupun semua orang yang ada dirumah ini. Jadi saya sarankan anda untuk menjaga sikap anda. Jaga sopan santun anda. Dan jangan terlalu mengurusi urusan orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan anda," ujar Sheilla yang membuat tangan Vina terkepal erat.
"Kamu sudah berani denganku, Sheilla? Kamu tidak takut aku mengadukan perbuatanmu ini kepada Digo?" ancam Vina.
__ADS_1
"Tidak," jawab Sheilla dengan singkat, sudah ia katakan tadi bukan kalau dia mulai saat ini tak akan takut dengan perempuan yang sekarang ada di hadapannya itu.
"Heh, nyali kamu ternyata besar juga Sheilla. Dan berhubungan aku ini orangnya baik hati maka dari itu aku akan mengabulkan ucapan yang aku katakan sebelumnya jika aku akan mengadukan semua perbuatanmu ini ke Digo nanti saat dia pulang dari kantornya. Dan saat dia tau tentang perbuatanmu ini, aku yakin dia akan menghukummu atau bahkan dia akan langsung menendangmu keluar dari mansion ini," ucap Vina penuh percaya diri jika Digo akan membelanya daripada Sheilla karena ia telah memiliki ide licik yang akan mendukung aktingnya nanti saat ia mengadu kepada Digo. Dia benar-benar orang yang tidak belajar dari kesalahannya kemarin yang membuat dirinya hampir kehilangan nyawa gara-gara melukai Sheilla.
Sedangkan Sheilla, ia tersenyum miring lalu ia melangkahkan kakinya untuk mengikis jarak antara dirinya dengan Vina.
Dan setelah jarak antara mereka terkikis, Sheilla mendekatkan wajahnya di samping telinga Vina.
"Lakukan lah apa yang ingin anda lakukan Nona. Saya tidak takut sama sekali dengan ancaman Nona itu. Dan jika tuan Digo memang membela anda berarti anda sudah berhasil merebut hati tuan Digo dari saya," bisik Sheilla yang semakin membuat Vina geram saja.
Dan setelah mengatakan hal tersebut, Sheilla kembali memundurkan tubuhnya dengan senyuman di bibirnya.
"Daripada anda mengurusi hidup saya lebih baik anda sekarang siap-siap untuk menyambut jenazah teman anda yang tepat hari ini juga akan dimakamkan," ujar Sheilla sembari menepuk pundak Vina. Dan ucapan dari Sheilla tadi membuat tubuh Vina mematung ditempat. Sedangkan Sheilla yang melihat perubahan ekspresi wajah Vina, ia tak peduli dengan seberapa besar rasa sedih yang Vina perlihatkan saat ini. Dan ia memilih untuk segara melanjutkan langkahnya tadi yang sempat terhenti karena ulah Vina tadi tanpa berniat memberikan semangat atau menenangkan Vina yang sekarang sudah meneteskan air matanya.
"Saya hampir lupa mengatakan sesuatu yang sangat penting Nona," ucap Sheilla yang membuat Vina kini juga menolehkan kepalanya kearah Sheilla.
"Saya akan mengatakan bahwa saya dengan tegas membatalkan perjanjian yang sempat kita buat kemarin. Saya sudah tidak peduli jika saya tidak mendapat maaf dari anda. Karena yang lebih penting bagi saya sekarang adalah tetap berusaha merahasiakan identitas keluarga tuan Digo yang memang beliau jaga itu. Jika anda mau tau tentang keluarga beliau, cari tau sendiri. Tapi jika sampai tuan Digo tau, siap-siap anda akan terkena masalah besar seumur hidup anda nanti," sambung Sheilla dengan kembali menepuk pundak Vina. Lalu setelahnya Sheilla sekarang benar-benar melangkahkan kakinya pergi menuju ke kamar Digo.
Sedangkan Vina yang merasa dipermainkan oleh Sheilla pun ia memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap punggung Sheilla. Dan dengan menggertakkan giginya ia bersuara.
__ADS_1
"Sheilla! Sialan! Awas saja, apa yang kamu lakukan kepadaku hari ini akan aku balas suatu saat nanti!" teriak Vina yang membuat Sheilla yang sudah membuka pintu kamar tersebut menolehkan kepalanya kearah Vina.
"Akan saya tunggu pembalasan anda, Nona. Dan perlu anda ingat, saya tidak akan pernah takut dengan anda," balas Sheilla sebelum dirinya benar-benar menghilang dari balik pintu kamar tersebut. Meninggalkan Vina yang menggeram kesal.
"Kamu sepertinya sangat meremehkanku, Sheilla. Kamu belum tau siapa aku sebenarnya. Dan jika hari pembalasanku itu tiba, aku tidak akan pernah memaafkanmu walaupun kamu nangis darah sekalipun. Dan akan aku pastikan nyawa kamu akan hilang tepat di depan mataku secara langsung," gumam Vina dengan menatap nanar pintu kamar Digo itu. Dan dengan keadaan yang marah, Vina mengusap pundaknya yang tadi sempat disentuh Sheilla dengan kasar.
"Baju ini harus aku buang karena sudah terkontaminasi dengan kuman di tubuh Sheilla. Dan aku harus segera mandi lagi sekarang juga," ucap Vina dan dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya dengan tangan yang masih sibuk mengusap-usap pundaknya itu.
Sedangkan disisi lain, Digo yang baru sampai di dalam ruang kerjanya pun ia segara mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya lalu tangannya segara membuka ponselnya yang sedari tadi berbunyi. Ia kira Sheilla yang menghubunginya namun ternyata hanya sebuah notifikasi email tentang pekerjaan lah yang masuk. Dan hal tersebut membuat dirinya berdecak sebal.
"Kenapa dia belum juga menghubungiku?" gumam Digo dengan menatap nanar ponselnya.
Henry yang baru masuk kedalam ruangan Digo, ia berdecak sebal saat tak sengaja ia mendengar gumaman dari bibir Digo tadi.
"Ck, lebay banget sih, padahal belum ada satu jam berpisah sudah merindukan Sheilla saja. Huh dasar orang yang lagi jatuh cinta memang sangat lebay bin alay," cibir Henry dengan suara lirihnya sebelum dirinya kini mendudukkan tubuhnya di kursi tepat dihadapan Digo.
"Sheilla tengah disibukkan dengan persiapan penghormatan terakhir untuk teman Vina. Nanti kalau dia sudah tidak sibuk pasti akan memberikan kabar kepadamu. Lagian kita tau jika dirumah sedang mempersiapkan penghormatan terakhir untuk teman Vina, kenapa kita harus bekerja sih, Al? Kenapa kita tidak ikut melakukan penghormatan itu?" heran Henry. Padahal jika Digo masih cuti untuk melakukan upacara penghormatan itu otomatis Henry juga akan cuti dan dia akan menghabiskan harinya di atas kasur karena dia sendiri tak akan ikut melakukan upacara yang ia anggap tak penting itu. Toh dia juga tidak kenal dengan teman Vina itu.
Digo melirik sekilas kearah Henry yang tampak malas untuk mulai bekerja.
__ADS_1
"Acara itu tidak penting buat saya, Henry. Jadi daripada saya menghabiskan waktu saya dengan hal yang tidak penting lebih baik saya menghabiskan waktu saya disini yang tentunya akan menghasilkan uang. Dan lebih baik kamu segara pergi ke ruangan kamu sendiri dan mulai lah bekerja, jangan jadi seorang pemalas!" perintah Digo sembari tangan laki-laki itu mulai meraih satu map yang berisi berkas penting tentang perusahaannya.
Sedangkan Henry, ia berdecak sebal saat ia gagal mendapatkan cuti satu hari lagi dari Digo. Sebelum dirinya kini berdiri dari posisi duduknya tadi lalu dengan menghentakkan kakinya ia berjalan menuju ke ruangannya. Dan hal tersebut membuat Digo menggelengkan kepalanya. Tangan kanannya sekaligus sahabatnya itu memang sangat langka, persis seperti seorang perempuan jika sedang marah atau sebal. Sangat menggemaskan dan saking gemasnya Digo ingin sekali menendang pantat laki-laki itu saat ini juga jika ia tak harus menjaga image dan nama baiknya. Karena tidak lucu bukan kalau besok pagi ada berita mengenai CEO RD'S company yang menendang bokong tangan kanannya sendiri karena saking gemasnya. Dan jika berita itu terjadi mau ditaruh dimana wajah tampan Digo itu?