
Sheilla menghela nafas berkali-kali saat ia merasa bosan di dalam ruang kerja Digo. Semua telah ia lakukan mulai dari menjelajahi setiap sisi ruangan yang lagi-lagi tak jauh dari warna hitam dan putih, ia juga sempat di pinjami laptop oleh Digo untuk menonton apapun yang dia mau tapi lagi-lagi ia merasa jenuh dan yang paling terakhir ia juga sudah membuka semua media sosialnya yang sudah lama tak ia buka itu, mencoba semua aplikasi yang ada di ponsel barunya itu tapi tetap saja ia masih merasa sangat bosan. Bahkan saking bosannya, tubuhnya kini sudah ia baringkan diatas sofa di ruangan tersebut dengan sesekali mencoba untuk tidur tapi matanya itu enggan tertutup.
"Bolehkan saya pulang saja, Dear?" Ucap Sheilla memecah keheningan di ruangan tersebut.
Dan ucapannya itu membuat Digo kini menghentikan pergerakan tangannya lalu matanya menatap kearah Sheilla yang masih terbaring di sofa tersebut.
"Saya benar-benar sudah bosan disini. Tidak ada yang bisa saya lakukan disini dibanding saat saya berada di mansion," sambung Sheilla.
"Tunggu sebentar lagi oke. Saya selesaikan ini dulu. Nanti setelahnya kita bakal pulang," ujar Digo yang membuat Sheilla menghela nafas panjang.
Digo yang melihat helaan nafas itu pun ia segara beranjak dari duduknya lalu mendekati Sheilla yang masih terbaring dengan menatap kearah langit-langit di ruangan tersebut.
Dan setelah ia sampai disamping Sheilla, ia berjongkok lalu mengelus rambut Sheilla.
"Mau keluar jalan-jalan sebentar?" tawar Digo yang membuat Sheilla kini mengalihkan pandangannya kearahnya.
"Tidak usah. Perkejaanmu masih banyak," jawab Sheilla.
"Tak apa, pekerjaan saya bisa saya kerjakan nanti lagi. Yang terpenting sekarang kita jalan-jalan untuk menghalau kebosanan kamu itu. Kamu juga belum jalan-jalan di negara ini kan?" tanya Digo yang dijawab gelengan kepala oleh Sheilla.
"Makanya saya sekarang mau ajak kamu lihat suasana di negara ini."
"Memangnya benar tidak apa-apa pekerjaanmu itu kamu tinggalkan? Dan memangnya Henry mengizinkan kamu untuk keluar disaat masih jam kerja seperti ini?" tanya Sheilla sembari melirik kearah ruang kerja Henry.
"Honey, apa kamu lupa jika perusahaan ini milik saya? Jadi tidak ada yang bisa dan berani memarahi saya termasuk Henry sekalipun. Dan saya bisa pergi kemanapun tanpa izin dulu ke Henry atau yang lainnya di kantor ini," ujar Digo yang masih mengelus kepala Sheilla.
"Kamu yakin?" Digo menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
__ADS_1
Dan hal tersebut membuat Sheilla langsung mendudukkan tubuhnya.
"Kalau memang begitu, tunggu apa lagi. Let's go kita pergi sekarang," ucap Sheilla yang sudah terlebih dulu berdiri dari posisinya tadi kemudian ia menarik tangan Digo agar sang kekasih segara berdiri dan mengajaknya pergi dari ruangan serba hitam putih itu.
Digo bangun dari posisi jongkoknya dengan terkekeh gemas melihat aksi Sheilla yang ia anggap seperti seorang bayi itu dan saking gemasnya ia menggigit pipi Sheilla yang membuat perempuan itu mengaduh kesakitan.
"Ishhhh kenapa digigit sih?" kesal Sheilla.
"Siapa suruh gemesin," jawab Digo dengan santai.
"Gemes sin gemes tapi tidak perlu sampai di gigit juga kali," ucap Sheilla dengan kerucutan di bibirnya.
"Baiklah-baiklah saya minta maaf, Honey. Lain kali saya tidak akan menggigit pipi kamu lagi tapi saya akan mengigit leher atau---"
Plakkkk!
"Jika kamu berkata mesum lagi. Saya tidak akan segan-segan untuk menjahit mulut kamu itu biar tidak bisa bicara sekalian. Kamu mau?" geram Sheilla yang benar-benar muak dengan kemesuman kekasihnya itu. Dan ucapannya itu langsung mendapat gelengan kepala dari Digo.
"Jangan Honey. Jangan jahit bibir saya. Saya janji tidak akan berbicara mesum lagi. Kalau tidak kelepasan," ucap Digo diakhiri dengan suara lirihnya.
"Apa kamu bilang?" tanya Sheilla yang sepertinya mendengar suara lirih dari Digo tadi.
"Ahhhh bukan apa-apa Honey. Sudah-sudah mending kita segera pergi saja, oke. Let's go let's go let's go kita berangkat," ucap Digo sembari melingkar tangannya di pinggang Sheilla dan sebelum kekasihnya itu kembali ngomel lagi dan terus membahas kemesumannya yang tak bisa ia hilangkan itu lebih baik ia segara membawa Sheilla keluar dari ruangannya itu menuju ke suatu tempat yang ia yakin Sheilla pasti menyukainya.
...****************...
Sedangkan disisi lain, terlihat satu orang laki-laki dengan dua pengawalnya kini memasuki sebuah ruangan dimana disana terdapat satu laki-laki yang seumuran dengannya tengah menunggu kedatangannya di kursi kebesarannya.
__ADS_1
"Kalian boleh keluar," ucap satu orang laki-laki itu kepada dua pengawalnya tadi yang langsung di jalankan oleh dua pengawal tersebut. Dan setelah dua pengawal tadi keluar, laki-laki itu kini mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi tepat di depan satu laki-laki lainnya.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya laki-laki yang tengah terduduk di kursi kebesarannya itu.
"Entahlah. Aku sudah tidak bisa memantau dia lagi karena orang kepercayaanku entah hilang kemana sekarang," jawabnya.
"Hilang? Dia kabur darimu?"
"Aku juga tidak tau. Tapi kalau dia kabur, aku rasa tidak karena dia sudah bekerja bersamaku selama 10 tahun lamanya dan dia merupakan salah satu orang yang benar-benar tak akan pernah mengecewakanku," ujarnya.
"Jika memang dia tidak kabur, terus dia kemana sekarang?" tanya laki-laki yang berada di kursi kebesarannya itu.
"Hanya ada dua kemungkinan, dia sekarang sudah mati atau malah tertangkap oleh seseorang," ucapnya dengan menatap wajah laki-laki yang tengah duduk di kursi kebesarannya itu yang membuat laki-laki itu menganggukkan kepalanya, seakan-akan ia tau seseorang yang tengah dimaksud oleh laki-laki yang sedang duduk dihadapannya itu.
"Kalau memang begitu, rencana apa yang akan kamu lakukan lagi setelah ini?" tanya laki-laki yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
"Tidak mungkin kan kamu harus mengorbankan anak buahmu lagi seperti waktu itu?" sambungnya.
"Tidak. Aku tidak akan mengorbankan mereka lagi. Walaupun sebenarnya itu merupakan tugas mereka tapi aku tidak akan membiarkan nyawa mereka melayang dengan sia-sia begitu saja," ucap laki-laki itu.
"Jadi?" tanya laki-laki yang duduk di kursi kebesarannya.
"Aku akan memantau dia sendiri. Dan aku juga akan mencari tahu tentang keberadaan orang kepercayaanku itu. Jika memang dia sudah di tangkap oleh dia, maka aku akan membebaskan dia," ucapnya yang diangguki oleh satu laki-laki lainnya.
"Mau aku bantu?" tawarnya.
"Untuk saat ini tidak perlu. Sepertinya aku masih bisa menanganinya sendiri. Tapi untuk dimasa depan aku pasti akan meminta bantuanmu."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, terserah kamu. Tapi aku sarankan jika kamu mau menatau dia sendiri, jangan terlalu banyak membawa anak buahmu karena dia sekarang sangat berbahaya," ucapnya yang diangguki oleh laki-laki di hadapannya itu.