
Di hari selanjutnya, sesuai dengan kesepakatan yang sudah terjadi kemarin saat Sheilla dan Raider saling mengirim pesan, kini keduanya bersepakat untuk saling bertemu di perusahaan milik Raider. Ya, laki-laki itu sendiri yang menyuruh Sheilla untuk datang ke tempat yang harusnya ia rahasiakan itu karena yang akan datang adalah musuhnya. Tapi berhubung ia tak tau jika orang yang sedari kemarin berkontak dengannya berada di pihak lawan sekaligus ia tak menaruh curiga dengan Sheilla, ia malah memberikan alamat perusahannya. Bahkan sebelum keduanya memutuskan untuk bertemu di perusahaan, Raider sempat menawarkan untuk pertemuan mereka di rumahnya saja. Tapi berhubung Digo juga selalu mengawasi setiap komunikasi yang terjalin antara sang istri dan Raider, laki-laki itu menolak dengan keras jika keduanya harus bertemu di rumah Raider. Bisa-bisa istrinya nanti tidak akan kembali kepadanya lagi jika hal tersebut terjadi. Membayangkannya saja sudah membuat Digo murka, apalagi sampai kejadian entah apa yang akan laki-laki itu lakukan.
"Sayang. Semua alat yang aku siapkan tadi sudah kamu bawa kan?" tanya Digo dengan berjalan kecil menuju sang istri yang saat ini tengah melongo menatap beberapa senjata dan alat lainnya yang berjajar rapi di atas ranjang itu.
Sedangkan Digo yang sudah berdiri disamping sang istri berdecak kala istrinya itu tak kunjung memasukkan semua senjata yang sudah ia siapkan.
"Sayang, kenapa---" Ucapan Digo terhenti kala Sheilla mengalihkan pandangannya dengan kedua tangan yang kini bertengger di pinggang perempuan itu.
"Maksud kamu apa nyuruh aku bawa segitu banyak senjata?" tanya Sheilla tak habis pikir dengan suaminya.
__ADS_1
"Ya tentu saja untuk perlindungan kamu sekaligus untuk berjaga-jaga takutnya dia nanti melukai kamu," jawab Digo dengan enteng.
Sheilla memutar bola matanya malas.
"Tapi aku tidak butuh semua itu. Aku bisa melindungi diriku tanpa harus memakai baju besi ini." Sheilla menunjuk kearah baju besi yang sering di gunakan oleh balada perang di sebuah kerajaan. Entah darimana Digo bisa mendapatkan barang itu, Sheilla juga penasaran sebenarnya tapi bukan saatnya ia bertanya saat ini.
"Dan aku juga bisa berjaga-jaga hanya membawa alat kejut itu saja tanpa harus membawa senapan, pistol, panahan, belati dan senjata lain. Ayolah dear, aku hanya bertemu dengan dia saja, itu pun hanya beberapa menit, bukan mau ikut berperang melawan penjajah. Astaga. Lagian jika aku bawa semua senjata ini yang ada aku langsung ketahuan nanti dan pasti akan langsung ditembak mati sebelum melangkahkan kakiku kedalam kantor dia," sambung Sheilla yang membuat Digo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tapi kan---" Jari telunjuk Sheilla kini berhenti di depan bibir Digo, mengisyaratkan suaminya itu untuk menutup mulutnya.
__ADS_1
"Waktu kita tidak lama lagi. Aku tidak mau kita telat kesana hanya kita mendebatkan sesuatu yang tidak penting. Dan semua rencana yang sudah kita siapkan harus kacau balau karena ulah kita berdua. Jadi cukup, jangan banyak bicara dan lebih baik kita berangkat sekarang." Sheilla menjauhkan jari telunjuknya tadi dari depan bibir Digo, kemudian dengan gerakan cepat, ia meraih sebuah alat kejut yang di desain menjadi bolpoin. Dan sebenarnya dibalik bolpoin palsu itu juga terdapat pisau kecil yang artinya Sheilla tak hanya mengandalkan satu senjata saja melainkan dua sekaligus didalam satu benda yang dilihat secara kasat mata tak membahayakan.
Dimana setalah ia mengambil bolpoin palsu tersebut, ia langsung menyembunyikannya dibalik jaket kulit berwarna hitam yang tengah ia kenakan saat ini, kemudian ia kembali menatap kearah Digo sembari berubah, "Chip sama flashdisknya sudah kan?"
Digo menghela nafas panjang lalu ia menganggukkan kepalanya.
"Kalau sudah tunggu apa lagi. Kita bergerak sekarang," ujar Sheilla dengan menggandeng tangan Digo untuk keluar dari dalam kamar mereka.
Mereka hari ini tidak melakukan penyerangan secara langsung melainkan secara perlahan terlebih dahulu. Dan dengan cara menghancurkan karir Raider adalah tujuan mereka saat ini.
__ADS_1