
Sheilla terus mengompres dahi Digo yang kini tengah menutup matanya namun laki-laki itu tidak sedang tertidur di atas pahanya itu.
"Sayang," panggil Digo.
"Ya?"
"Kita besok ke rumah Uncle Bian lagi ya," ucap Digo dengan membuka matanya.
"Apa kamu masih mau menyelidiki tentang Papa Bian?" tanya Sheilla curiga.
"Hmmmm tidak. Aku hanya ingin membahas pekerjaan yang tadi sempat tertunda," alasan Digo. Padahal apa yang menjadi kecurigaan Sheilla tadi memang benar adanya, dia ingin kembali kerumah Bian untuk mencari tahu bukti lainnya yang mungkin lebih bisa menjadi bukti kuat Bian adalah dalang di balik aksi Yoga dan pembebasan Yoga itu atau justru bukti kuat jika Bian memang tidak bersalah.
"Kan Papa Bian tadi memberitahumu jika soal pekerjaan lebih baik dibahas lewat telepon saja," ucap Sheilla dengan memberikan pijatan ringan di kepala kekasihnya itu.
"Membicarakan pekerjaan lewat telepon itu tidak enak sayang. Lebih enak kalau membicarakannya secara langsung. Jadi kita besok kesana lagi ya," ujar Digo yang membuat Sheilla kini menghela nafas panjang sembari menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Kita besok akan kesana lagi. Tapi dengan syarat kamu harus sembuh dulu. Kalau sampai besok kamu masih demam dan pusing seperti ini, kita besok tidak jadi kerumah Papa dan Bunda. Kita tunda kesana sampai kamu kembali sehat lagi," tutur Sheilla.
"Tenang saja sayang. Besok aku sudah baik-baik saja kok."
"Baiklah-baiklah. Terserah kamu saja Dear. Dan lebih baik kamu sekarang istirahat kalau kamu mau besok sembuh," perintah Sheilla dengan memindahkan kepala Digo dari pangkuannya ke bantal di atas ranjang tersebut.
Dan hal tersebut membuat Digo kini mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kamu memindahkan kepalaku diatas kasur. Padahal aku mau tidur di pangkuanmu," protes Digo tak senang.
__ADS_1
"Kaki aku kram, Dear. Jadi kamu tidur dengan bantal itu ya. Tapi kamu tenang saja. Aku akan tetap menemani kamu sampai tidur," ucap Sheilla.
"Cuma menemani saja?" Sheilla menganggukkan kepalanya.
"Tidak sama peluk?" Sheilla menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Digo tadi. Dan gelengan kepala dari Sheilla itu membuat Digo semakin mengerucutkan bibirnya.
"Istttt aku gak like," kata Digo. Lalu setelah mengucapkan perkataannya tadi, Digo langsung mengambil sapu tangan yang terletak di keningnya itu lalu memberikannya ke tangan Sheilla, sebelum ia merubah posisi berbaringnya menjadi membelakangi Sheilla. Tak hanya itu saja, selimut yang tadi tak ia pakai, kini ia ambil dan ia gunakan untuk menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tersebut.
Dimana hal yang dilakukan oleh Digo itu membuat Sheilla terkekeh sebelum dirinya mengikis jarak antara dirinya dan Digo. Kemudian ia ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjang tersebut. Bahkan ia ikut masuk kedalam selimut yang sama dengan selimut yang dipakai oleh Digo tadi. Dan setelahnya barulah dia memeluk tubuh kekasihnya itu dari belakang.
"Calon suami manja banget sih kalau lagi sakit. Tapi tak apa aku justru senang jika kamu manja denganku," ucap Sheilla.
"Tetap seperti ini ya, Dear entah kita nanti sudah menua bersama sekalipun. Love you," sambung Sheilla yang membuat Digo yang masih dalam posisi yang membelakangi Sheilla itu kini tersenyum. Sebelum akhirnya ia yang tadi berniat untuk merajuk pun kini niatannya itu ia urungkan. Dan dengan cepat ia membalikkan tubuhnya, menghadap kearah Sheilla.
Dan dengan membalas pelukan dari kekasihnya itu sembari memberikan kecupan berulangkali di puncak kepala Sheilla, ia berucap, "Love You too, sayang."
...****************...
Sekitar 30 menit akhirnya Digo kini telah menutup matanya dengan nafas yang mulai teratur yang menandakan jika laki-laki itu sudah tertidur saat ini.
Sheilla perlahan melepaskan pelukan Digo itu agar tidur sang kekasih tak terusik.
Ia menghela nafasnya kala dirinya telah berhasil lepas dari pelukan Digo itu. Dan sebelum dirinya pergi dari kamar tersebut, Sheilla membenarkan posisi selimut tersebut sampai ke dada sang kekasih lalu memberikan kecupan di pipi Digo.
"Tidur yang nyenyak sayang dan cepat sembuh," ucap Sheilla dengan suara lirihnya. Dan setelah mengucapkan perkataannya tadi, barulah dia turun dari ranjang tersebut lalu ia mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar tersebut.
__ADS_1
Dimana saat kakinya itu terus melangkah menuju ke arah dapur, dirinya tak sengaja melihat sang nenek tengah duduk sendiri di ruang keluarga dengan membawa satu album foto di tangannya.
Sheilla yang penasaran foto siapa yang tengah neneknya itu lihat pun ia mengurungkan niatnya untuk mengambil minuman dingin di dapur tadi dan memilih untuk mendekati neneknya itu.
"Nek," panggil Sheilla dengan memegang lembut bahu sang nenek sebelum dirinya duduk tepat disamping wanita tua tersebut.
Dan kehadiran Sheilla tadi membuat nenek mengalihkan pandangannya kearah Sheilla dengan senyum di bibirnya.
"Nenek lagi apa?" tanya Sheilla dengan mengintip kearah foto yang tengah neneknya itu saat ini lihat.
"Ahhhh nenek lagi memutar kenangan dimasa lalu saat kamu dan Shinta masih kecil," jawab nenek dengan menatap kearah foto itu kembali. Dimana foto itu memang foto masa kecil Sheilla dan Shinta.
"Kalian tampak sangat cantik dan anggun dengan gaun yang dijahit khusus mendiang ibu kalian," ucap nenek Sheilla yang hanya bisa di tanggapi dengan senyuman oleh Sheilla itu.
"Apa nenek merindukan ibu?" tanya Sheilla yang dibalas dengan gelengan kepala oleh wanita tua tersebut.
"Nenek tidak merindukan ibumu, Sheilla, tapi nenek merindukan masa kecilmu dan masa kecil Shinta," ucap nenek sembari tangannya kini bergerak untuk membalik album foto tersebut yang memperlihatkan Sheilla tengah memangku sang adik yang sangat masih kecil itu.
"Nek kalau boleh tau, Sheilla di foto ini berapa tahun?" tanya Sheilla penasaran.
"Hmmm di foto ini kamu berusia sekitar 11 tahun."
"Kalau Shinta?"
"Shinta saat itu berusia 3 tahun. Dan foto yang ada disebelah sini adalah foto bayi Shinta. Lucu ya dia saat masih bayi," ucap nenek Sheilla dengan menunjukkan satu foto bayi yang baru lahir itu kepada Sheilla yang membuat Sheilla langsung mengingat perkataan Shinta tentang dirinya waktu itu.
__ADS_1
Dan hal tersebut membuat Sheilla menghela nafas, namun setelah ia melihat foto masa kecil Shinta, ia jadi penasaran apakah di album foto itu ada foto saat dirinya masih bayi? Jika memang ada berarti dia tidak perlu mengkhawatirkan jika perkataan dari Shinta itu benar. Tapi jika tidak ada, mungkin saat ini juga ia harus siap menanyakan tentang identitas dirinya yang sebenarnya.
"Ahhhh ya benar nek, foto masa kecil Shinta memang sangat menggemaskan. Dan nek, Sheilla juga mau dong lihat foto Sheilla saat masih bayi. Soalnya dari dulu sampai sekarang Sheilla belum pernah melihat foto Sheilla saat bayi yang membuat Sheilla jadi penasaran apakah Sheilla dulu juga imut seperti Shinta? Jadi untuk menjawab rasa penasaran Sheilla ini, Sheilla juga mau lihat foto Sheilla saat bayi. Disini ada foto bayi Sheilla kan nek?" tanya Sheilla yang justru membuat sang nenek kini terdiam membeku di tempatnya.