The Dark Love

The Dark Love
264. Sheilla VS Raider


__ADS_3

Ketika semua orang yang ada di sana terkejut akan ucapan dari Digo tadi tak terkecuali Henry yang sedari tadi berdiri di belakang Digo dan Fanya kini terus mengumpat, sampai-sampai ia berniat membunuh bos sekaligus sahabatnya itu jika saja Monik selaku istrinya itu tidak mencegah niat buruknya tersebut. Tak hanya mereka saja bahkan Raider pun juga sama, dia sama terkejutnya dengan para anak buah Digo lainnya. Dirinya tidak menyangka ternyata Digo sangat kejam dengan istrinya sendiri yang sayangnya adalah sepupu Raider sendiri yang selama ini ia anggap sudah mati. Namun di sela keterkejutannya tadi, ada rasa bahagia di dalam harinya saat Digo dengan senang hati menyerahkan Sheilla alias Yura untuk ia bunuh. Tentunya Raider tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini sebelum dirinya sendiri yang mati setidaknya ia bisa membuat keluarganya yang mungkin masih menaruh dendam dengan keluarga Sheilla bahagia serta bangga saat melihat dirinya bisa melenyapkan perempuan itu dengan tangannya sendiri.


Lain dengan semua orang disana, Sheilla yang merupakan target dari Raider yang terus menatapnya dengan tatapan tajam, dirinya justru terlihat tenang. Tak ada rasa gugup sedikitpun di dirinya atau bahkan marah kepada suaminya yang telah tega mengumpankan dirinya kepada Raider begitu saja. Sheilla justru menghela nafas lelah sembari bergumam, "Ck, malas sekali rasanya jika harus mengotori tanganku untuk melenyapkan laki-laki bodoh di depan sana. Dan kenapa dia tidak melakukan pergerakan apapun padahal sudah di beri lampu hijau lho ini. Dia sebenarnya paham tidak dengan bahasa manusia sehingga dia hanya terus diam berdiri layaknya patung saja. Sangat-sangat menyebalkan."


Sheilla mengalihkan pandangannya, menatap kuku-kuku cantik miliknya sembari menunggu pergerakan dari Raider. Namun beberapa detik telah berlalu, tak ada juga pergerakan dari laki-laki itu hingga membuat Sheilla berdecak. Ia menegakkan kepalanya kembali dan kali ini dengan tatapan tajamnya ia melihat kearah Raider.


"Anda bodoh atau apa sih? Sudah di berikan izin untuk membunuh saya kenapa tidak segara anda lakukan?! Anda tidak tau bahasa manusia? Apa perlu saya menyewa seseorang yang pandai bahasa binatang untuk menerjemahkan apa yang suami saya tadi katakan kepada anda tadi? Perlu anda tau, saya tidak suka orang yang dengan seenaknya membuang-buang waktu berharga saya!" Habis sudah kesabaran Sheilla. Ia tak bisa lagi menunggu lebih lama laki-laki itu melakukan penyerangan. Ayolah bagi Sheilla waktu itu sangat berharga lebih dari apapun.


Raider yang menerima perkataan yang terdengar menyentil hatinya itu, ia menggeram kesal. Dan saking keselnya ia melempar pistol yang sedari tadi ia genggam kearah Sheilla sehingga pistol itu berhenti tepat di depan kaki Sheilla.


Sheilla memincingkan salah satu alisnya, ia tak paham maksud dari lawannya itu yang membuang senjatanya. Apakah laki-laki itu saat ini sudah menyerah sebelum berusaha untuk melenyapkannya? Atau ada maksud lain? Haish, daripada otaknya itu terus bertanya-tanya yang tentunya tak akan pernah mendapatkan jawabannya, lebih baik Sheilla mengatakannya saja.

__ADS_1


"Maksud anda apa dengan melempar pistol ini ke arah saya? Anda mau menyerah saja begitu? Kalau memang anda menyerah, berarti anda tidak lakik!" ucap Sheilla kembali memancing amarah Raider. Hingga dada laki-laki itu naik-turun tak beraturan menandakan rasa amarahnya tak bisa ia kontrol lagi.


"Seharusnya sebelum ada kata perintah, anda maupun suami sialan anda itu harus memastikan, apakah orang yang anda perintahkan memiliki apa yang mereka butuhkan atau tidak untuk yang namanya membunuh?!" balas Raider dengan suara lantangnya.


Sheilla yang sudah paham pun, ia membelalakkan matanya sebelum ia menolehkan kepala kearah sang suami yang juga menatapnya dengan salah satu alisnya yang terangkat, entah suaminya itu sudah paham atau belum atas ucapan Raider barusan. Namun yakinlah ekspresi wajah Digo saat ini justru membuat Sheilla kesal setengah mati sampai-sampai ia berkata, "Kamu itu paham atau tidak sih dengan apa yang dia katakan tadi?!"


Digo mengerutkan keningnya tapi sesaat setelahnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai perwakilan dirinya untuk menjawab pertanyaan dari Sheilla tadi.


"Kalau kamu paham harusnya kamu langsung kasih senjata buat dia bukan malah diam saja sedari tadi. Sumpah demi apapun orang-orang disini hanya membuang-buang waktu berhargaku saja!" erang Sheilla yang merasa frustasi dengan semua orang di sekitarnya. Yakinlah, kesabaran Sheilla saat ini sangat-sangatlah tipis jadi jangan heran jika semua orang disekitarnya akan terkena marah olehnya.


"Tujuan apa? Tujuan biar dia gak jadi bunuh aku begitu? Atau tujuan agar aku saja yang menyerang dia? Heyyy tuan Alsheyres Devra Rodriguez! Anda yang tadi menyuruh dia untuk membunuh saya bukan saya yang disuruh anda untuk membunuh dia! Jadi sekarang cepat berikan dia pistol atau senjata lainnya untuk segara menjalankan perintah dari anda tuan Alsheyres Devra Rodriguez!" sentak Sheilla dengan tatapan yang begitu tajam menghunus mata Digo.

__ADS_1


Sedangkan Digo yang melihat tatapan itu, ia gelagapan sendiri dibuatnya sekaligus bergidik ngeri. Baru kali ini ia melihat tatapan tajam milik istrinya yang entah kenapa membuat nyalinya menjadi menciut.


Dan daripada ia nanti terkena amukan oleh Sheilla, ia melirik salah satu anak buahnya mengkode agar dia memberikan salah satu senjatanya kepada Raider.


Anak buahnya itu menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas perintah dari Digo tadi.


Sedangkan Digo, ia menatap kembali wajah sang istri yang ternyata sudah menghadap ke depan kembali.


Lemparan pistol mengarah ke Raider yang dengan sigap laki-laki itu tangkap. Dan dengan seringai di bibirnya ia dengan cepat menekan pelatuk pistol tersebut yang sudah ia arahkan tepat di kepala Sheilla dan seperkian detik setelahnya terdengar nyaring suara tembakan. Namun sayang dengan sigap Sheilla berhasil menghindari peluru panas yang hampir mengenai kepalanya itu.


Sedangkan semua orang yang menyaksikan mulainya peperangan antar dua manusia berbeda jenis kelamin itu, tampak dengan cepat menyingkirkan dari samping mereka tak terkecuali dengan Digo, Henry maupun Monik sekali pun.

__ADS_1


Mereka yang menyaksikan kejadian tersebut pun mereka tampak menahan nafas mereka saat melihat tak ada pergerakan sama sekali dari Sheilla. Perempuan itu justru terus berdiri dengan sesekali berpindah tempat untuk menghindari peluru-peluru itu. Dan karena aksinya tersebut membuat sang suami yang tadi dengan lantang menyuruh Raider membunuh istrinya, justru ketar-ketir dibuatnya. Apa kalian pikir Digo menyuruh Raider membunuh Sheilla tadi karena dia sudah tidak sayang lagi kepada istrinya tercinta itu atau karena ia memiliki dendam pribadi? Ohhh kalian salah besar, karena faktanya Digo sangat sayang bahkan cinta mati dengan Sheilla, tak ada juga dendam pribadi terhadap istrinya itu. Dan alasan kenapa ia justru menantang Raider untuk membunuh Sheilla tadi karena ia tau Raider tidak memiliki senjata apapun sehingga tidak mungkin laki-laki itu melakukan perintahnya sekaligus ia berniat memberikan kesempatan Sheilla untuk melenyapkan salah satu anggota keluarga dari orang yang dulu pernah menyakitinya. Ya, sebelum mereka turun untuk menghadap langsung kepada Raider, Digo sudah menjelaskan semuanya tentang hubungan Raider dengan Sheilla. Awalnya Sheilla terkejut namun raut terkejutnya itu berubah jadi kilat amarah saat mengetahui ia hampir mati di tangan orangtua Raider. Dan karena itulah Digo memiliki inisiatif berbahaya seperti tadi yang berujung peperangan seperti ini.


"Kenapa jadi seperti ini sih?" gumam Digo dengan menggigit kuku jarinya. Ia benar-benar khawatir kepada istrinya tercinta. Bahkan ia tadi berniat untuk membantu Sheilla melawan Raider, tapi saat Sheilla tau pergerakannya, istrinya itu langsung melayangkan tatapan tajam kearahnya yang tersirat akan sebuah perintah agar dirinya ataupun siapa saja untuk tidak berniat membantunya. Dan sudah di bilang bukan nyali Digo menciut saat melihat tatapan tajam dari sang istri alhasil ia saat ini bergabung dengan anak buahnya, melihat pertunjukan menegangkan itu yang justru membuatnya panas dingin.


__ADS_2