The Dark Love

The Dark Love
198. Penggagalan


__ADS_3

"Sialan!" umpat seorang laki-laki kala dirinya sudah mendekati Monik dan melihat keadaan perempuan tersebut yang sudah tak sadarkan diri. Dimana setelah ia mengumpat, ia menatap tajam kearah wanita yang berdiri ketakutan di sebelahnya. Tapi laki-laki itu mana peduli dengan rasa takut yang tengah wanita itu rasakan, hingga tangannya kini bergerak meraih kerah wanita tersebut dan menariknya dengan kasar agar mendekat kearah dirinya.


"Sejauh mana yang telah kamu lakukan?!" tanya laki-laki itu dengan suara rendahnya yang justru menambah kesan menakutkan untuk wanita yang berada di genggamannya itu.


"Jawab sialan! Sejauh mana kamu melakukannya?!" tanya ulang laki-laki itu dengan cara membentak.


"Sa---saya belum melakukan apa-apa tu---tuan," jawab wanita itu dengan gagu.


"Jika belum melakukan apa-apa kenapa dia bisa tidak sadarkan diri disana hah?!"


Wanita itu menolehkan kepalanya kearah Monik yang sudah menutup matanya. Dimana hal itu membuatnya teringat jika beberapa saat sebelum beberapa laki-laki itu datang mengacaukan segalanya ia sempat menyuntikkan obat bius ke Monik.


"Ma---maafkan saya tuan. Saya tadi sempat menyuntikkan obat bius ke dia." Laki-laki itu yang mendengar jawaban dari wanita tersebut tatapannya semakin menajam. Bahkan cengkraman di kerah leher wanita tersebut semakin kencang. Dimana hal tersebut membuat wanita itu kesusahan untuk bernafas.


"Jika sampai terjadi apa-apa dengan dia dan janin yang ada di dalam kandungannya. Nyawamu yang akan menjadi taruhannya," ucap laki-laki tersebut penuh dengan penekanan. Dan setelah mengucapakan hal itu, ia melepaskan cengkraman di kerah leher wanita tersebut dengan memberikan sedikit dorongan namun mampu membuat wanita itu terjerembab jatuh ke lantai dengan kasar.


Lalu setelahnya laki-laki itu memilih untuk bergegas mendekati Monik, menatap sekilas wajah Monik sebelum ia mengangkat tubuh perempuan itu kedalam gendongannya.

__ADS_1


Laki-laki tersebut memberikan tatapan tajam kearah wanita yang masih berada diposisi terjatuhnya tadi sebelum dirinya melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan tersebut. Namun sebelum ia benar-benar keluar, ia menghentikan langkahnya sembari berucap, "Amankan dia. Jangan biarkan dia bebas sebelum ada perintah dari saya!"


"Siap tuan," jawab beberapa anak buahnya yang sedari tadi menodongkan pistol kearah wanita itu.


Setelah mendapat jawaban dari anak buahnya, laki-laki itu meneruskan langkah kakinya menuju ke arah mobilnya.


"Saya benar-benar tidak akan pernah memaafkanmu, Monik jika terjadi apa-apa dengan janin yang ada di dalam rahim kamu ini," ucap laki-laki itu setelah dirinya mendudukkan Monik di kursi sebelah kemudi dan memasangkan seat belt kepada perempuan tersebut. Dimana setelah ia memastikan tubuh Monik tidak akan terkantuk ke kaca mobil atau kearah depan, ia menutup pintu samping kursi yang diduduki Monik itu lalu berlari menuju ke arah kursi kemudi.


Laki-laki itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju ke rumah sakit terdekat.


Laki-laki itu turun dan dengan cepat ia menuju ke arah Monik, membopong tubuh perempuan itu kembali menuju ke UGD.


Para suster yang melihat hal itu, mereka bergegas menyusul kepergian laki-laki tersebut. Hingga sesampainya mereka di ruang UGD salah satu suster yang berhasil mendahului langkah kaki laki-laki itu, ia membukakan pintu UGD tersebut.


Tanpa mengucapakan kata terimakasih kepada suster yang telah membantunya membuka pintu, laki-laki itu justru langsung nyelonong masuk begitu saja.


Dimana masuknya laki-laki itu membuat dokter penjaga di dalam ruang UGD tersebut bangkit dari posisi duduknya lalu menghampiri laki-laki tadi yang kini tengah menaruh pelan tubuh Monik diatas brankar.

__ADS_1


"Ap---" belum sempat dokter itu menyelesaikan ucapannya, laki-laki itu sudah lebih dulu menatap dirinya dengan tatapan tajam yang berhasil membuat bibirnya mengatup kembali.


"Periksa keadaan dia. Pastikan tidak terjadi apa-apa di dalam tubuh dia. Jika sampai terjadi apa-apa dan menyebabkan dia juga janin yang ada di dalam kandungannya bermasalah, siap-siap saja rumah sakit ini akan rata dengan tanah," ucap laki-laki tersebut sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan khusus itu. Tanpa tau jika ucapan yang terlontar dari bibirnya tadi membuat dokter yang akan menangani Monik bergetar ketakutan.


"Aku tidak tau apa yang telah terjadi dengan nona ini tapi kenapa tuan Henry justru tampak murka denganku. Ya Tuhan, kalau begini caranya hampa hanya bisa memohon kepada engkau agar nona ini tidak dalam masalah besar yang membahayakan nyawanya dan nyawa janin yang ada di dalam kandungannya," ucap Dokter tersebut dengan harap-harap cemas. Tapi tak urung setelah ia melafalkan doa tadi, ia segera menangani Monik. Memeriksa setiap jengkal tubuh perempuan itu, memastikan tidak ada yang anggota tubuh yang terlewat untuk ia periksa.


Saat dokter yang berada di dalam ruangan itu masih sibuk memeriksa keadaan Monik, laki-laki yang membawa Monik ke rumah sakit tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Henry sendiri. Ia tampak termenung di kursi tunggu. Ia masih tak menyangka dengan fakta tentang kehamilan Monik yang entah kenapa ia sangat yakin jika perempuan itu hamil anaknya. Tapi ia lebih tak menyangka lagi dengan niatan perempuan itu yang ingin menggugurkan janin yang tak berdosa itu.


"Sebegitu tak maukah kamu hamil anak saya, Monik? Sampai kamu berniat melenyapkan janin itu tanpa memberitahu tentang kehamilanmu ke saya terlebih dahulu? Sebegitu kejamnya kamu sampai kamu mau membunuh darah daging kamu sendiri. Saya benar-benar kecewa dengan kamu, Monik," cicit Henry dengan kepalan di kedua telapak tangannya. Sebelum kepalan tangan itu ia layangkan untuk memukul keras tembok yang tak bersalah di sampingnya hingga membuat tangannya mengeluarkan sedikit darah segar.


Namun rasa sakit yang ia dapatkan setelah memukul tembok itu tak dapat mengalihkan rasa sakit yang sekarang tengah mendera di dalam hatinya. Hingga kedua tangannya kini menjambak rambutnya dengan frustasi.


Dimana aksi yang sedari tadi ia lakukan tak luput dari tatapan dua manusia yang beberapa saat sebelumnya baru sampai di hadapannya.


Digo salah satu dari manusia yang baru sampai itu, ia mendengus kasar. Dari tingkah Henry yang kacau seperti ini ia bisa menyimpulkan jika fakta yang juga baru saja ia dengar itu adalah ulah dari Henry. Jika ditanya marah dan kecewa dengan sahabatnya itu, tentu saja Digo akan dengan lantang mengakuinya. Namun bukan saatnya ia melampiaskan kemarahannya itu kepada sang sahabat sebelum dirinya memastikan jika kesimpulannya itu memang benar adanya. Dan karena hal tersebut ia memilih untuk duduk di kursi tunggu tanpa berniat untuk menenangkan Henry terlebih dahulu.


Sedangkan Sheilla yang melihat raut sang suami yang berubah pun, ia hanya bisa menghela nafas panjang. Ingin sekali ia menenangkan Henry tapi ia tak ingin membuat sang suami justru akan meluapkan emosinya yang ia yakini tengah ditahan oleh laki-laki itu sekarang juga dihadapan semua orang di rumah sakit tersebut. Sehingga untuk kebaikan bersama, Sheilla memilih untuk duduk disamping sang suami dengan memberikan elusan di punggung laki-laki tersebut guna untuk menenangkan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2